Ramadan 2025

Dari Inabah ke Istijabah

Syekh Ibn ‘Athaillah membedakan dua jenis taubat, yaitu taubat inabah dan taubat istijabah

Editor: Hari Widodo
Foto Ist
Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA, Menteri Agama menjelaskan dua jenis taubat yakni taubat inabah dan taubat istijabah. 

Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA Menteri Agama RI

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dalam artikel terdahulu dijelaskan bahwa taubat mempunyai berbagai tingkatan. Taubat paling standar ialah orang yang sadar dari lumpur maksiat kemudian meninggalkan seluruh kebiasaan buruk. Ia berjanji dan bertekat untuk sungguh-sungguh meninggalkan seluruh kebiasaan buruk.

Sedangkan orang yang tidak sekadar meninggalkan dosa dan maksiat tetapi sudah mengganti kelakuannya dengan amal kebajikan sudah masuk wilayah hakekat, sebagaimana kehidupan para arifin lainnya.

Adapun orang yang sedetik saja melupakan Tuhan sama dengan melakukan dosa besar. Ini yang paling tinggi dan paling sulit dicapai seorang hamba.

Syekh Ibn ‘Athaillah membedakan dua jenis taubat, yaitu taubat inabah dan taubat istijabah. Taubat inabah ialah sikap taubat hamba yang didorong rasa takut terhadap dosa dan maksiat yang telah dilakukannya, sehingga terbayang kerugian besar di dunia dan siksa dan malapetaka Tuhan yang amat pedih di neraka.

Dalam suasanA takut seperti itu ia menyerahkan diri, bertaubat, dan memohon pengampunan kepada Allah SWT.

Ia selalu membayangkan api neraka yang akan menyiksa dirinya seandainya Allah tidak memaafkannya. Siang dan malam selalu melakukan ketaatan kepada Allah dengan harapan amal kebajikan bisa mengikis habis segala dosa-dosanya, sebagaimana firman Allah: Inna al-hasanat yudzhibna al-sayyi’at (sesungguhnya amal kebajikan menghapuskan segala dosa).

Sedangkan taubat istijabah merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap kemuliaan Tuhan. Taubat dalam tahap ini tidak lagi membayangkan Allah SWT sebagai Maha Pembalas terhadap segala dosa dan maksiat sebagaimana dalam tahap taubat inabah.

Taubat istijabah ketika seseorang lebih merasa tersiksa rasa malu terhadap Tuhan ketimbang panasnya api neraka. Yang membuat seseorang tersiksa ialah betapa pedihnya jika terbebani rasa malu yang amat dalam terhadap Allah SWT.

Mestinya ia bersyukur dan mengabdi kepada Allah SWT dengan berbagai kenikmatan yang diperoleh dari-Nya tetapi malah melakukan dosa dan maksiat. Inilah yang membuatnya tersiksa, kecewa, lalu menyesali dirinya tega melakukan sesuatu yang memalukan terhadap Tuhannya.

Ketersiksaannya lebih berat ketimbang ia masuk neraka. Seandainya disuruh memilih disiksa secara fisik di neraka atau terbebani rasa malu terhadap Tuhannya maka ia akan memilih disiksa di neraka.

Sudah sepantasnya kita mengevaluasi perjalanan hidup dan diri kita. Tanda-tanda ketuaan apa yang kita sudah miliki? Mungkin uban sudah bercampur di tengah rambut hitam kita, rasa ngilu di tulang persendian sebagai akibat gejala penuaan, pembatasan-pembatasan apa yang diminta dokter pribadi kita, semisal membatasi makanan dan pergerakan fisik.

Lihatlah anak-anak kita yang sudah mulai besar dan membutuhkan figure keteladanan orang tua, atu mungkin kita sudah punya cucu yang selalu mengidolakan kita?

Evaluasi diri kita masing-masing.  Jenis tobat apa yang kita miliki? Apakah kita sudah melakukan penyesalan terhadap dosa dan maksiat yang telah kita lakukan? Apakah kita tergolong yang selalu membayangkan panasnya api neraka setelah melakukan dosa dan maksiat?.

 Apakah sudah terbetik rasa malu kepada Allah SWT setelah kita melakukan dosa? Apakah telah muncul penyesalan mendalam dan bertekad untuk memutuskan segenap dosa-dosa dan maksiat langganan kita, karena takut atau malu kepada Allah SWT?.

Apakah kita telah mengganti langganan dosa dan maksiat itu dengan amal kebajikan? Atau kita sama sekali belum melakukan perubahan di dalam diri kita, dosa dan maksiat masih berjalan terus tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun. Masih ada sedikit waktu untuk bertobat, lakukanlah sebelum segalanya terlambat. (*)

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved