Berita Banjarbaru

Kisah Relawan Hadapi Karhutla Pengayuan Banjarbaru, Hendra Sudah 3 Bulan Tidur di Teras

Hendra (37) warga sekaligus Ketua RT 2, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalsel, saat  memadamkan api Karhut

Tayang:
Penulis: Muhammad Rahmadi | Editor: Edi Nugroho
Hendra untuk Banjarmasinpost.co.id
Hendra (37) warga sekaligus Ketua RT 2, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalsel, saat bertugas memadamkan api Karhutla 

BANJARMASINPOS.CO.ID-Waktu menunjukkan pukul 01.00 Wita, Hendra warga Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Lianganggang, Kota Banjarbaru sedang tidur di teras rumahnya.

Seketika pria 37 tahun ini terbangun, saat mendengar suara warga meminta bantuan untuk memadamkan api. Bergegas Hendra pun menuju titik api.

Saat di perjalanan, yang terlintas dibenaknya hanya ingin segera sampai dan secepatnya memadamkan api. Sementara anak istrinya sedang tidur di rumah.

Hendra menyadari, dalam kondisi kurang pencahaan di malam hari dapat membahayakan keselamatannya sendiri.

Baca juga: Penanganan Bencana Kabut Asap

Baca juga: Kapan Kabut Asap Berakhir?

Namun perasaan takut itu hilang seketika, kala kobaran api Karhutla menyala merah, hampir mengenai rumah-rumah warga.

Benar saja, pria yang juga Ketua RT 2 ini ketika itu nyaris terjatuh ke dasar sumur, beruntung ia masih selamat karena sempat merentangkan kedua tangannya pada bagian dinding sumur.

Ya, Hendra selalu menjadi orang pilihan warga, ketika mereka mengalami kesulitan dilanda bencana dan musibah.

Sebab menurut ayah tiga anak tersebut, bisa menolong warga yang sedang kesusahan menjadi kebahagaian tersendiri. “Bagi saya ini adalah hal yang luar biasa. Sedih sendiri kadang, bila tidak bisa menolong warga yang sedang dilanda musibah,” katanya, Kamis (28/9).

Tidak hanya sekedar rela membagi waktunya bersama keluarga, tenaga hingga materi telah ia keluarkan selama tiga bulan terakhir hanya untuk terjun memadamkan Karhutla. “Sudah tiga bulan tidur di teras rumah, supaya warga tidak segan kalau minta bantuan malam-malam,” ujarnya.

Badan pegal karena setiap hari harus terjun ke lapangan untuk memadamkan Karhutla, sudah biasa baginya.

Baca juga: Tiga Kepala Dinas di Pemko Banjarmasin Dilantik, Jabatan Kadis PKP akan Dilelangkan

Baca juga: Kata Bojan Hodak soal Kondisi Pincang Persib saat Lawan Persita, Ciro Alves cs Diwanti-wanti

Bahkan Hendra mengaku hanya bisa tidur satu jam belakangan ini, di samping dana yang sudah ia keluarkan untuk biaya operasional.

Hendra mengaku selama tiga bulan terakhir, lebih kurang Rp 8 juta sudah uang tabungannya digocek, hanya untuk membeli BBM dan perbaikan mesin alkon. Belum lagi biaya-biaya pengeluaran lainnya.

Bayangkan, satu alkon bila diisi full BBM memerlukan biaya Rp 150 Ribu, sedangkan biaya perbaikan bisa mencapai Rp 200 ribu, tergantung tingkat kerusakan. “Kami total punya empat alkon, setiap hari semuanya diturunkan, karena bayak warga yang minta tolong,” ujar Ketua Pengayuan Rescue tersebut.

Tanpa malu-malu, Hendra mengaku sering ngutang BBM ke kios-kios warga agar mesin alkonnya bisa menyemburkan air.

Beruntung kondisi itu ujar Hendra dipahami oleh warganya. “Selesai pemadaman, saya bayar langsung. Kalau enggak bisa lunas, dicicil sedikit-sedikit,” ucapnya.

Meski demikian pria kelahiran Banjarbaru itu tetap bersyukur, masih ada orang-orang baik yang turut membantunya. Terlebih lagi, sang istri yang memahami keadaan dan kondisinya di lapangan. “Keluarga di rumah memahami, bahkan mereka mendukung apa yang saya lakukan demi membantu orang lain,” terang Hendra. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Rahmadi)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved