BFocus Economic

Warga Heran Elpiji 3 Kg Kosong di Pangkalan Tapi Banyak Dijual di Warung

Awar, satu warga Kelurahan Sungai Lulut Kota Banjarmasin, menuturkan, saat warga susah cari elpiji 3 kg di pangkalan, di warung-warung malah ada

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: Mulyadi Danu Saputra
banjarmasin post
MENUMPUK - Elpiji 3 kg yang menumpuk di satu warung di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Seperti biasa, tepat pukul 00.00 tiap awal bulan, pemerintah mengumumkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji, baik subsidi maupun nonsubsidi.


Untuk Juli 2024, alhamdulillah tidak mengalami kenaikan atau sama dengan bulan sebelumnya.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting menyampaikan, harga elpiji 5,5 kg dan 12 kg pada bulan ini belum ada perubahan atau masih sama dengan Juni 2024.


Sekadar informasi, harga elpiji nonsubsidi di Kalimantan adalah 5,5 kg Rp 97 ribu dan 12 kg Rp 202 ribu. Berlaku di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Untuk Kalimantan Utara elpiji 5,5 kg 107 ribu dan 12 kg Rp 229 ribu per tabung.


Terlepas dari kabar baik itu, ketersediaan stok dan harga elpiji 3 kg masih menjadi pertanyaan sejumlah masyarakat. Sebab mereka merasakan masih sulit mendapatkan gas melon tesebut dan kalaupun ada, harganya mahal. Padahal harga eceran tertinggi di pangkalan Rp 18.500 per tabung.


Namun kenyataan di lapangan tidak seperti itu. Sering warga terpaksa membeli dengan harga dua lipat, bahkan lebih. Awar, satu warga Kelurahan Sungai Lulut Kota Banjarmasin, menuturkan, saat warga susah cari elpiji 3 kg di pangkalan, di warung-warung malah ada barangnya.


"Saya bingung, banyak warga yang berhak tidak mendapatkan jatah elpiji 3 kg. Malah ada penjual (warung) bisa dapat membeli beberapa tabung," ungkapnya. Awar pun mempertanyakan, apakah para pedagang memang boleh membeli di pangkalan elpiji seperti halnya masyarakat?


Hal senada disampaikan Ami, warga Jalan Hasan Baseri Banjarmasin, yang juga mengeluhkan ketersediaan elpiji 3 kg. "Saya jelas melihat pedagang pentol yang antre. Tapi karena terlalu panjang antreannya, saya malah kehabisan dan tidak mendapatkan jatah," ujar dia.


Uza, warga Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, juga kebingungan karena tidak dapat jatah elpiji. Dia terpaksa harus beli di warung, yang harganya terlalu mahal. "Saat lagi murah harga Rp 28 ribu. Tapi saat lagi sulit didapat, harganya sampai Rp 35 ribu," keluhnya. (banjarmasinpost/salmah saurin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved