Book Lover
Membaca Jadi Keterampilan Bertahan Hidup
Adit yang suka buku sejak duduk di kelas 2 SMP dan mengenalkan buku kepada teman sebangkunya.
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID - Membaca seringkali dianggap sebagai kegiatan 'tradisional' di tengah gempuran konten video singkat dan media sosial.
Padahal, menurut Rizky Aditya, di era informasi yang sangat cepat ini, membaca justru menjadi keterampilan bertahan hidup (survival skill) yang paling krusial.
"Membaca sangat berpengaruh bagi saya, karena dengan banyak makna dalam buku membuat saya menjadi pribadi yang sangat tenang dalam menghadapi tantangan yang ada," kata pemuda 20 tahun ini.
Dengan buku, Adit menjadi lebih terkontrol dalam hal apapun dan genre tentang pribadi yang suka menyendiri ini sangat dekat dengan Adit, karena ia suka menyendiri.
"Kebiasaan membaca ini memudahkan saya cepat berpikir dan menyampaikan pendapat atau makna penting yang pernah saya baca, apalagi di dunia peagent ini sangat penting menguasai public speaking," katanya.
Salah satu buku yang memotivasinya adalah Filosofi Teras, di buku ini mengajarkan fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan tetap tenang (damai) meskipun lingkungan di sekitarmu sangat bising atau kacau. Buku lainnya yang disukai antara lain The Firstborn Advantage dari Dr Kevin Leman.
Adit yang suka buku sejak duduk di kelas 2 SMP dan mengenalkan buku kepada teman sebangkunya, sekarang sepulang bekerja dan sebelum tidur menjadi waktu favoritnya untuk membaca.
Adit yang juga suka membaca melalui media sosial, mengungkapkan ada dua cara dalam membaca yaitu membaca buku digital dan maupun fisik.
"Gunakan buku fisik untuk bacaan yang berat, filosofis, dan membutuhkan perenungan mendalam. Contohnya buku tentang tanggung jawab anak pertama atau kepribadian," jelasnya.
Kemudian gunakan buku digital untuk mencari informasi cepat, belajar skill baru yang praktis, atau membaca di sela-sela kesibukan mobilitas.
"Kalau membaca cuma jadi hobi, kamu bakal berhenti saat sibuk. Tapi kalau membaca jadi gaya hidup, maka sesibuk apapun kamu, akan selalu haus ilmu. Orang sukses tidak membaca untuk menghabiskan waktu, mereka membaca untuk membangun masa depan," tandasnya.
Selain membaca, Adit juga hobi menyanyi, dan ia sangat tertarik dengan lagu-lagu daerah Kalimantan Selatan.
"Di era sekarang atau generasi-generasi baru atau bisa dibilang dengan gen-Z banyak yang tidak tahu bahkan tidak pernah mendengar lagu lagu daerahnya sendiri," katanya.
Sangat disayangkan karena lagu daerah merupakan warisan dari leluhur. Dengan lagu daerah ini kita bisa menjaga budaya dan kultur daerah kita sendiri .
"Dengan hobi menyanyikan lagu daerah, saya ingin memberlanjuti warisan leluhur, memberi tahu kepada mereka bahwasanya dengan adanya dan meningkatnya era globalisasi ini lagu daerah ini tidak berubah dan tidak dilupakan. Dengan cara inilah kita bisa menjaga budaya sampai ke generasi selanjutnya," tukasnya.
Sebagai Runner Up 1 Putra Pariwisata Kalsel 2025, Adit menyatakan bahwa selempang kebanggaan tersebut tidak luput dari tanggung jawab.
"Tanggung jawab sebagai pemuda untuk dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang berharganya wilayah Kalimantan Selatan yang kaya sumber daya alam," kata Adit.
Adit punya advokasi yaitu H-A-R-A-T (hebat/unggul) yang fokus pada daya saing agar wisata Kalsel tidak kalah dengan daerah lain.
Secara akronim, H-ijau Pariwisata yang menjaga hutan dan ekosistem (green tourism). A-sli: Pertahankan budaya Banjar yang otentik, bukan tiruan.
Kemudian R-amah, Budaya melayani yang tulus dari warga lokal. A-kses: Sinyal internet dan infrastruktur yang lancar. T-ertata: Pengelolaan yang profesional, tidak asal-asalan.
"Selaras dengan pekerjaan saya sebagai barista, berkaitan pula dengan salah satu sektor pariwisata yaitu ekonomi kreatif di bidang kuliner," ungkapnya.
Di bidang kopi ini ia ingin mendukung dan memberi tahu bahwa biji kopi yang ditanam di Kalimantan Selatan memiliki ciri khas dan rasa sendiri yang menjadi identitas daerah.
"Kopi bisa menjadi duta budaya. Orang mengenal suatu daerah lewat rasa kopinya," kata Adit.
Hal terpenting juga, pendukung di bidang ini adalah petani kopi yang mendapatkan harga lebih baik jika hasil buminya dijadikan komoditas wisata. (Salmah saurin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rizky-Aditya.jpg)