Sukses Story

Amanah, Integritas, Bermanfaat

Kepemimpinan itu bukan tentang posisi, tapi tentang pengaruh dan keteladanan. Demikian pelajar dari Sefudin Suria Hidayat.

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: Kamardi Fatih
Banjarmasin Post
Sefudin Suria Hidayat 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kepemimpinan itu bukan tentang posisi, tapi tentang pengaruh dan keteladanan. Demikian pelajar dari Sefudin Suria Hidayat.

Bagaimana mengelola karyawan dan memanajemen perusahaan serta kreatif dalam strategi.

Dengan ketekunan dan kemauan terus belajar tak heran ia dipercaya menjabat RCEO Bank Syariah Indonesia (BSI) Kalimantan.

Apa dan bagaimana sosoknya dalam dunia bisnis serta perbankan, berikut petikan wawancaranya.

Bisa diceritakan bagaimana perjalanan karier bapak hingga akhirnya dipercaya menjadi RCEO BSI Kalimantan?
    Perjalanan saya dimulai 2007 sebagai Funding Officer di Rawamangun, posisi yang mengajarkan pada saya arti sebenarnya dari melayani dari hati. 

Setelah itu saya diamanahi berbagai peran, dari Kepala Unit, Branch Manager di berbagai kota, hingga memimpin area di Makassar dan Surabaya. 

Berbagai penugasan, termasuk di Kantor Pusat dalam Alternative Channel, Government Project, hingga SME Business, semuanya memperkaya perspektif saya.

Menjadi RCEO BSI Kalimantan adalah amanah besar yang saya syukuri. Tidak ada yang instan, semua lahir dari konsistensi, kepercayaan atasan, serta doa orangtua dan keluarga. 

Bagi saya, perjalanan ini adalah bukti, Allah selalu membuka jalan bagi yang mau bekerja sungguh-sungguh dan menjaga niat.

Siapa sosok atau pengalaman yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter kepemimpinan Anda?
    Yang paling berpengaruh adalah kedua orangtua saya. Ayah mengajarkan ketegasan dan integritas, sementara ibu menanamkan kesabaran dan kelembutan. 

Dalam dunia kerja, saya beruntung dikelilingi para pemimpin yang visioner, mereka bukan hanya memberi instruksi, tapi memberi teladan. 

Dari merekalah saya belajar, kepemimpinan itu bukan tentang posisi, tapi tentang pengaruh dan keteladanan.

Apa momen paling menentukan dalam karier Anda di dunia perbankan?
    Momen paling menentukan adalah ketika saya pertama kali dipercaya memimpin unit kecil sebagai Kepala Capem. 
Di situlah saya belajar bahwa seorang pemimpin harus hadir secara fisik, emosional, dan spiritual. Itu titik balik yang membentuk gaya kepemimpinan yang saya bawa sampai sekarang.

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam memimpin BSI di wilayah Kalimantan?
    Kalimantan adalah wilayah yang luas, beragam karakter dan budaya. Tantangannya adalah memastikan seluruh tim merasa dekat meski secara geografis berjauhan.

Namun saya percaya, dengan komunikasi yang hangat dan konsisten, teknologi yang mendukung, serta budaya kerja yang solid, kita bisa membuat wilayah besar terasa seperti satu keluarga besar.

Bagaimana Anda menghadapi masa-masa tersulit dalam karier dan menjaga motivasi tim?
    Saat masa sulit, saya selalu kembali pada prinsip tawakkal, berusaha terbaik, lalu serahkan hasil pada Allah. 

Saya juga percaya, tim membutuhkan ketenangan dari pemimpinnya. Maka yang saya lakukan adalah hadir di tengah mereka, mendengarkan, memberi arah dengan jernih, dan menjaga atmosfer kerja tetap positif.

Pelajaran berharga apa yang Anda dapatkan dari kegagalan atau hambatan yang pernah dialami?
    Kegagalan mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh punya strategi, tapi tetap Allah yang menentukan hasil.

Dari setiap hambatan saya belajar evaluasi, memperbaiki proses, dan bergerak lebih bijaksana. 
Pelajaran terpenting: jangan pernah berhenti belajar dan jangan pernah berhenti berikhtiar.

Bagaimana gaya kepemimpinan yang Anda terapkan dalam mengelola tim di wilayah seluas Kalimantan?
    Saya menerapkan gaya kepemimpinan empowering, hangat, tapi tetap tegas. Saya ingin setiap tim merasa dihargai, diberi ruang berkembang dan berani mengambil keputusan. Leadership bagi saya adalah seni menuntun, bukan memerintah.

Dalam memimpin organisasi besar, apa prinsip utama yang selalu Anda pegang?
    Prinsipnya sederhana: amanah, integritas, dan hasil yang memberi manfaat. Saya selalu memegang nilai Islam, setiap jabatan akan dipertanggungjawabkan kelak. Maka setiap keputusan harus memberi maslahat, bukan hanya angka.

Langkah apa yang Anda ambil untuk membangun budaya kerja yang kolaboratif dan produktif?
    Saya membangun kebiasaan komunikasi terbuka, one team mindset, dan keberanian memberi serta menerima feedback. Budaya kolaboratif lahir bukan dari slogan, tapi dari ruang yang aman untuk bekerja, berbagi, dan tumbuh bersama.

Bagaimana Anda melihat perkembangan perbankan syariah di Kalimantan, dan apa strategi BSI untuk memperkuat posisinya?
    Kalimantan memiliki potensi besar, baik dari sisi bisnis, digitalisasi, maupun semangat masyarakat untuk bertransaksi secara halal. 

Strategi kami adalah memperkuat literasi syariah, memperluas akses layanan, serta menghadirkan produk yang simpel, relevan, dan memberikan nilai tambah untuk nasabah.

Inovasi apa yang menurut bapak paling penting untuk mendorong pertumbuhan BSI di wilayah Kalimantan?
    Inovasi digital yang memudahkan nasabah, seperti BSI Mobile dan layanan hybrid. Tapi bagi saya, inovasi yang paling penting justru adalah innovation in service melayani dengan hati, cepat, dan tepat. Teknologi bisa meniru, tapi kehangatan manusia tidak bisa digantikan.

Apa pendekatan Anda dalam mendorong transformasi digital di lingkungan BSI?
    Saya mendorong mindset, digital bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Saya ajak tim melihat teknologi sebagai alat untuk mempercepat ikhtiar dan memperluas manfaat. Transformasi digital harus berjalan selaras dengan transformasi budaya kerja.

Pencapaian apa yang paling membanggakan selama Anda memimpin BSI Kalimantan?
    Yang paling membanggakan adalah melihat tim tumbuh tim yang solid, produktif, dan saling menopang. Angka pencapaian itu penting, tapi melihat rekan-rekan berkembang, saling menguatkan, dan mampu melewati target, bagi saya itu pencapaian yang paling membahagiakan.

Apa nilai hidup yang selalu Anda terapkan dalam bekerja dan berkarya?
    Nilai sederhana tapi kuat: amanah, syukur, dan kerja ikhlas. Saya percaya keberkahan itu hadir ketika niat kita lurus, usaha kita serius, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah.

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada generasi muda yang ingin sukses dalam dunia perbankan dan kepemimpinan?
    Beranilah memulai dari bawah, jangan cepat menyerah, dan jangan berhenti belajar. Kesuksesan tidak datang dari keajaiban, tapi dari konsistensi. 

Pegang prinsip, jaga integritas, dan tetaplah rendah hati—karena Allah meninggikan orang-orang yang bersungguh-sungguh. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)


Syariah Bukan Sekedar Label
    Visi untuk BSI Kalimantan mendatang, Sefudin membayangkan BSI Kalimantan menjadi ekosistem syariah yang kua, tangguh secara bisnis, unggul dalam layanan, dan dekat dengan masyarakat. 

"Kalimantan punya potensi besar, dan kami ingin menjadi bagian dari percepatan pertumbuhan ekonomi berbasis halal di wilayah ini," ujarnya.

Ia ingin menghadirkan layanan syariah yang bukan hanya mudah diakses, tapi juga memberi dampak. Mulai dari pembiayaan UMKM, literasi halal, hingga ekosistem digital yang memudahkan masyarakat. Perubahan besar itu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.

"Harapan saya, industri ini semakin menjadi arus utama, bukan hanya pilihan alternatif. Syariah bukan sekadar label, tapi cara pandang bahwa keuangan harus membawa keberkahan, keadilan, dan manfaat yang luas. Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pusat keuangan syariah global, dan saya optimis kita sedang menuju ke sana,” ujarnya. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)

Biodata
Nama: Sefudin Suria Hidayat
Lahir: Sumedang, 11 November 1979
Usia: 47 tahun 
Pendidikan: Sarjana Kedokteran Hewan IPB Bogor 2005
Pekerjaan/jabatan: RCEO BSI Kalimantan

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved