Fikrah
Apa Itu Asyura?
Bertepatan pada hari Asyura: Allah menciptakan Arsy, langit, bumi, matahari, bulan, bintang-bintang dan surga.
Oleh: Ketua MUI Provinsi Kalsel, KH Husin Naparin Lc MA
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Asyura adalah hari kesepuluh bulan Muharram.
Dalam sebuah atsar yang dicatat oleh Imam Al Gazali dalam kitab Mukasyafah al Qulub al Muqarrib Min ‘Allam al Guyub” bahwa bertepatan pada hari Asyura: Allah menciptakan Arsy, langit, bumi, matahari, bulan, bintang-bintang dan surga.
Pada hari ini pula Allah SWT menciptakan Adam AS, dimasukkan dalam surga dan Adam yang pernah tersalah bertaubat juga pada hari Asyura.
Pada hari Asyura, nabi Idris AS diangkat ke tempat yang tinggi, perahu nabi Nuh AS merapat di bukit judi, nabi Ibrahim AS dilahirkan dan pada hari itu pula ia selamat dari api unggun.
Pada hari Asyura nabi Yusuf AS dikeluarkan dari penjara dan pada hari itu pula mata nabi Yakub a.s. yang rabun dan buta karena menangis kehilangan nabi Yusuf disembuhkan.
Pada hari Asyura pula selamatnya nabi Musa dan pengikutnya dari kejaran Fir’aun, dan pada hari itu Fir’aun bersama pengikutnya hanyut ditelan air.
Pada hari Asyura nabi Sulaiman a.s. diberikan kerajaan yang besar, selamatnya nabi Yunus AS dari perut ikan, dilahirkannya nabi Isa AS dan pada hari itu pula ia diangkat ke langit.
Begitu banyak keutamaan yang terjadi bertepatan dengan hari Asyura, lalu Rasulullah SAW menyuruh umatnya berpuasa; sabdanya “Puasa hari Asyura menghapuskan dosa satu tahun yang lewat.” (HR. Muslim).
“Siapa yang ingin berpuasa, berpuasalah.” (HR. Muttafaq alaih).
Dia bersabda pula “Barang siapa yang melapangkan keluarga dan familinya pada hari Asyura, niscaya Allah melapangkannya sepanjang tahun.”
Puasa Asyura baik sekali selama tiga hari, yaitu sehari sebelum hari Asyura dan sehari sesudahnya, hal ini agar tidak sama dengan orang-orang Yahudi yang juga berpuasa pada hari Asyura.
Di samping keutamaan-keutamaan tersebut, terdapat lembaran hitam yang pernah terjadi juga bertepatan dengan hari Asyura, yaitu dibantainya Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah SAW bersama pengikut dan keluarganya di Padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Mu’awiyah, putera Muawiyah bin Abu Sufyan.
Peristiwa ini menimbulkan rasa kagum terhadap Husein, terutama dari kalangan keluarga Alawiyin dan simpatisan mereka, disamping menumbuhkan rasa haru di hati, sehingga peristiwa itu diperingati mula-mula secara sederhana, yaitu dengan berziarah ke tempat peristiwa berdarah itu terjadi.
Namun lama-kelamaan peringatan dilakukan secara besar-besaran, dijadikan hari berkabung dan memperbanyak bersedekah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ketua-MUI-Kalimantan-Selatan-KH-Husin-Naparin-jumat-28072023.jpg)