Ummah
Menanam Benih Ibadah Menuju Gerbang Ramadan
Bulan Rajab 1447 Hijriah resmi dimulai pada 21 Desember 2025. Sebagai salah satu bulan istimewa dalam kalender Islam,
Penulis: Muhammad Fikri | Editor: Irfani Rahman
BANJARMASINPOST.CO.ID- BULAN Rajab 1447 Hijriah resmi dimulai pada 21 Desember 2025. Sebagai salah satu bulan istimewa dalam kalender Islam, kehadiran Rajab menjadi panggilan spiritual bagi umat Muslim untuk meningkatkan kualitas iman di tengah kesibukan dunia.
Ustadz Mothohar dalam penyampaiannya menjelaskan secara mendalam mengenai kedudukan dan keutamaan bulan ini.
Menurutnya, bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT (Asyhurul Hurum), sebagaimana ditegaskan dalam Surat At-Taubah ayat 36: “Inna ‘iddatash-shuhuuri ‘indallaahit-naa ‘ashara shahran fii kitaabillaah” (Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan).
Ustadz Mothohar menekankan bahwa bulan Rajab memiliki posisi strategis sebagai persiapan menuju Ramadan. “Bulan Ramadan kita bisa dilihat dari bulan Rajab kita. Maka mari kita mulai menanam ibadah kita di bulan Rajab ini,” ujarnya.
Beliau mengutip tamsil ulama bahwa Rajab adalah bulan menanam benih, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadan adalah bulan panen. Keistimewaan lainnya meliputi, Terjadinya Isra Mikraj (27 Rajab), perintah perubahan kiblat ke Ka’bah, Hijrah pertama ke Habasyah, hingga kemenangan Perang Tabuk.
“Amal baik seperti sedekah dan puasa mendapatkan pahala yang lebih besar dibandingkan bulan lain. Berasal dari kata at-tarjîb (mengagungkan), karena sejak zaman dahulu bulan ini sudah dimuliakan,” katanya.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Mothohar memberikan panduan konkret mengenai apa yang sebaiknya dilakukan umat Muslim, seperti memperbaiki salat. “Yang belum salat ayo kita menjaga salat 5 waktu kita di bulan Rajab ini. Yang sudah salat lima waktu, ayo kita tambah qobliyah ba’diyah kita serta sholat dan ibadah sunah yang lain,” ajak beliau.
Kemudian, ia menganjurkan puasa dari tanggal 1 sampai 10 Rajab. Jika tidak sanggup, beliau memberikan pilihan untuk mengambil tanggal 1 dan tanggal 10 saja. Jika masih tidak mampu, maka cukup di tanggal 10 Rajab.
Di bulan ini juga, sangat dianjurkan memperbanyak istighfar, sedekah, doa khusus Rajab, shalat malam, dan shalawat.
Ustadz Mothohar juga mengingatkan agar umat Muslim menjauhi kemaksiatan di bulan ini. Karena statusnya sebagai bulan mulia, maka dosa yang dilakukan pun akan dilipatgandakan konsekuensinya, sebagaimana pahala yang juga dilipatgandakan.
Terkait perdebatan hadis, beliau memberikan catatan penting bahwa meskipun banyak hadis spesifik tentang keutamaan Rajab dianggap lemah oleh sebagian ulama, memperbanyak ibadah umum tetap sangat disunnahkan untuk memuliakan bulan haram ini.
“Mari kita isi bulan ini dengan amal kesalehan sebagai bentuk kepatuhan atas ketetapan Allah atas waktu dan hukum-Nya,” pungkasnya.(rin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ustadz-Mothohar1.jpg)