Kesehatan

Obat-obatan yang Bisa Bikin Ngompol

Mengompol tidak hanya terjadi pada bayi dan anak-anak. Pada orang dewasa juga bisa terjadi, yang biasa disebut

Tayang:
Editor: Syamsudin
zoom-inlihat foto Obat-obatan yang Bisa Bikin Ngompol
Shutterstock
Ilustrasi

BANJARMASINPOST.CO.ID - JAKARTA - Mengompol tidak hanya terjadi pada bayi dan anak-anak. Pada orang dewasa juga bisa terjadi, yang biasa disebut indisebkontinensia. Ini adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak mampu mengendalikan keinginan berkemih.

Sebagian besar penderita inkontinensia adalah wanita. Pria lebih jarang mengalami gangguan ini, kecuali pada mereka yang telah menjalani operasi prostat. Banyak faktor pemicu inkontinensia pada orang dewasa, di antaranya yang paling umum adalah akibat kehamilan dan melahirkan. Hal ini biasanya disebabkan adanya perubahan otot di dasar panggul.

Selain itu, konsumsi obat-obatan tertentu setiap hari juga dapat memicu inkontinensia. Berikut adalah tujuh pengobatan yang mungkin dapat membuat Anda "mengompol" di celana:

1. Obat hipertensi

Orang yang memiliki tekanan darah tinggi dan mengonsumsi obat hipertensi seperti jenis alpha-blocker seperti doxazosin mesylate, prazosin hidroklorida, terazosin hydrochloride, mungkin berisiko mengalami inkontinensia.

Mengapa? Karena alpha-blocker bekerja untuk menurunkan tekanan darah dengan mengendurkan dinding pembuluh darah. Masalahnya, obat ini ternyata juga mengendurkan kandung kemih bersamaan dengan pembuluh darah. Hal ini membuat Anda rentan terhadap stres inkontinensia, yang memungkinkan urin keluar tanpa sengaja ketika Anda bersin, batuk, tertawa, berlari, atau melompat.

Apa yang harus dilakukan? Anda dapat memulai dengan melakukan latihan kegel untuk meningkatkan kemampuan Anda untuk mengontrol otot-otot kandung kemih. Kontrol otot yang baik mungkin bisa mengatasi efek relaksasi dari alfa-blocker. Tapi kalau hal ini benar-benar menjadi masalah bagi Anda, segera berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan bantuan medis. Untungnya, ada banyak pilihan obat untuk mengontrol tekanan darah, sehingga dokter mungkin akan mencoba menggunakan jenis calcium channel blocker atau kelas lain dari obat yang tak memiliki efek pada kandung kemih.

2. Terapi hormon

Terapi hormon yang dimaksud bisa dalam bentuk pil oral estrogen saja atau kombinasi antara estrogen dan progesteron.

Sejauh ini para peneliti tidak mengetahui secara pasti kenapa hal ini bisa terjadi. Bahkan sampai saat ini, terapi hormon masih dianggap dapat membantu mengobati masalah inkontinensia, tapi sekarang justru dapat memicu atau memperburuk inkontinensia.

Apa yang harus dilakukan? Bicarakan dengan dokter tentang efek penggunaan hormon topikal, seperti estrogen dan progesteron dalam bentuk krim, atau patch estrogen, yang tampaknya memiliki risiko lebih sedikit ketimbang pil hormon oral. Bahkan untuk beberapa wanita yang menggunakan hormon estrogen dalam bentuk krim atau patch, cara ini dapat membantu mencegah atau mengurangi inkontinensia.

3. Antidepresan dan obat mental lainnya

Seperti obat dengan efek antikolinergik, yang berarti obat yang menghambat neurotransmitter seperti nortriptylene, amitriptyline, desipramine, benztropine, haloperidol dan risperidone.Obat-obatan tersebut mempengaruhi elastisitas kandung kemih sehingga urin terus memasuki kandung kemih, yang menyebabkan inkontinensia.

Apa yang harus dilakukan: Jika Anda berpikir antidepresan atau obat lain antikolinergik mempengaruhi kandung kemih Anda, konsultaskan dengan dokter dan beralih untuk mencari alternatif pengobatan yang lain. Menariknya, beberapa antidepresan trisiklik diketahui dapat membantu masalah inkontinensia. Anda mungkin perlu bekerja sama dengan dokter untuk menentukan resep atau obat apa yang cocok untuk Anda konsumsi, yang tidak memiliki efek samping.

4. Diuretik

Berbagai macam obat diuretik dengan nama merek Bumex, Lasix, Aldactone atau jenis generik seperti bumetanide, spironolactone, furosemid, teofilin, dan semua jenis "thalazides" (seperti hydrochlorothiazide), adalah obat lini pertama yang paling sering diresepkan untuk hipertensi. Namun obat ini diketahui juga dapat memicu inkontinensia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved