Book Lover

Novel Membawa Umrah bagi Najih

Najih ini menyukai buku-buku sosial keagamaan. Dan saat ini ia menyukai buku bertema perhajian.

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
banjarmasin Post
Muhammad Itsbatun Najih 

Pemuda ini menyukai buku-buku sosial keagamaan. Dan saat ini ia menyukai buku bertema perhajian. Sampai saat ini ia mempunyai lebih dari 120 buku tentang haji.

Perhatian Muhammad Itsbatun Najih terhadap haji berawal dari novel 99 Cahaya di Langit Eropa yang menjadi buku favoritnya.

Berawal dari novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra itulah ia bisa menjalani ibadah umrah secara cuma-cuma di tahun 2014. 

"Novel tersebut bercerita perjalanan spiritual sang penulis yang menjelajah ke pelbagai negara di Eropa hingga kemudian bermuara di Tanah Suci. Sekembali saya umrah, tentu ada kerinduan dan niatan untuk bisa balik ke Tanah Suci lagi. Hingga kemudian saya berfokus untuk menekuni isu perhajian," jelasnya.

Pada 2013, Najih mengikuti lomba meresensi novel tersebut. Bersyukurnya, ia memenangkan lomba. Dari situlah kemudian ia tertarik dengan buku-buku bertema haji-umrah. 

"Apalagi ditambah pada hari ini, amat semarak berbondong-bondong masyarakat pergi umrah dan mendaftar haji," papar pemuda kelahiran Kudus pada 1990 ini.

Alumni UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta tersebut, awal kesukaan membaca adalah saat ada saudaranya menjadi wartawan koran daerah kisaran tahun 2001. 

Setiap hari saudara saya membawa koran. Awalnya, selalu menomorsatukan membaca berita sepak bola. Lantas karena koran isinya bermacam-macam, lambat laun mulai membaca utuh rubrik opini, cerpen, hingga berita internasional. Termasuk rubrik resensi buku tiap edisi Minggu-nya. 

"Dari sinilah saya mulai berkenalan dengan banyak buku yang diulas. Membaca resensi buku bak membaca intisari buku yang bertebal ratusan halaman," jelasnya.

Tak ada waktu khusus meluangkan diri untuk membaca. Namun, sebisa mungkin ada target menyelesaikan bacaan satu buku. Entah seminggu satu buku atau tiga hari satu buku. Hasil bacaan, biasanya saya buat tulisan artikel atau ulasannya.

Najih yang berprofesi sebagai wiraswastawan dan penulis, tidak menargetkan kapan dan berapa banyak beli buku.

"Kapan saja. Asalkan ada buku bagus sesuai peminatan. Sewaktu kuliah di Yogyakarta di mana banyak sekali toko buku, saya membelinya secara offline. Namun kini, seiring lesatan teknologi-informasi, mulai beralih ke toko online," jelasnya.

Tidak ada alokasi khusus berapa banyak. Namun, hampir bisa dipastikan saban bulan ia membeli buku.
Najih yang menjuarai lomba karya tulis Kemenpora 2013 dan Kemendikbud 2018, suka menulis karya tulis artikel meliputi opini dan resensi buku. 

"Sudah banyak artikel saya yang tayang di media massa cetak maupun online, rencananya dalam waktu dekat,adalah dengan membukukannya," kata Najih.

Sekarang ia memilih tema perhajian untuk ditekuni. Jika dirasa sudah banyak artikel yang tersebut, rencananya akan ia dibukukan juga. 

Manfaat membaca bagi Najih sangat banyak, salah satunya ia punya kemampuan berkarya sebagai penulis.

"Awalnya suka membaca ulasan buku di koran lantas mencoba belajar dan menulis resensi dan artikel opini, hingga kemudian  bisa mendapat hadiah menunaikan umrah," jelasnya.

Selebihnya, adalah keuntungan mendapat honorarium yang lumayan membantu terutama saat masa kuliah. 

Bagi Najih, membaca buku apa saja adalah langkah awal mencintai pengetahuan. Idealnya pada langkah selanjutnya, kita perlu membaca buku-buku yang relate dengan kebisaan atau passion kita masing-masing. 

Dengan begitu, kita akan mendapat dua keuntungan. Yakni, terbentuknya habit gemar membaca itu sendiri serta menjadikan kian mahir, ahli, kompeten pada bidang atau pekerjaan yang kita geluti. 

"Seperti saya menggeluti buku-buku perhajian; menghasratkan diri untuk benar-benar ke depannya menjadi pakar di bidang perhajian," tandasnya. (Salmah saurin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved