Jendela
Tuhan Pun Bertanya
Kini pertanyaan kadangkala tidak lagi mendorong orang untuk berpikir, yang mengkhawatirkan, hal ini lambat laun akan membuat orang malas berpikir.
Oleh: Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - SAAT saya kuliah di awal tahun 1990-an, salah satu mata kuliah yang wajib kami ambil adalah ‘Aliran-aliran Modern dalam Islam’. Mata kuliah ini menarik karena kami didorong untuk mengkaji ide-ide baru, yang kadangkala berlawanan dengan pemikiran Islam yang sudah mapan. Saya menduga mata kuliah ini semula disarankan oleh Prof. Harun Nasution (1919-1998), sebagai respons terhadap orientasi modernisasi rezim Orde Baru.
Yang mengajar mata kuliah tersebut di kelas kami adalah Pak Laily Mansur, alumni Universitas Kairo, bidang filsafat. Dia mengajar dengan metode seminar. Setelah memberikan kuliah pendahuluan, Pak Laily mewajibkan mahasiswa untuk membuat makalah sesuai topik yang ditentukannya, kemudian dipresentasikan di depan kelas. “Setiap orang wajib menyiapkan pertanyaan,” katanya. Usai presentasi, jika kelas agak sepi dan tak ada yang mengacungkan tangan, Pak Laily akan menunjuk langsung salah seorang mahasiswa dengan lima jarinya, “Kamu, apa pertanyaanmu?” Dengan tergugup-gugup si mahasiswa itu pun mengajukan pertanyaan. Pernah juga, ada pertanyaan mahasiswa yang ngawur, dan langsung dikomentari beliau, “Itu kaya pertanyaan anak SD!”
Kala itu, kawan-kawan banyak yang gugup jika belum siap dengan pertanyaan. Hal ini antara lain memaksa kami untuk membaca dan menyiapkan diri, agar nanti bisa mengajukan pertanyaan yang berbobot. Keterpaksaan itu akhirnya membawa berkah. Perlahan-lahan kami terbiasa bertanya dan menjawab. Lambat laun kami mulai membangun rasa percaya diri. Maklum saja, waktu itu kami lebih terbiasa mendengar dan mencatat saja. Catatan itu kami simpan baik-baik, untuk kelak dibaca menghadapi ujian. Bagi yang nakal, catatan itu nanti dibawa dan dibuka sembunyi-sembunyi saat ujian! Kelas Pak Laily mengubah kebiasaan ini. Mahasiswa tidak bisa lagi hanya mencatat, tetapi harus mampu mengekspresikan pemahaman dan pemikirannya secara lisan di depan kelas.
Mengapa bertanya itu penting? Salah seorang dosen kami di Fakultas Ushuluddin, pengajar mata kuliah filsafat, Pak Bahran Noor Haira, alumni IAIN Sunan Kalijaga, suatu hari menjelaskan. Katanya, inti pelajaran filsafat adalah berpikir. Itulah hakikat manusia. Jika kita tidak lagi berpikir, maka kita kehilangan kemanusiaan kita. Hakikat berpikir itu, kata Pak Bahran, adalah bertanya. Pengetahuan berkembang karena pertanyaan. Karena itu, unsur terpenting dalam sebuah penelitian adalah rumusan masalah. Beliau juga mengatakan, Sokrates, filsuf besar Yunani, mengajar dengan cara bertanya dan bertanya, bukan berceramah. Sokrates bahkan mengatakan, pertanyaan yang diajukan lebih penting daripada jawaban yang kita berikan.
Ketika saya kuliah S-2 di McGill University, Kanada, saya mendapatkan pengalaman lain lagi. Prof. Natalie Polzer, yang mengajar metode penelitian agama, mewajibkan kami membaca buku-buku klasik karya Emile Durkheim, Max Weber, Mircea Eliade dan lain-lain. Yang unik, dia tidak hanya menyuruh kami membaca, tetapi juga memberikan pertanyaan-pertanyaan tertulis yang harus dijawab secara tertulis. Jawabannya bisa ditemukan dalam buku-buku wajib itu, dan mahasiswa harus menyebutkan di halaman berapa jawaban itu ditemukan. Dengan cara ini, mahasiswa mau tak mau harus benar-benar membaca dan memahami buku-buku tersebut. Dari Natalie Polzer, saya akhirnya belajar bahwa pertanyaan sangat baik memandu kita untuk memahami sebuah teks.
Prof. Katherine Young adalah dosen saya yang lain di McGill, yang juga mengajar dengan cara bertanya. Saya mengambil mata kuliah tematik dengannya, yaitu “Religion, Pluralism and Human Rights.” Dia telah menyiapkan puluhan artikel jurnal sebagai bacaan wajib. Kelas kami dua kali seminggu, Selasa dan Kamis. Tiap kali masuk, kami wajib menyerahkan review atas dua artikel jurnal. Namun, review itu tidak boleh asal dibuat saja, melainkan harus menjawab beberapa pertanyaan berikut: (1) Apa tesis penulis artikel?, (2) Apa saja teori yang digunakannya?, (3) Apa saja data yang ditampilkannya?, (4) Apa saja argumen-argumennya?, (5) Apa asumsi tersembunyi sang penulis? Dengan lima pertanyaan ini, saya belajar bagaimana cara membaca karya ilmiah dengan kritis.
Demikianlah kisah belajar dengan bertanya. Mahasiswa di zaman sekarang pun sama. Bedanya hanyalah soal fasilitas. Kini pertanyaan kadangkala tidak lagi mendorong orang untuk berpikir. Seorang dosen bercerita, ketika muncul pertanyaan dalam diskusi, si mahasiswa segera membuka ponsel untuk bertanya pada Google, lalu membacakannya! Mungkin kasus seperti ini tidak banyak, tetapi ada. Yang mengkhawatirkan, hal ini lambat laun akan membuat orang malas berpikir. Kalkulator membuat kita malas menghitung. Google membuat kita malas mengingat. Sarana copy-paste membuat kita malas mengarang. Semua serba instan, tanpa banyak berpikir.
Padahal, di dalam Alqur’an, Tuhan pun banyak bertanya kepada manusia, agar manusia berpikir. “Apakah kamu mengira, Kami ciptakan kamu dengan sia-sia dan kamu tidak akan kembali kepada Kami?” tanya Alqur’an. Masihkah kita mau berpikir tentang pertanyaan serius ini di era digital? (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Prof-DR-H-Mujiburrahman-MA12.jpg)