Imlek 2026

Perayaan Imlek 2577/2026, Bersama dalam Keberagaman

Imlek 2577/2026 di Banjarmasin bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah momen pulang, momen berkumpul, dan momen meneguhkan kembali arti kebersamaan.

Penulis: Rifki Soelaiman | Editor: R Hari Tri Widodo
banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman
Ketua Harian PSMTI Kalsel, Arifin Suritiono 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Lampion-lampion merah mulai menghiasi sudut-sudut rumah warga Tionghoa. Aroma dupa perlahan tercium dari rumah-rumah yang bersiap menyambut pergantian tahun dalam penanggalan lunar. Di meja-meja keluarga, kue keranjang, jeruk, dan hidangan khas sudah mulai direncanakan untuk disajikan.

Imlek 2577/2026 di Banjarmasin bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah momen pulang, momen berkumpul, dan momen meneguhkan kembali arti kebersamaan.

Ketua Harian PSMTI Kalsel, Arifin Suritiono, menyebut perayaan Imlek dalam beberapa tahun terakhir memang dibuka seluas-luasnya untuk semua kalangan.

“Sebagai WNI yang penuh dengan kebhinekaan, kami membuka kesempatan untuk etnis lainnya untuk merayakan Imlek ini bersama-sama. Intinya kita ingin menjadi masyarakat Indonesia yang seutuhnya, tidak dibeda-bedakan, dan menyentuh kesetaraan,” ujarnya.

Menurutnya, lahirnya Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) pascareformasi 1998 merupakan bentuk spontanitas warga Tionghoa untuk berkumpul dan mempererat silaturahmi. Kini, organisasi tersebut hadir hampir di seluruh provinsi dan ratusan kabupaten/kota di Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan.

Di Banua, PSMTI menjadi ruang temu berbagai perkumpulan. Bukan untuk menaungi secara struktural, tetapi sebagai penyambung komunikasi dan kebersamaan.

“Hubungan dengan komunitas tetap dijalin dengan baik. Kami menjadi representasi dari perkumpulan itu juga,” katanya.

Bagi Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kalsel, Winardi Sethiono, Imlek adalah budaya leluhur yang sarat nilai kekeluargaan.

“Imlek itu kebudayaan dari leluhur, bukan bersifat keagamaan. Bagi warga PITI yang dulunya ikut merayakan, sekarang pun tetap berpartisipasi. Karena ada momen kumpul keluarga besar, bahkan yang dari luar daerah pun datang,” jelasnya.

Di tengah perbedaan keyakinan dan latar belakang, nilai yang dijaga tetap sama, yaitu menghormati budaya satu sama lain. Ia menyebut itulah Indonesia, tempat keberagaman dirawat, bukan dipertentangkan.

Di balik kemeriahan Imlek, ada denyut kebersamaan yang dirawat sepanjang tahun oleh berbagai perkumpulan Tionghoa di Banjarmasin.

Perkumpulan Fu Qing misalnya, telah ada sejak awal 1900-an sebagai ruang berkumpul warga. Ketua Fu Qing Banjarmasin, Teddy Indra, menceritakan awalnya komunitas itu lahir dari kebiasaan nongkrong dan berdiskusi, hingga akhirnya resmi terdaftar secara hukum pada 2004.

Kini, kegiatan mereka tak hanya arisan mingguan, tetapi juga olahraga, seni vokal, hingga basket. Semua menjadi cara menjaga kedekatan antar anggota.

“Imlek ini tradisi, bentuk syukur atas pergantian musim dan hasil panen. Kita rukun dengan berbagai perkumpulan lain. Pada dasarnya tidak ada perbedaan,” ujarnya.

Di komunitas FUBU atau Family Bhakti, semangat kebersamaan juga terasa. Sekretaris FUBU Banjarmasin, Djohan Jawonoe, menyebut komunitasnya merupakan bagian dari warga Hing Hwa asal Putien yang sejak dahulu dikenal memiliki keterampilan di bidang mekanik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved