Berita Banjar

Tidak Pakai Raport Untuk Penerimaan Jalur Prestasi Untuk SPMB 2025, Ini Kata Kepsek dan Ortu Siswa

Pada SPMB 2025 baik jenjang Sekolah Dasar (SD), SMP dan SMA bakal tidak lagi mempertimbangkan nilai rapot peserta didik untuk jalur prestasi

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Irfani Rahman
Dok BPost
TES HAPALAN - Tahfiz menjalani tes mengenai hafalan Al-Qur’an saat PPDB di SMAN 1 Martapura, Kota Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan ketika 2024 silam.  

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA -Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 baik jenjang Sekolah Dasar (SD), SMP dan SMA bakal tidak lagi mempertimbangkan nilai rapot peserta didik untuk jalur prestasi

Itu ditegaskan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Medikdasmen RI, Abdul Mu'ti. 

Sebagai gantinya adalah nanti akan ada Tes Kemampuan Akademik (TKA). 

Menanggapi hal tersebut, Kepala SMPN 1 Martapura, Yatim Dwi Margono, juga baru mendengar kebijakan baru tersebut. 

"Yang jelas SPMB SMPN 1 Martapura, akan mengikuti Petunjuk Teknis (Juknis) yang terkini termasuk Jalur Prestasi," kata Yatim Dwi Margono, Jumat (7/3/2025). 

Disampaikan Yatim Dwi Margono, kalau jika itu diterapkan perlu persiapan. Sebab bukan hanya dari jenjang SD mau masuk ke SMP, tapi peserta didik kelas XII juga musti dipersiapkan dan disosialisasikan hal itu. 

"Kita akan ikuti arahan nanti," jalasnya. 

Baca juga: Kemendikdasmen Keluarkan Aturan SPMB 2025 Jalur Domisili, Disdik Banjarmasin: Belum Terima Juknis

Baca juga: Atap SMPN Daha Barat yang Rusak Segera Diperbaiki, Disdikbud Pastikan Proses Belajar Tetap Berjalan

Sebab, diperkirakan Petujuk Teknis tersebut akan keluar April sebab setelah itu SPMB akan dimulai. 

Begitu pula di jenjang SMA menurut  Kepala SMAN 1 Martapura, Eko Sanyoto, mengatakan ikuti aturan main dari Mendikdasmen dan pastinya turunan dari itu yakni petunjuk teknis dari Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Kalsel. 

"Kami masih nunggu juknis dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel," tegasnya. 

Menurut orang tua siswa, Salehuddin kebijakan tersebut dirasa aneh. Sebab, menurut dia malah raport mestinya alat ukur akademik yang logis. 

"Sebab dari itu bisa dilihat perkembangan akademik si anak. Dalam marapelajaran tertentu dia naik tidak, ada progres tidak, " jelasnya. 

Namun, sambungnya, jika TKA maka itu ditentukan dalam alat ukur satu saja yakni ketika hari tes itu saja. 

"Sebab, bisa ssja ketika di hari Tes dia kurang bisa. Tapi dia sebetulnya suka dengan mata pelajaran itu. Dan iru bisa digambarkan dari rapor di mata pelajaran itu," jelasnya. 

Malah kritiknya, justru dengan TKA tersebut bisa dijadikan ajang 'permainan' untuk jalur prestasi

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved