Tribun Smart

Mengayomi dengan Intelektual dan Spiritual

Santriawati yang juga mahasiswi ini gemar berorganisasi dan aktif di berbagai kegiatan, tujuannya yaitu khairunnas anfa'uhum linnas

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: Kamardi Fatih
Banjarmasin Post/Salmah
Maulidya, Mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Martapura 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Santriawati yang juga mahasiswi ini gemar berorganisasi dan aktif di berbagai kegiatan,  tujuannya yaitu khairunnas anfa'uhum linnas, artinya “sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi manusia lainnya”.

Mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Martapura dan santriwati Pondok Pesantren Darussalam Martapura ini, bermanfaat bagi orang lain itu tidak sekadar prinsip dan juga bukan sekadar motto, tetapi arah hidup. 

"Artinya, setiap ilmu, kemampuan dan kesempatan yang saya miliki harus memberi dampak positif atau bermanfaat bagi sekitar," kata Sekretaris Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam I-HMP PAI) IAID Martapura tersebut.

Dalam keseharian, ia menerapkannya dengan aktif di organisasi, membantu teman, berkontribusi di kegiatan, serta berbagi melalui seni dan dakwah. 

"Saya percaya, sekecil apa pun kontribusi yang kita berikan, jika diniatkan untuk kebaikan, maka itu bernilai," ujar anggota Biro Keagamaan Himpora (Himpunan Mahasiswa Pecinta Olahraga) IAID Martapura ini.

Dari berbagai posisi kepemimpinan baik sebagai ketua, sekretaris, bendahara, pelajaran kepemimpinan paling berharga adalah kepemimpinan bukan tentang jabatan, melainkan tanggung jawab dan pelayanan.

"Menjadi ketua mengajarkan saya banyak hal dalam pengambilan keputusan. Menjadi sekretaris melatih ketelitian dan komunikasi administratif. Menjadi bendahara mengajarkan amanah dan transparansi," terangnya.

Maulidya belajar, pemimpin yang baik adalah yang mampu mendengar, mengayomi, dan memberi teladan.

Diakui, membagi waktu antara akademik, organisasi dan pengembangan diri memang 
kunci utama. Maulidya membiasakan membuat skala prioritas dan jadwal harian yang terdata.

"Akademik tetap menjadi prioritas utama, organisasi sebagai wadah pengabdian dan latihan kepemimpinan, serta pengembangan diri saya lakukan di sela waktu luang atau akhir pekan," katanya.

Cara tetap konsisten dan produktif di tengah banyaknya amanah adalah dengan menjaga niat tetap lurus, berpegang teguh pada prinsip dan menjadikan setiap amanah sebagai ladang ibadah. 

"Selain itu, saya membuat target jangka pendek dan jangka panjang agar langkah tetap terarah," katanya.

Istirahat jika lelah dan jangan pernah berpikir untuk berhenti berbuat baik, menjaga kesehatan, dan lingkungan pertemanan yang positif juga sangat membantu menjaga produktivitas.

Sebagai pribadi yang aktif di bidang seni, olahraga, dan keagamaan, menurut Maulidya keseimbangan antara intelektual, spiritual, dan kreativitas adalah kunci pembentukan karakter dan kepemimpinan yang utuh.

"Intelektual membentuk pola pikir kritis dan rasional. Spiritual menjaga hati agar tetap lurus dan bernilai. Kreativitas membuat kita mampu mengekspresikan ide dengan cara yang inspiratif," katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved