Kasus Campak di Kalsel

Cakupan Imunisasi Campak di Kalsel Masih di Bawah Target

Capaian imunisasi dasar lengkap di Kalimantan Selatan yang rendah memicu kekhawatiran meningkatnya risiko wabah campak.

Tayang: | Diperbarui:
FOTO/ISTIMEWA/ISTOCKPHOTO.COM
ILUSTRASI CAMPAK - Menyusul adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, terungkap bila capaian imunisasi di sejumlah daerah masih rendah. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Rendahnya capaian imunisasi dasar lengkap di Kalimantan Selatan (Kalsel) memicu kekhawatiran meningkatnya risiko wabah campak.

Disampaikan Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kalsel, Anhar Ihwan, hingga Juli 2025, cakupan imunisasi bayi lengkap (IDL) baru mencapai 38,06 persen, sementara imunisasi baduta lengkap (IBL) 35,94 persen. Kedua angka itu masih di bawah target nasional yang masing-masing 46,6 persen dan 40,8 persen.

Data menunjukkan sejumlah kabupaten berada di zona merah dengan cakupan imunisasi di bawah 30 persen.

Kabupaten Banjar hanya mencapai 22,30 persen untuk baduta dan 28,94 persen untuk bayi, Hulu Sungai Utara mencatat 22,54 persen untuk baduta dan 25,37 persen untuk bayi, sedangkan Balangan hanya 23,37 persen untuk baduta dan 24,02 persen untuk bayi. Tabalong pun berada di ambang zona merah dengan cakupan baduta 27,35 persen dan bayi 30,70 persen.

Sebaliknya, capaian imunisasi tertinggi untuk baduta berada di Hulu Sungai Tengah sebesar 53,6 persen, disusul Banjarbaru 50,35 persen dan Banjarmasin 49,35 persen.

Untuk imunisasi bayi, Banjarbaru memimpin dengan 53,51 persen, kemudian Kota Banjarmasin 51,49 persen dan Kabupaten Tanahbumbu 47,46 persen.

Untuk menutup kesenjangan imunisasi, Dinkes Kalsel mengintensifkan koordinasi lintas sektor bersama Dinas Pendidikan, PKK, tokoh masyarakat, dan organisasi profesi, serta melakukan investigasi dan pendampingan di daerah yang mengalami KLB.

Selain itu, penguatan surveilans dilakukan agar pelaporan tepat waktu dan lengkap, sweeping imunisasi kejar MR digencarkan di daerah dengan cakupan rendah, dan strategi Outbreak Response Immunization (ORI) diterapkan dengan target minimal 95 persen.

Dinas juga memonitor bulanan cakupan MR1, MR2, dan BIAS kelas 1, serta melakukan advokasi regulasi melalui instruksi gubernur untuk menggerakkan dukungan masyarakat.

“Kami harus mengejar cakupan imunisasi hingga di atas 90 persen untuk mencegah penyebaran penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksin,” tegas Anhar. (msr)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved