Serambi Ummah

Gapai Haji Mabrur, Beristighfar dan Perbanyak Amalan Kebaikan

Kata mabrur juga dijelaskan dalam kamus Al Munawwir Arab-Indonesia yang bermakna ibadah haji yang diterima pahalanya oleh Allah SWT.

Penulis: Salmah | Editor: Mariana
Dok BPost
Ustadz Suriani 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Musim haji 1445 Hijriah segera berakhir. Jemaah haji segera pulang ke negara masing-masing.

Untuk Indonesia pemulangan gelombang I dari Jeddah ke Tanah Air pada 22 Juni-03 Juli 2024.
Semua yang berhaji tentunya berharap mendapatkan haji yang mabrur.

Dalam bahasa Arab, al mabrur berasal dari kata al birru. Al birru artinya kebaikan atau kebajikan. Dengan begitu, al hajjul mabruru adalah haji yang diberikan kebaikan dan kebajikan.

Kata mabrur juga dijelaskan dalam kamus Al Munawwir Arab-Indonesia yang bermakna ibadah haji yang diterima pahalanya oleh Allah SWT. Hal ini sejalan dengan pendapat beberapa ulama.

Menjadi haji mabrur merupakan harapan bagi umat muslim ketika menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Haji mabrur memiliki sejumlah keutamaan yang sangat baik untuk kaum muslim.

Baca juga: Istikamah Berdakwah Tiru Teladan Nabi SAW, Hal Ini Sebaiknya Dilakukan

Baca juga: Cerita Mahroji Hidayah Pendiri Ponpes Syaikh Abdul Qadir Al Jilani Banjarbaru: Berbekal Bismillah

Sriyanti, satu warga Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, berhaji beberapa tahun lalu. Menurut dia, mabrur itu segala kebaikan yang didapat selama menjalani ibadah haji.

“Pastinya adalah bagaimana kita mengerjakan rukun haji dan menjauhi apa saja yang dilarang terutama saat berhaji,” ujar dia kepada Serambi UmmaH.

Haji yang mabrur, lanjutnya, bukan hanya selama prosesi ibadah. Tidak kalah penting sesudahnya dalam kehidupan sehari-hari. “Lisannya semakin terjaga. Senang mempererat silaturahim dan menuntut ilmu agama,” ucap Sri.

Selain itu, imbuhnya, gemar salat berjemaah dan bersedekah. Hatinya khusyuk karena selalu mengingat Allah, menyadari bahwa dia selalu dalam pengawasan-Nya.

“Ikhlas menerima keadaan apa pun ketika seorang muslim mengalami kerugian, masalah fisik, atau keuangan,” tuturnya.

Juga meninggalkan dosa yang biasa dia lakukan sebelumnya. Menjauhi orang-orang yang memberikan pengaruh buruk dan menjalin persahabatan dengan orang-orang saleh.

“Mengamalkan amalan-amalan wajib bagi seorang muslim, karena memikirkan kehidupan di akhirat kelak,” kata Sri.

Secara terpisah, Rully, warga Kota Banjarmasin, menuturkan, haji adalah ibadah yang berat. Tak hanya secara fisik harus prima, tapi juga secara hati harus mantap pada niat.

“Beratnya itu adalah bisikan setan yang berusaha membelokan tujuan berhaji agar dilihat orang, dipuji orang, dihormati dan disegani orang,” paparnya.

Akibat terpengaruh bisikan setan itu, maka akan timbul perasaan takabur dan sombong karena niat beribadah haji yang hanya karena Allah telah bergeser ke penghormatan dari manusia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved