Serambi Ummah
Gapai Haji Mabrur, Beristighfar dan Perbanyak Amalan Kebaikan
Kata mabrur juga dijelaskan dalam kamus Al Munawwir Arab-Indonesia yang bermakna ibadah haji yang diterima pahalanya oleh Allah SWT.
“Untuk menangkal pengaruh dari bisikan setan itu, maka kita harus sering beristighfar dan buang jauh-jauh bisikan setan tersebut,” tandasnya.
Diketahui, rangkaian ibadah haji terdiri atas rukun haji dan wajib haji dilakukan sejak tiba di Tanah Suci tanggal 8 Zulhijah hingga 13 Zulhijah. Rangkaian itu meliputi berpakaian ihram, mengambil miqat, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, melempar jumrah, tawaf, sai dan tahalul.
Dalam rangkaian prosesi haji tersebut dikenal pula istilah “Armuzna”, singkatan dari tiga lokasi penting dalam fase puncak ibadah haji yakni Arafah, Muzdalifah dan Mina. Rangkaian prosesi di tiga lokasi ini sering dianggap sebagai titik krusial dalam rangkaian ibadah haji karena tidak jarang jemaah haji jatuh sakit karena kelelahan.
Kuncinya Jaga Hati
Ustadz Suriani menuturkan, menurut para ulama, ada tiga golongan haji, yaitu mabrur, maqbul dan mardud. Golongan istimewa yaitu haji mabrur karena balasannya adalah surga. Sedangkan haji maqbul ibadahnya diterima tapi tidak dijamin dibalas surga. Haji mardud adalah haji yang ditolak.
Menurut Nabi Muhammad SAW, seorang haji dikatakan mabrur adalah tergantung dari penilaian Allah SWT. Memberikan makna dan menebarkan kedamaian. Keimanan dan ketakwaan kepada Allah semakin meningkat.
Bagaimana meraih haji mabrur? Ikhtiarnya diperoleh dengan jalan memahami ajaran agama secara baik, khususnya masalah haji.
Pastikan rezeki halal, perbanyak ibadah. Sebelum berangkat haji wajib memastikan terlaksananya syarat, rukun dan wajib haji, sunah haji juga harus dipahami. Tinggalkan yang haram.
Cara lain supaya predikat haji mabrur dapat diraih adalah mengatur dan menjaga hati, menunaikan ibadah dengan uang halal. Bersedakah kepada fakir miskin saat berhaji.
Rasulullah SAW adalah sumber teladan yang paling utama dalam mekaksanakan ibadah haji. Sabda beliau,”Tidak balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur, kecuali surga” (HR Muslim).
Firman Allah SWT: Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan syiar Islam (agama) Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa’i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka Allah Maha Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah ayat 158). (dea)
| Ulama Idealnya Tidak Meminta, Ustadz H Abdul Hafiz Ungkap Rahasia Jaga Keikhlasan |
|
|---|
| Membantu Tak Harapkan Imbalan, Ustadz Hadi Purwanto Pegang Prinsip Pandai Bersyukur |
|
|---|
| Hukum Jasa Makelar dalam Islam, Ustadz Abdul Karim Ingatkan Syariat Jual Beli |
|
|---|
| LGBT Bukan Fitrah Manusia, Jelas Haram, Ustadz Zulkifli : Penyimpangan dan Dosa Besar |
|
|---|
| Hukum Biaya Tukar Uang, Ustadz Musthofal Fitri : Bedakan Nilai Tukar dan Upah Jasa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ustadz-Suriani55.jpg)