Berita Banjar
Dilatih Bikin Eco Enzym hingga Olah Sampah Jadi Bernilai, Begini Respons Warga Aranio Banjar
Di balai desa Tiwingan Lama, puluhan ibu rumah tangga mengikuti pelatihan membuat ecoenzym dari limbah dapur hingga memilah sampah
Penulis: Rifki Soelaiman | Editor: Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Warga Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai merasakan manfaat dari program pengelolaan sampah terpadu di Desa Tiwingan Lama.
Program yang menghadirkan edukasi, praktik pemilahan sampah, hingga pelatihan daur ulang ini membuka peluang baru bagi warga, dari sekadar menjaga lingkungan, menjadi sumber penghasilan tambahan.
Di balai desa Tiwingan Lama, puluhan ibu rumah tangga mengikuti pelatihan membuat ecoenzym dari limbah dapur, hingga memanfaatkan plastik bekas menjadi gantungan kunci, dompet, dan tas.
Bahan-bahan yang sebelumnya hanya menumpuk di rumah, kini dapat dijual kembali.
Baca juga: Banjar Susun Masterplan 2045, Termasuk Tangani Lonjakan Sampah Ketika Haul Guru Sekumpul
“Saya mulai memilah sampah di rumah, bikin kompos untuk tanaman, bahkan mulai mengurangi plastik,” ujar Mubiroh, warga Tiwingan Lama, Sabtu (6/12/2025).
Ia mengatakan pelatihan ini sangat membantu ibu-ibu desa memahami bahwa sampah bukan selalu masalah, tapi bisa menjadi berkah jika dikelola dengan benar.
Hal serupa dirasakan Gina, warga lainnya. Ia mengaku baru mengetahui cara membuat ecoenzym dari kulit buah dan sisa makanan.
“Kami diajarkan mengolah sampah jadi barang bernilai. Lingkungan bersih, kami dapat tambahan penghasilan,” ujarnya.
Program pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan pengurangan sampah dan penguatan ekonomi sirkular di Aranio.
Kegiatan melibatkan komunitas Urban Borneo Lab yang selama ini fokus mengembangkan kreativitas daur ulang di Kalsel.
Sampah anorganik seperti plastik, botol, dan kaleng yang berhasil dikumpulkan warga juga akan dijual melalui Bank Sampah yang dikelola PLN Indonesia Power UBP Barito di area PLTA Ir PM Noor setiap hari Kamis.
Skema ini diharapkan menjadi roda kecil penggerak ekonomi desa.
Manager UPPLTAD Gunung Bamega, Reza Permana, mengatakan program ini dirancang agar masyarakat tidak hanya mendapat pengetahuan, tetapi juga merasakan perubahan nyata.
“Kami ingin warga punya budaya baru dalam mengurangi dan memilah sampah. Selain lingkungan lebih bersih, ada potensi ekonomi yang bisa mereka dapatkan,” ujarnya.
Baca juga: Lewat Pemilahan Sampah, Budaya Bersih Tumbuh di SMPN 1 Banjarmasin
Camat Aranio, Riza Rusadi, menyebut kolaborasi dengan berbagai pihak membuat pendekatan edukasi semakin mudah diterima masyarakat. “Ini energi baru bagi kami. Harapannya menjadi praktik baik yang berkelanjutan,” katanya.
Desa Tiwingan Lama sendiri baru saja meraih Trophy Proklim Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup atas upaya penguatan ketahanan iklim dan pelestarian lingkungan.
(Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)
| Tanggapi Info Dugaan Pembegalan di Jalan Martapura Lama Banjar, Kepolisian Giatkan Patroli |
|
|---|
| Dorong Promosi Wisata Lewat Konten Digital, Pemkab Banjar Latih Pokdarwis Videografi dan Fotografi |
|
|---|
| Usai Demo Ratusan Sopir Truk, Tim Satgas BBM Kalsel Pantau SPBU di Banjarbaru dan Banjar |
|
|---|
| Rakor Disdukcapil Kalsel, Perkuat Keamanan dan Pemanfaatan Data Kependudukan |
|
|---|
| Nelayan Aluhaluh Banjar Tetap Bisa Melaut, Suriansyah Andalkan Solar Subsidi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Warga-Kecamatan-Aranio-Kabupaten-Banjar-belajar-mengelola-sampah.jpg)