Berita Tabalong

Mengenal Tradisi Makan Batalam di Banua Lawas, Anang Sebut untuk Ajarkan Manusia Tidak Serakah

Makan bersama dengan menu sama dalam satu nampan sambil duduk lesehan, menjadi tradisi yang masih bisa ditemui di Kecamatan Banua Lawas

Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Dony Usman
Tradisi Makan Batalam Meriahkan Gebyar Maulid di Lapangan 17 Mei Banua Lawas Tabalong, Kamis (3/10/2024). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Makan bersama dengan menu sama dalam satu nampan sambil duduk lesehan, menjadi tradisi yang masih bisa ditemui di Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong.

Tradisi tergolong unik yang sudah dilakukan masyarakat setempat secara turun-temurun ini dinamakan dengan makan batalam.

Ini karena menu yang disajikan ditaruh dalam talam atau nampan seng ukuran besar berisikan lauk yang biasanya satu ekor itik pangggang  dibelah dua.

Tidak itu saja. Sajian juga ada ditambah dengan satu mangkok kuah sop, satu porsi mie campur hati dan dilengkapi irisan jeruk serta cabai.

Di Kecamatan Banua Lawas, makan batalam ini kerap digelar masyarakat yang ada di Desa Hapalah, Desa Bangkiling Raya, dan juga Desa Bangkiling.

Kepala Desa Hapalah, H Anang Acil, mengatakan, tradisi makan batalam ini sudah ada sejak nenek moyang mereka dan sampai saat ini masih tetap eksis dilaksanakan masyarakat. “Biasanya dalam menyambut bulan Rabiul Awal atau memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW,” ujar Anang Acil.

Diceritakannya, konon tradisi ini bermula dari adat kerajaan Banjar untuk menyambut tamu-tamu agung atau tamu-tamu istimewa yang berkunjung ke kerajaan. 

Apalagi makan batalam ini juga merupakan adat Timur Tengah yang dibawa para ulama yang belajar di sana dan kembali ke tanah air untuk mengajarkan ilmunya pada masyarakat.

“Makan batalam adalah istilah untuk makanan yang dihidangkan dalam talam atau nampan,” ujarnya.

Sedangkan menu utamaya  terdiri dari 1 ekor ayam atau itik 1 ekor yang dipotong menjadi dua bagian dengan diolah menjadi masak bararagi atau panggang.

Hidangan ini bisa disantap untuk empat sampai enam orang sambil duduk lesehan secara bersama-sama.

Biasanya nampan-nampan berisi hidangan akan disuguhkan di akhir rangkaian acara peringatan Maulid Nabi Muhammad. 

Pelaksanaannya sendiri hingga sekarang lebih banyak dipusatkan di langgar-langgar atau juga masjid yang ada di desa.

Anang Kacil mengungkapkan makan batalam ini bukan hanya sebuah tradisi biasa, tapi banyak makna yang bisa dipetik dari pelaksanaannya. Misalnya, lewat tradisi makan batalam ini maka akan menjaga tali silaturahmi karena warga akan dapat saling mengenal satu sama lainnya.

Kemudian dengan pelaksanaan yang dilakukan secara bersama-sama tentunya juga mengajarkan nilai gotong-rotong dan saling bantu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved