Serambi Ummah

Dakwah di Era Digital, Agen Perubahan Menuju Umat Lebih Baik

Di era digital, dunia dakwah semakin menantang untuk diselami dan terbuka lebar bagi siapapun untuk meramaikannya, termasuk kalangan perempuan.

Tayang:
Penulis: Dony Usman | Editor: Mariana
Dok BPost
DAKWAH - Wakil Ketua Umum MUI Tabalong H Ahmad Surkati SAg MSi menjelaskan di era digital, dunia dakwah semakin menantang untuk diselami dan terbuka lebar bagi siapapun untuk meramaikannya, termasuk kalangan perempuan. 

Oleh: H Ahmad Surkati SAg MSi, Wakil Ketua Umum MUI Tabalong

BANJARMASINPOST.CO.ID - Selama gelaran hidup terkembang, maka selama itu pula dakwah mesti dilayarkan, hingga tujuan hidup mulia seseorang dapat diraih, dan merata di umat manusia.

Siapa yang telah berperan dalam dunia dakwah? Dipastikan semua Nabi dan Rasul ambil bagian, berkontribusi menata kehidupan, membuka tirai kegelapan, menghantarkan pengikutnya hidup dalam kedamaian, bahagia bersama saat mengarungi hidup di planet bumi.

Tidak terkecuali Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang diberkahi ajaran kehidupan sempurna.

Sebagai pemungkas utusan Allah, Nabi Muhammad dibekali Al-Qur’an sebagai petunjuk beramar makruf nahi munkar.

Lewat kitabullah inilah, pengikut Nabi, entah  lelaki atau perempuan mesti menteladani kehidupan Nabi, berilmu luas untuk diambil manfaat orang lain, berdedikasi kuat membentuk pribadi mulia dan keluarga bahagia. Bahkan, jika mampu berdakwah kepada masyarakat umum.

Baca juga: Kiprah Hj Fajriatan Noor Aktif Dakwah dan Bidang Kesehatan, Turun Langsung Tanggulangi Stunting

Baca juga: Tradisi Siram Kembang Usai Beli Mobil Baru, Bentuk Atas Nikmat dari Allah

Dakwah mesti hidup demi kepastian hidup itu sendiri dan tetap berlangsung di jalur lurus (shiratal mustaqim) Pencipta Semesta.

Seperti yang difirmankan Allah, “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran, ayat 104)

Perempuan berdakwah? Banyak sejarah mencatat peran mereka dalam menyeru kebaikan, mencegah keburukan. Terutama istri Rasul, Ummul Mukminin, Khadijah dan Aisyah.

Mereka telah membuktikan betapa Islam ini bisa besar dan umat mudah memahami agama karena diantaranya jasa mereka, sesuai spesifikasi masing  masing.

Di zaman sekarang, di era digital, dunia dakwah semakin menantang untuk diselami dan terbuka lebar bagi siapapun untuk meramaikannya, termasuk kalangan perempuan.

Kita pun mengenal beberapa nama ustazah yang kerap menghiasi layar kaca, medsos dan beberapa karya tulis mereka di koran dan majalah.

Lalu bagaimana dengan kiprah para Penyuluh Agama Islam (PAI)? Menurut beberapa tokoh, mereka adalah pelaku dakwah yang bertugas mensyiarkan agama yang merahmat, moderat, berkontribusi signifikan dalam pembangunan sekaligus agen perubahan menuju masyarakat dan umat yang lebih baik.

Dalam prakteknya, sesungguhnya para penyuluh agama Islam yang ASN menjadi garda terdepan dalam mengkomunikasikan pesan pesan agama dan negara.

Terlebih, bila ada isu yang dihembuskan oleh orang tidak bertanggungjawab, menodai agama, menyebar paham radikalisme, ekstrimisme, pendapat yang bertentangan dengan syariat dan negara?

Maka kepiawaian pendakwah memadukan pesan agama yang hakiki, mudah dipahami sekaligus memotivasi semangat kebangsaan dan cinta Tanah Air tentu diharapkan menjadi keahlian tersendiri bagi Penyuluh Agama Islam.

Hal ini tidak terlepas dengan status objek dakwah yang menjadi hamba Tuhan sekaligus penduduk di suatu negara.

Seperti ajaran agama Islam yang memerintahkan agar orang tua tidak meninggalkan keturunan lemah, sebaliknya memiliki kader diri, generasi penerus yang kuat, sehat dan cerdas.

Maka agama Islam memerintahkan agar orangtua mencari rezeki yang halal, bergizi dan sehat.

Para ibu yang baru melahirkan diminta memberi bayi ASI selama 2 tahun dan bagi calon pasangan suami istri disadarkan tentang batas umur boleh menikah jika berusia lebih 19 tahun, dan menikahnya resmi di Kantor Urusan Agama.

Pesan ini disampaikan untuk menghindari bayi terlahir stunting. Banyak anak Indonesia berkondisi stunting merupakan kendala pembangunan sekaligus ancaman berkemajuan, apalagi dikaitkan dengan program besar Indonesia Emas 2045.

Karena itu, Penyuluh Agama Islam dituntut berwawasan luas, berintegritas, ikhlas, mampu menjadi motivator, dan teladan saat bertugas kepenyuluhan, baik saat di KUA atau di ruang publik.

Membangun jejaring, berkolaborasi dengan pihak terkait, dan menghadirkan inovasi model dakwah dalam mencapai tujuan dakwah itu sendiri.

Termasuk peningkatan SDM lewat berbagai pelatihan dan mengikuti program PAI Word yang diadakan tiap tahun.

Untuk harapan kasus stunting berkurang, bahkan zero, maka Penyuluh Agama Islam, terutama perempuan memiliki nilai lebih dalam keterlibatannya.

Selain memiliki empati yang kuat, dalam tubuhnya terdapat jiwa penyayang yang jika dibesarkan pasti menjadi kekuatan pemeliharaan anak Indonesia sehat, cerdas lagi kuat. (dny)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved