Karhutla di Kalsel

Karhutla di Kalsel Diklaim Terkendali, Luas Lahan Terbakar Turun Drastis

BPBD Kalsel kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) sepanjang 2025 menunjukkan hasil penurunan

Dok BPost
PEMADAMAN - Sejumlah relawan ikut memadamkan kebakaranhutan dan lahan di Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tahun 2023. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) sepanjang 2025 menunjukkan hasil signifikan.

Hingga 20 Agustus 2025, tercatat luas lahan terbakar hanya 358 hektare. Angka itu jauh menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat 164 kejadian karhutla dengan lebih dari 2.000 titik api sejak awal tahun.

Data itu dihimpun dari laporan BPBD kabupaten/kota se-Kalsel.

“Angka ini menunjukkan penanganan karhutla tahun ini lebih terkendali. Dampak kebakaran berhasil ditekan seminimal mungkin berkat kesigapan dan kolaborasi semua pemangku kepentingan sesuai arahan Gubernur Kalsel,” ujar Kabid Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kalsel, Bambang Dedi Mulyadi, Kamis (28/8/2025).

Baca juga: Update Kasus Siswa Tenggelam di Banjarbaru, 14 Tersangka Termasuk Kepsek dan Guru Akan Diperiksa

Baca juga: Mantan Bupati Tabalong Jadi Tersangka Dugaan Korupsi, Kerugian Negara Disebut Capai Rp 1,8 M

Berbeda dengan data Kementerian Kehutanan yang bersumber dari citra satelit, data BPBD Kalsel diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan.

Bambang menjelaskan, perbedaan angka wajar terjadi karena kebakaran di konsesi swasta berada di luar kewenangan BPBD dalam penanganannya.

Selain itu, Bambang menyebut penurunan drastis karhutla tahun ini tidak lepas dari dukungan teknologi udara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoperssikan helikopter water bombing dan patroli sejak 18 Agustus lalu.

Kementerian Lingkungan Hidup bersama BMKG juga melaksanakana operasi modifikasi cuaca (OMC) selama 10 hari untuk membasahi kawasan rawan terbakar.

“Dengan kombinasi penanganan lewat darat dan udara, langkah pencegahan jauh lebih efektif dan efisien,” kata Bambang.

Plt Kepala BPBD Kalsel, Gusti Yanuar Noor Rifai menambahkan, bahwa OMC resmi berakhir pada Jumat (22/8/2025). Meski demikian, mitigasi tetap berlanjut melalui heli water bombing hingga 30 September mendatang.

“OMC yang berjalan sejak 14 Agustus lalu terbukti efektif. Hujan mulai turun di beberapa daerah dengan intensitas bervariasi, membuat lahan gambut tidak lagi kering,” ujar Rifai.

Selama OMC, sekitar 800 kilogram garam disemai setiap hari ke titik awan berpotensi hujan.

“Dampaknya sangat bagus, terutama di wilayah yang sulit dijangkau tim darat,” imbuhnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved