Religi

Perbedaan Pendapat Soal Maulid Nabi Muhammad SAW, Buya Yahya Ingatkan Hal Ini

Pendakwah Buya Yahya menjelaskan perbedaan pendapat soal maulid Nabi Muhammad SAW.

Penulis: Mariana | Editor: M.Risman Noor
capture kanal youtube Al-Bahjah TV
Buya Yahya menerangkan tentang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pendakwah Buya Yahya menjelaskan perbedaan pendapat soal maulid Nabi Muhammad SAW.

Buya Yahya merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah mengingatkan umat muslim harus bergembira menyambut rahmat dan karunia Allah SWT.

Rahmat terbesar yang diberikan Allah adalah lahirnya Nabi Muhammad SAW, sehingga makna merayakan maulid Nabi SAW adalah berarti mengagungkan Nabi SAW.

Kini masuk bulan Rabiul Awal 1444 Hijriyah yang dikenal dengan bulan maulid, bulan ketiga sistem kalender Islam.

Baca juga: Tips Lambung Tetap Sehat, dr Zaidul Akbar Ingatkan Kurangi Makanan Olahan

Baca juga: Hukum Perayaan Maulid Nabi, Ustadz Abdul Somad Jelaskan Landasan Dalilnya

Tradisi yang berkembang di Tanar Air adalah memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap masuk Rabiul Awal.

Umumnya acara maulid Nabi digelar di tempat keagamaan umat Islam, mesjid atau mushalla.

Namun ternyata ada perbedaan pendapat mengenai perayaan maulid Nabi SAW.

Menanggapi hal itu, Buya Yahya menjelaskan perayaan atau peringatan maulid Nabi Muhammad SAW adalh bentuk rasa syukur atas karunia Allah atas hadirnya Nabi Muhammad SAW ke dunia.

"Hendaknya kita bergembira atas rahmat Allah yang bernama Nabi Muhammad SAW, adapun makna merayakan adalah mengagungkan, kalau tidak mengagungkan Nabi Muhammad SAW orang tersebut keluar dari iman," jelas Buya Yahya dikutip Banjarmasinpost.co.id dari kanal youtube Al-Bahjah TV.

Mengagungkan Nabi SAW hendaknya dilakukan setiap hari, dan tidak ada salahnya mengagungkan lebih besar lagi di hari lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Kita tidak bisa setiap saat mengagungkan Rasulullah SAW dengan cara yang sama, maka dibuatlah satu acara yang lupa biar ingat yaitu acara perayaan maulid Nabi SAW.

Di dalam acara maulid Nabi umumnya menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW, hal ini disebut atau diajarkan dalam Alquran bahwa menyebut cerita Nabi terdahulu dapat menguatkan iman.

Membaca sejarah Rasulullah SAW, diajak membaca shalawat, orang berkumpul ada penceramah, ada pula sedekah, semuanya kebaikan.

"Dari sisi mana orang mengatakan itu bid'ah, kecuali orang itu salah paham, jadi Anda harus sadar jika ada yang membid'ahkan maulid Nabi itu karena dia tidak mengerti apa itu perayaan maulid Nabi atau tidak kenal Nabi Muhammad SAW," terangnya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved