Religi

Ustadz Pun Bisa Dipecat

PONDOK Pesantren (Ponpes) Modern Al Madaniyah Jaro di Desa Nalui, Kecamatan Jaro, Kabupaten Tabalong berdiri pada tahun 2000an.

Penulis: Isti Rohayanti | Editor: Edi Nugroho
camat jaro untuk bpost
Ilustrasi: Peringatan hari santri nasional digelar Ponpes Al Madaniyah Jaro Tabalong 

BANJARMASINPOST.CO.ID- Pondok Pesantren  (Ponpes) Modern Al Madaniyah Jaro di Desa Nalui, Kecamatan Jaro, Kabupaten Tabalong berdiri pada tahun 2000an.

Awalnya meminjam ruangan satu masjid di Simpang Empat Jaro, setahun kemudian pindah ke lokasi yang sekarang. Ponpes ini punya tagline atau motto, yaitu rumah ilmu dan prestasi.

Menurut pemimpin Ponpes Al Madaniyah Jaro, ustadz Murjani, selain menambah ilmu dan pengalaman, para santri bisa mengaktualisasikan diri menggali potensi diri untuk berprestasi.

Adapun pencapaian tertinggi adalah bagaimana mereka bisa menerapkan akhlakul karimah. Berakhlak kepada guru yang menjadi orangtua di pesantren dan juga kepada kawan-kawan, kakak dan adik mereka. Berikut petikan wawancara dengan ustadz Murjani.

Baca juga: Ustadz Khalid Basalamah Ungkap Hukum Wali Nikah Anak Perempuan, Singgung Ayah Kandung Masih Hidup

Baca juga: Ustadz Khalid Basalamah Urai Saudara Jadi Wali Nikah Saat Ayah Kandung Masih Hidup, Ingatkan Restu

Apa yang menginspirasi dan memotivasi Anda dalam mengelola ponpes ini?

Saya menjadi pemimpin pesantren yang pertama amanah dari orangtua. Kedua, saya waktu mondok di Barabai, HST, ikut di dalam manajemen pondok. Jadi bersama pimpinan mengembangkan pondok yang masih berusia satu tahun. Dan ikut berkiprah dalam banyak kegiatan pondok. Saya juga terinspirasi dari pimpinan pondok saat saya menjadi santri.

Konsep yang selama ini kami yakini dari sebuah hadis nabi bahwa sebaik baik manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Kami punya satu pegangan bahwasanya mengajarkan ilmu adalah posisi yang terbaik dalam hidup ini. Orang yang menuntut ilmu saja mulia di mata Allah, apa lagi yang mengajarkan ilmu.

 Apa yang paling ditekankan kepada para santri/santriwati?

Teladan yang kami ajarkan yakni jangan sampai mereka berhenti belajar. Teruslah menuntut ilmu, karena ilmulah yang membawa kita ke dalam kebaikan dan mengubah hidup kita. Maka terus belajar, baik secara formal, perkuliahan atau belajar dari orang tua dan mengambil pengalaman orang lain.

Keteladanan yang kedua, menjadi pemimpin .Mengajarkan jiwa yang lapang, jiwa yang besar, teguh dan kuat, berbuat sesuatu dan berpikir sesuatu untuk orang banyak bukan diri pribadi. Jadi kuncinya adalah tanggung jawab dan kebersihan kita bekerja dengan kebesaran hati dan kebesaran jiwa, sehingga permasalahan besar menjadi kecil.

Apa motivasi yang disampaikan dalam mengajarkan suri teladan tersebut?

Pertama adalah karena bukti pengabdian kepada Allah SWT. Kita meyakini dengan ayat Al-Qur’an, bahwasanya apa bila kita menunjukkan sesuatu yang baik dan ditiru orang lain, maka kita mendapatkan pahala sama seperti orang yang mengerjakan itu.

Bagaimana menangani santri yang tidak menerapkan teladan yang diajarkan?

Di pesantren ada aturan khusus, yang dipatuhi oleh seluruh warga pondok. Mereka mendapatkan teguran, kemudian sanksi disiplin. Lalu terberat adalah dikeluarkan dari pesantren, karena dinilai tidak bisa beradaptasi dengan aturan pondok. Lalu para ustadz yang melanggar peraturan dan sudah dinilai tidak bisa beradaptasi dengan pekerjaan, kewajiban tata aturan pesantren, mereka juga mendapat sanksi yang sama.

lPara era ini, tentunya santri pun tidak lepas dari tekhnologi, bagaimana menyikapi ini?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved