Selebrita

Amarah Ameena Imbas Ulah Atta Halilintar, Wajah Putri Aurel Dicoret

Ameena Hanna Nur Atta disebut marah karena wajahnya dicoret-coret. Ini karena ulah Atta Hallintar main aplikasi TikTok. Ini putri Aurel Hermansyah itu

Editor: Murhan
Instagram attahalilintar
Atta Halilintar ajak Ameena main filter wajah dicoret-coret, Minggu (15/1/2023). 

Terkadang, orangtua juga suka memberikan gadget agar anak yang rewel atau tantrum menjadi tenang. Menurut Aulia, hal tersebut dapat dimaklumi karena gadget menjadi barang yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Namun, Aulia menitip pesan agar orangtua harus pintar-pintar memberikan gadget ketika anak tantrum.

"Kalo anak marah, jangan langsung dikasih gadget supaya dia bertoleransi dulu sama perasaan marahnya," kata Aulia.

"Sebab (gadget) bukan alat pengasuhan, bukan pengganti ibunya, bukan media untuk menghilangkan stres atau sedih bagi anak," tambah dia.

Menurut Aulia, kalau langsung dikasih, atensi anak akan langsung teralihkan ke gadget. Sehingga mereka dikhawatirkan tidak belajar menghadapi perasaan marahnya tadi.

Usia sekolah awal (1-3 SD)

Menurut Aulia, saat memasuki usia sekolah 7-9 tahun, biasanya masuk di kelas rendah di sekolah dasar SD (1-3 SD), orangtua sebaiknya masih menggunakan konsep memperkenalkan gadget ke anak.

Namun, Aulia tak memungkiri bahwa "keadaan" mungkin memaksa orangtua untuk memberikan gadget. Misalnya, karena anak perlu melakukan pembelajaran jarak jauh, menelepon pengasuh atau supir, dan lain sebagainya.

"Kalau ada situasi-situasi seperti itu, yang memang urgent, anak mulai bisa dikasih gadget," kata Aulia.

Selain gadget, di usia-usia ini, menurut Aulia, anak juga sudah bisa menggunakan laptop atau komputer, namun yang diletakkan di "ruang tengah".

"Sepanjang ditaruh di ruang tengah, di tempat yang semua orang bisa lihat dia main apa dan dia buka apa, nggak masalah anak mau main gadget, komputer, atau laptop," kata Aulia.

Yang pasti, anak harus mengakses gadget di tempat terbuka di bawah pengawasan orang di sekitarnya. Sebab, gadget bukan menjadi barang yang personal bagi mereka.

"Menurut saya, umur 8, 9, atau 10 tahun merupakan usia yang ideal untuk anak-anak mendapatkan HP pertamanya. Dengan catatan, orangtua juga harus bikin list kegiatan positif apa untuk mengimbangi penggunaan gadget," kata Aulia.

Ia menitip pesan, orangtua perlu mengimbangi penggunaan gadget anak dengan aktivitas fisik macam balet, sepak bola, basket, taekwondo, dan lainnya.

"Aktivitas fisik harus menjadi sebuah kebiasaan. Jangan melulu les yang mengasah kognitif, hal yang membuat dia fun juga harus menjadi bagian kesehariannya sebanyak penggunaan gadgetnya," kata Aulia.

Dengan begitu, anak diharapkan tetap memiliki keseimbangan antara dunia virtual dan realitannya.

Usia sekolah akhir (4 SD ke atas)

Bila anak sudah dikenalkan dengan gadget dan sudah menikmati dunia nyatanya, menurut Aulia, anak bakal lebih siap menggunakan gadget sebagaimana mestinya, yakni untuk mencari informasi dan memudahkan urusan kita.

Hanya saja, Aulia kembali mengingatkan, dalam kategori usia anak (1-16 tahun), gadget tetap bukan menjadi barang personal. Sehingga orangtua harus tetap memasang mode waspada. Entah dengan memberlakukan kontrak jadwal penggunaan gadget, menaruh gadget di ruang tengah, atau memasang aplikasi pengawasan di gawai.

"Menurut saya anak sudah siap setelah semua tahapan itu. Sebab kebiasaan sudah terbentuk selama 10 tahun terakhir. Sehingga gadget bisa digunakan dengan baik," pungkas Aulia.

Bila tidak mengenalkan gadget dengan cara yang bijaksana dan digunakan terlalu berlebihan, menurut Aulia, anak berisiko mengalami dampak buruk penggunaan gadget.

Misalnya seperti keterlambatan bicara (speech delay), kecanduan game (game addiction), masalah emosi, merasa kesepian, hingga kecanduan pornografi yang mengakibatkan terjadinya seks bebas.

Aulia mengatakan tidak ada panduan saklek terkait perlu atau tidaknya anak diberikan gadget. Ia hanya menggarisbawahi bahwa orangtua bakal rugi bila tidak memperkenalkan gadget ke anak. Sebab seluruh akses informasi ada di sana.

"Gadget itu bisa menjadi tools atau alat membantu mengembangkan potensi dan kepribadian anak. Tapi penggunaan gadget harus kembali pada fungsinya," kata Aulia.

"Gadget ini menurut saya bagai dua sisi mata uang. Kalo tepat digunakan, gadget bakal baik banget. Kalau salah menggunakannya, gadget bisa menghancurkan sebegitunya," pungkas dia.

Baca juga: Pernikahan Nathalie dan Faris Akan Live TV, Oma Beber Fakta Janda Sule

Baca juga: Kabar Adit Usai Batal Nikahi Ayu Ting Ting, Beda Nasib Enji Baskoro

(Banjarmasinpost.co.id/Tribun Batam)

 

Sumber: Tribun Batam
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved