Selebrita

Amarah Ameena Imbas Ulah Atta Halilintar, Wajah Putri Aurel Dicoret

Ameena Hanna Nur Atta disebut marah karena wajahnya dicoret-coret. Ini karena ulah Atta Hallintar main aplikasi TikTok. Ini putri Aurel Hermansyah itu

Editor: Murhan
Instagram attahalilintar
Atta Halilintar ajak Ameena main filter wajah dicoret-coret, Minggu (15/1/2023). 

Psikolog klinis dari Yayasan Cintai Diri Indonesia (Love Yourself Indonesia), Alif Aulia Masfufah pun angkat bicara soal perlukah anak diberikan gadget atau dibolehkan bermain gadget sejak dini?

Menurut Aulia, jawaban dari pertanyaan "perlu atau tidaknya anak diberikan gadget?" itu variatif, bergantung dari usia si anak itu sendiri.

Aulia mencoba mengategorikan anak dalam tiga kluster, yaitu balita (1-5 tahun), usia sekolah awal (1-3 SD), dan usia sekolah akhir (4 SD dan seterusnya).

Balita sebaiknya diperkenalkan ke gadget

Bila berbicara kategori usia bayi di bawah lima tahun (balita), Aulia berpendapat, gadget menjadi barang perlu diperkenalkan, bukan diberikan.

"Kita harus menggarisbawahi, kata-kata "diberikan" dan "diperkenalkan" itu sesuatu yang berbeda. Menurut saya, kalo di usia balita, gadget akan baik bila diperkenalkan," kata Aulia saat dihubungi KompasTekno.

Dengan kata lain, anak diberi tahu soal keberadaan gadget dan fungsinya, bukan juga berarti anak sama sekali tidak boleh memegang gawai.

"Kalau pakai konsep diperkenalkan, mudahnya, 10 persen dari keseharian anak boleh belajar dari YouTube, tapi harus ada bimbingan. Sementara 90 persennya, anak harus banyak berinteraksi dengan hal-hal yang nyata (non-digital) di sekitarnya," kata Aulia.

Untuk memperkenalkan gadget, ia menyarankan agar balita selalu ditemani oleh ibu atau pengasuhnya. Gadget juga sebaiknya diperkenalkan pada jam-jam bermain si anak, bukan di jam-jam anak makan, mandi, atau ingin tidur.

Aulia mengatakan, usia anak 1-5 tahun ini adalah usia emas (golden age). Itulah alasan balita harus mengeksplorasi berbagai hal.

Mulai dari merasakan emosi (rasa takut, malu, marah dll), belajar berbicara, melatih kemampuan sensorik, motoriknya, serta kognitif, bersosialisasi dengan orang sekitarnya, dan banyak hal lainnya di luar gadget.

Orangtua juga seharusnya lebih banyak berinteraksi dengan anak balitanya. Misalnya mewarnai bersama, melakukan bongkar-pasang bersama, dan aktivitas lain yang interaktif.

Bila terlalu berlebihan memperkenalkan gadget ke balita, dikhawatirkan akan berdampak kurang baik dalam tumbuh kembang anak.

"Misalnya, mudahnya dalam aspek bicara (dampaknya) adalah keterlambatan bicara atau speech delay. Klien-klien saya yang speech delay ini, rata-rata memang dari dia bayi, sampai dia umur 4/5 tahun itu pegangannya gadget," kata Aulia.

Jadi, dengan konsep diperkenalkan, balita diharapkan tetap bisa dapat mengenal gadget dengan sehat.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved