Guru Botaki Kepala Siswa
Pemicu SMP Negeri 1 Sukodadi Datangkan Psikiater Pasca Oknum Guru Botaki 19 Siswi, Menangis
Pemicu pihak SMP Negeri 1 Sukodadi mendatangkan psikiater pasca oknum guru membotaki 19 siswi yang melanggar aturan terungkap.
BANJARMASINPOST.CO.ID - Pemicu pihak SMP Negeri 1 Sukodadi mendatangkan psikiater pasca oknum guru membotaki 19 siswi yang melanggar aturan terungkap.
Munculnya kasus di SMP plat merah ini bermula saat belasan siswi yang berjilbab tidak mengenakan dalaman sehingga rambutnya kelihatan.
Hanya karena itu yang membuat ubun-ubun si guru memanas dan melakukan tindakan eksekusi membotaki siswinya.
Terungkap nasib kejiwaan 19 siswi yang kepalanya dibotali oleh seorang oknum guru.
Baca juga: Kondisi Terakhir Wanita Asal Tangerang yang Disiram Air Keras di Halte, Luka Bakar Hingga 45 Persen
Baca juga: Intip Keseharian Panglima Jilah yang Tampil Garang di Depan Publik, Ternyata Gemar Koleksi Benda Ini
19 siswi di Lamongan dibotaki oleh Bu Guru yang menghukum mereka agar tak melanggar peraturan.
Namun belakangan, hukuman tersebut mendapat sorotan karena dianggap sangat keras.
Apalagi berkaitan dengan penampilan para siswi yang seluruhnya adalah perempuan.
Pengakuan Kepsek akhirnya terungkap, dirinya menangisi momen pertemuan antara Bu Guru dan para orang tua seusai kejadian berlangsung.
Apa yang terjadi di SMP Negeri 1 Sukodadi bagi Munif harus menjadi pembelajaran bagi semuanya.
Bagaimana siswa yang menjadi korban arogansi si guru ? para siswi tetap masuk sekolah dan mengikuti proses belajar mengajar seperti biasa.
Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Sukodadi, Harto kepada Tribun Jatim Network akhirnya memastikan sudah tidak ada masalah dalam kasus yang belakangan ramai disoroti itu.
Bahkan saat dilakukan mediasi, antara ibu-ibu wali murid dengan sang guru ikhlas saling memaafkan.
Kepsek mengaku menangis ketika ada dalam momen pertemuan orang tua murid dan oknum guru.
Baca juga: Info Gempa Bumi Terkini Hari Ini, Seram Bagian Timur Bergetar Dampak Kekuatan Magnitudo 3.7

"Saya sampai meneteskan air mata , ketika menyaksikan mereka berangkulan saling memaafkan," kata Harto.
Harto juga mengungkapkan betapa dirinya terharu dengan para orang tua atau ibu-ibu wali murid.
19 siswi yang dibotaki oleh Bu Guru itu ternyata memiliki orang tua yang besar hati.
Bahkan ibu-ibu wali murid menyatakan jika mereka merasa memiliki lembaga sekolah dimana anak mereka belajar.
Guru Lamongan Botaki 19 Siswi Berhijab karena Tak Pakai Ciput, Kasek Datangi Rumah: Terlalu Sayang
Ketika pagi ada masalah, sore pihak sekolah sudah ketemu dengan pihak wali murid.
Pada pagi harinya, 24 Agustus ditindak lanjuti mediasi dengan semua belasan ibu wali murid, guru dan pihak lembaga.
"Ini sudah tidak ada masalah. Damai," kata Harto.
Munculnya kasus di SMP plat merah ini bermula saat belasan siswi yang berjilbab tidak mengenakan dalaman sehingga rambutnya kelihatan.
Hanya karena itu yang membuat ubun-ubun si guru memanas dan melakukan tindakan eksekusi membotaki siswinya.
Salah satu siswa, Salsabilah Adinda, mengakui tidak ada masalah.
Bahkan ibu-ibu wali murid, menurut Salsabilah sudah dipertemukan.
"Sudah pertemukan dengan kepala sekolah, ibu guru (REN) dengan ibu-ibu wali murid dan saling memaafkan," kata Salsabila .
Kepala Dinas Pendidikan Lamongan Munif Syarif menambahkan, persoalan itu telah diselesaikan secara kekeluargaan melalui mediasi yang difasilitasi pihak sekolah.
"Sudah dilakukan mediasi, berakhir secara kekeluargaan. Pihak sekolah langsung menggelar mediasi itu sehari usai kejadian," kata dia.
Soal nasib kejiwaan 19 siswi itu akhirnya pihak sekolah juga segera bertindak agar tak merugikan para siswi.
Menurutnya, sekolah juga memberikan pendampingan psikologis pada para siswa.
Tentu saja, kejiwaan para siswi yang menjadi korban pembotakan itu ada yang tak baik-baik saja.
"Pihak sekolah juga menyediakan psikiater untuk pendampingan bagi para siswi (yang sempat menjadi korban pembotakan)," tutur Munif.
Mediasi yang dilaksanakan usai insiden siswi dibotaki di SMPN 1 Sukodadi, Lamongan, Jawa Timur.
Kasus guru botaki 19 siswi kelas IX SMP Negeri 1 Sukodadi direspon Kepala Dinas Pendidikan Lamongan, Munif Syarif.
Munif tidak mengelak dengan insiden yang dilakukan oleh oknum guru, R.R Endang Widati Poedjiastoeti pada 23 Agustus lalu.
"Kita sudah tarik dan stafkan di Diknas, tidak lagi mengajar," kata Munif saat dikonfirmasi SURYA, Selasa (29/8/2023) siang.
REP, kata Munif, sementara sebagai staf di Diknas Lamongan dalam rangka pembinaan. Jadi tidak ada jabatan atau non job.
Rambutnya Meski Botak Setelah Kemoterapi, Tangis Pecah saat Ceritakan Rasa Sakit
Menurut Munif, seharusnya yang menindak siswa itu menjadi tanggungjawab guru bimbingan konseling (BK) bukan guru mata pelajaran.
Ia menyayangkan tindakan guru tersebut.
Sedangkan oknum guru yang menurut Munif dalam proses pembinaan belum bisa dipastikan sampai kapan.
"Sementara ini kita stafkan," katanya.
Menyikapi siswa, guru berkewajiban memperbaiki karakter anak didik. Dan menciptakan proses belajar anak itu menyenangkan.
Memang banyak guru yang kewalahan menghadapi kenakalan para murid, seperti yang dialami oleh seorang guru ini.
Tetapi diharapkan, hukuman yang diberikan tidak sekejam kejadian di atas.
Sang guru dari Malaysia tersebut dibuat pusing dengan jawaban tak terduga yang tertera di lembar jawaban ujian tulis para siswanya.
Sontak guru itu tak bisa menutupi ungkapan kesedihan sekaligus kekhawatirannya terhadap murid-muridnya tersebut.
Bagaimana tidak, banyak siswa menjawab remeh soal-soal ujian tulis.
Dilansir dari Tribun Style, Sabtu (26/8/2023), curhatan viral ini bermula ketika guru mengunggah video di media sosial.
Dalam video yang beredar tersebut memperlihatkan salah satu siswanya menjawab soal ujian dengan menulis jawaban tak terduga.
Alih-alih menjawab dengan benar, siswa tersebut hanya menulis 'karena boleh' di kolom jawaban.
"Pertanyaannya, 'kenapa di Malaysia dibangun jalan tol?'
Anak ini menjawab 'karena boleh' Haishhhh pusing..pusing," keluh sang guru.
Video tersebut menjadi viral dan menarik perhatian guru-guru yang lain.
Mereka juga menyatakan keprihatinannya terhadap budaya yang semakin 'subur' di kalangan siswa.
Ada yang mengaku lelah menjadi guru karena siswa yang menganggap remeh pelajaran.
Sementara yang lain ada juga yang ingin menyerah hingga membuatnya frustasi.
"Saat siswa menjawab 'karena kamu bisa jadi guru' di kelas dan di ulangan. Sepupuku sudah menangis karena merasa kelelahan . Ketika anak-anak banyak mengonsumsi media sosial tanpa filter, perlahan ketidaktahuan datang untuk menyapa," tulis salah satu warganet.
Selain itu, seorang pengguna Twitter juga mengakui hal serupa hingga merasa ingin menyerah jika siswa menganggap remeh pelajaran.
"Kejadian sama kayak aku, tahun kemarin trendnya 'kamu nanyakkk?'. Dan pas tanya jawab pasti ada cowok yang jawab 'kamu nanyakkk?' trus terbawa sama jawaban yang sama di ujian . Ya Allah bikin frustasi banget . Kalau diikuti mau dihilangkan karena orang tahu salah kalau sudah selesai, jangan sampai digugat!" komentar dari warganet yang berprofesi sebagai guru.
"Rasanya mau nangis. Aku ngajar gila-gilaan setiap hari, pas ujian kertas masih kosong! Ya Tuhan, semoga aku bisa bergerak. Tak ada kepuasan sama sekali menjadi guru di sekolah ini selama bertahun-tahun. Nggak bisa minta pindah. Pengen banget pasrah. Kayak mau berhenti jadi guru," komentar guru yang lain.
“Saat ini para pelajar sangat minim akal sehatnya soal sopan santun. Kadang mereka bahkan tidak tahu apa yang mereka lakukan sebenarnya tidak sopan. Aku capek patah semangat, aku bisa menegur sebisaku."
“Maaf ya, tapi menurut saya pengaruh TikTok, media sosial, dan lingkungan sekitar para pelajar membuat mereka seperti itu,” ujar salah satu komentar warganet.
TribunJatim.com
Momen pertemuan Bu Guru yang botaki 19 siswi dan dipertemukan dengan orang tua para siswi di Lamongan.
Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Kondisi Kejiwaan 19 Siswi di Lamongan Dibotaki Bu Guru, Kepsek Tangisi Sikap Para Orang Tua: Saling,
Satu Pemicu 19 Siswi SMP di Lamongan Jadi Trauma Usai Dibotaki Oknum Guru, Dihadiri Orangtua |
![]() |
---|
Pasca Guru SMPN 1 Sukodadi Lamongan Botaki 19 Siswi Gara-gara tak Pakai Ciput, LBH: Kekerasan Fisik |
![]() |
---|
Terungkap Sosok Asli Guru Botaki Rambut 19 Siswi SMP di Lamongan, Langsung Mendapat Kecaman |
![]() |
---|
Motif Asli Oknum Guru Lamongan Sampai Botaki 19 Kepala Siswi, Gara-gara Soal Kerudung |
![]() |
---|
Hukuman untuk Ibu Guru di Lamongan yang Botaki 19 Siswi, Harusnya Tugas Bimbingan Jonseling |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.