Berita Batola

25 Pokdakan Terdampak, Kerugian Ikan Mati di Batola Tembus Rp3,28 Miliar dan Berpotensi Bertambah

Sebagian ikan mati mengambang, sementara sebagian lainnya masih bertahan namun dalam kondisi lemah akibat rendahnya kadar oksigen terlarut

Penulis: Rifki Soelaiman | Editor: Ratino Taufik
Instagram @beritainformasikal
MATI MENDADAK - Tangkapan layar ikan di tambak warga Batola Kalsel, ditemukan mati secara tiba-tiba, Minggu (25/1/2026). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Kematian massal ikan di Sungai Barito membawa dampak serius bagi pembudidaya ikan di Kabupaten Barito Kuala. Sedikitnya 25 kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) di Kecamatan Marabahan, Bakumpai, hingga sebagian Kuripan terdampak langsung.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Batola, Suwartono Susanto, mengungkapkan hingga Rabu (28/1/2026), estimasi kerugian yang tercatat mencapai Rp3,28 miliar.

“Kerugian ini data per hari ini. Masih berpotensi bertambah seiring berjalannya waktu, karena tidak semua ikan mati sekaligus,” ujarnya dalam rapat gabungan di DPRD Batola.

Menurut Suwartono, jenis ikan yang paling terdampak adalah ikan nila. Sebagian ikan mati mengambang, sementara sebagian lainnya masih bertahan namun dalam kondisi lemah akibat rendahnya kadar oksigen terlarut di perairan.

“Ikan yang mati rata-rata sudah ukuran konsumsi. Sementara yang masih hidup kami imbau untuk segera dipanen bila memungkinkan, agar kerugian tidak semakin besar,” katanya.

Baca juga: Gagal Taman dan Puso Karena Terdampak Banjir, 114 Petani di Kabupaten Banjar Ajukan Klaim Asuransi

DKPP Batola telah berkoordinasi dengan DKPP Provinsi Kalimantan Selatan serta Balai Perikanan Air Tawar (BPAT) Mandiangin untuk menyiapkan langkah bantuan bagi pembudidaya terdampak.

“Kami sedang menginventarisir seluruh pokdakan yang terdampak. Insyaallah ada perhatian dan bantuan dari provinsi, tinggal kita lengkapi datanya,” jelas Suwartono.

DPRD Batola menilai peristiwa ini memiliki multiplier effect yang besar, tidak hanya bagi pembudidaya, tetapi juga rantai ekonomi perikanan di daerah.

Rapat gabungan merekomendasikan penelitian lanjutan untuk memastikan penyebab utama turunnya kualitas air, sekaligus mendorong langkah mitigasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.                              (Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved