Moms n Kid

Game E-Sport Setelah Selesai Belajar

Aqmaar Mohammad Siraaj, bocah yang baru lulus dari SDN Muhammadiyah 8 Banjarmasin, adalah praktisi e-sport yang berbakat.

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
banjarmasin post
Aqmaar Mohammad Siraaj 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BPOST - Penggunaan smartphone saat ini tidak semata untuk alat telekomunikasi tapi juga sarana hiburan, bermain dan berolahraga. Salah satu olahraga yang lagi tren adalah e-sport (electronic sport).

Apakah e-sport sama dengan game online? Serupa tapi tak sama. Persamaannya adalah sama-sama bermain game. Tetapi ada pembeda yaitu dalam hal waktu bermain.

Cabang olahraga e-sports menjadi kanal dari game online untuk mengoptimalkan sisi positif dari game dan meminimalisir dampak negatif.

Aqmaar Mohammad Siraaj, bocah yang baru lulus dari SDN Muhammadiyah 8 Banjarmasin, adalah praktisi e-sport yang berbakat.

Kelahiran 27 November 2012, anak dari pasangan Gessy Mayriris Pasaribu SH MH dan DR dr HM Syarif Hidayat SpBFICS ini menjadikan e-sport sebagai hobi. "Ia sampai berani bertanding dengan orang luar macam dari Jakarta. Bahkan pernah mengalahkan," ujar Gessy, sang ibu.

Berbeda dengan game online, maka e-sport ada batasan waktu dalam bertanding. Dengan demikian Aqmaar dapat membatasi diri menggunakan gadget.

"Dia juga tidak menggunakan gadget, sebelum menyelesaikan tugas sekolah dan menuntaskan jam belajar di rumah, Aqmaar juga anak yang tanggap," kata Gessy.

Ya, hobi e-sport tidak membuat Aqmaar lupa dengan belajar dan juga membaca Al-Qur’an. Selain itu juga ia tetap bersosialisasi dengan anak-anak lain di kompleks perumahan tempat keluarganya tinggal.

"Saya tetap ajarkan dia bersosialisasi, apakah itu bermain di lapangan bola kompleks, juga ikut pengajian supaya tahu dengan lingkungan sekitar," papar Gessy.

Aqmaar yang akan masuk SMP, menurut Gessy akan disekolahkan ke SMP negeri, berbeda dengan SD-nya yang sekolah swasta.

Alasan sekolah di SMP negeri adalah terkait dengan pembentukan karakter anak agar bisa bergaul dengan anak-anak dari berbagai status sosial.

"Supaya dia bisa melihat tidak hanya ke atas tapi juga ke bawah. Dengan begitu ia bisa bergaul dengan siapa saja," tukas Gessy.

Dia juga bersyukur bahwa didikan di rumah dan di sekolah dasar membuat adabnya bagus dan agamanya juga bagus. (salmah saurin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved