Opini Publik

Kesehatan Mental Mulai dari Kelas

Generasi Z merupakan generasi yang diagung-agungkan akan menjadi generasi emas di tahun 2045 sebagai bonus demografi Indonesia

Tayang:
Editor: Hari Widodo
Dokumentasi Banjarmasinpost.co.id
Edwin Yulisar, Guru MTsN 2 Hulu Sungai Tengah 

Oleh: Edwin Yulisar, Guru MTsN 2 Hulu Sungai Tengah

BANJARMASINPOST.CO.ID-Generasi Z merupakan generasi yang diagung-agungkan akan menjadi generasi emas di tahun 2045 sebagai bonus demografi Indonesia. Namun, apakah ekspektasi tersebut mampu disesuaikan dengan realitas saat ini? Generasi ini sangat handal dalam beradaptasi pada teknologi namun memiliki kelemahan pada pengelolaan mental dalam menerima beban masalah dan tantangan yang dihadapinya.

Cara memperbaikinya harus dijawab dengan pendidikan yang berkualitas dengan bertumpu pada pengelolaan aspek intelektual dan sosial-emosional pada peran sentral guru dalam memberikan sentuhan pada tiap-tiap relung hati dan mental siswa dimulai dari kelas.

 Jangan sampai mereka berguru hanya pada tren-tren viral tak bermanfaat di media sosial dan menjadikannya pedoman hidup.

McKinsey Health Institute’s (MHI’s) 2022 Global Gen Z Survey menguak bahwa terdapat variasi dampak baik dan buruk terhadap kesehatan mental yang diakibatkan oleh media sosial pada setiap generasi.

Generasi Z merupakan generasi yang paling tinggi terdampak secara negatif kesehatan mentalnya akibat penggunaan media sosial. Besaran efek buruknya memapar pada sekitar 27 persen responden generasi Z, milenial berada di kisaran 19 persen dan generasi X sebesar 14 persen.

Dari data tersebut dapat diambil benang merah bahwa pengaruh negatif media sosial terhadap kesehatan mental paling besar dialami generasi Z. Bisa dikatakan bahwa media sosial menjadi salah satu sosok yang memiliki keterikatan seperti simpul persoalan kesehatan mental bagi generasi Z.

Tugas guru zaman now bukan hanya mengajarkan materi pelajaran saja, namun harus mampu mengintegrasikan pembelajaran yang substansial dan menekankan aspek akhlak,  karakter serta akal budi secara habituatif.

Pertama, guru harus memiliki kapabilitas dalam memberikan sentuhan spiritual berupa penanaman dan pengintegrasian nilai dan norma agama pada seluruh mata pelajaran.

Dogma spiritual dengan balutan pembelajaran yang edukatif-komprehensif akan memantapkan mental siswa dalam pemaknaan kehidupan, rasa keterikatan dengan suatu entitas yang lebih besar di luar diri pribadi, serta perasaan kuat akan tujuan hidup.

Selanjutnya, penguasaan guru dalam memodifikasi pembelajaran, serta melakukan amplifikasi pendidikan karakter pada peserta didik sangat signifikan dalam kesehatan mental.

Hal ini sebagai upaya mengantisipasi ancaman degradasi karakter remaja oleh budaya asing yang sangat bertentangan dengan nilai, norma agama dan adat ketimuran. Jadi, metode dan strategi pembelajaran yang aktual-kontekstual merupakan sebuah keharusan dengan menyajikan situasi yang dekat dengan pengalaman siswa serta mampu membongkar daya nalar siswa untuk berpikir kritis dan dialektik.

Contoh kecilnya ada pada pemberian tugas berbasis proyek kepada siswa yang bertumpu pada nilai-nilai kemanusiaan seperti siswa menceritakan pengalamannya ketika menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) atau PMI (Palang Merah Indonesia) di Kota atau Kabupaten sebagai relawan untuk membantu pasokan darah yang ada. Ataupun hal yang terkecil seperti membantu orang yang mengalami kecelakaan di jalan.

Pembelajaran bertumpu pada aspek sosial-emosional sangat esensial bagi peserta didik karena mampu memantik rasa empati.

Lebih-lebih, jika kolaborasi guru lintas mata pelajaran mampu mengimplementasikan pengalaman pembelajaran nyata kepada siswa di lapangan maka pendidikan karakter secara langsung terbangun mulai dari proses hingga hasilnya. Misalnya pemberian tugas proyek yang melibatkan siswa menjadi anggota Koperasi Desa, anggota BAZNAS kabupaten/kota ataupun terlibat secara langsung dengan segala organisasi sosial yang ada di dalam masyarakat.

Pembelajaran seperti ini harus dikembangkan lebih mendalam sebagai pembelajaran kontemporer karena keberhasilannya membuat titik temu pada konsep berakhlak, berakal, berbudi luhur serta mampu memperbaiki kesehatan mental siswa secara global.

Oleh karena itu, kesehatan mental siswa bisa dirawat oleh penguatan integrasi aspek spiritualitas dan  pendidikan karakter yang diajarkan oleh guru dengan motivasi, metode pembelajaran yang adaptif serta pengakomodasian gaya belajar siswa yang menitikberatkan akhlak dan akal budi.

Semakin antusias siswa di kelas mengikuti pembelajaran, maka konsep pembelajaran mendalam bukan hanya sudah berjalan namun menjadi habituasi di sekolah maupun madrasah. Jika habituasi pembelajaran mendalam sudah menjadi ekosistem hijau di madrasah, maka akan terjadi timbal balik energi positif yang realistis karena siklus belajar civitas bukan hanya mendongkrak nilai akademis namun pada nilai psikis.

Dari semua pemaparan, muncul pertanyaan reflektif penulis sebagai pengajar. Apakah kita sudah memaksimalkan upaya untuk mengintegrasikan nilai spiritual dan pendidikan karakter dalam pembelajaran untuk menyehatkan mental siswa? Atau hanya bersuara lantang di media sosial tentang masalah ini tanpa diiringi tindakan nyata di kelas?.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved