Berita Tabalong

Produksi Gabah Surplus, Lima Desa di Tabalong Masuk Kategori Rentan Pangan, Ini Penyebabnya

Meskipun secara jumlah ketersediaan pangan mengalami surplus atau berlebih namun ada lima desa yang masuk dalam kategori rentan pangan..

Produksi Gabah Surplus, Lima Desa di Tabalong Masuk Kategori Rentan Pangan, Ini Penyebabnya
HO/Humas Pemkab Tabalong
Bupati Tabalong H Anang Syakhfiani meresmikan Cek Dam di Desa Masingai II Kecamatan Upau, Tabalong, Selasa (29/01/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG - Kabupaten Tabalong memiliki lahan pertanian yang luas dengan hasil produksi beras yang lebih dari cukup. Pada tahun 2018 Kabupaten Tabalong bahkan pencapaian hasil produksi gabah melebihi target.

Kepala Bidang Ketersediaan Pangan Ir H Khairin mengatakan pada 2018 produksi Gabah Kering Giling (GKG) mencapai 140.222 ton, ketersediaan beras 87.975 ton dan kebutuhan beras 30.861 ton.

"Untuk ketersediaan gabah surplus 57.114 ton dan dijual keluar daerah untuk meningkatkan perekonomian para petani," ujarnya, Selasa (12/02/2019).

Meskipun secara jumlah ketersediaan pangan mengalami surplus atau berlebih namun ada lima desa yang masuk dalam kategori rentan pangan.

Rentan pangan artinya jumlah konsumsi lebih tinggi dibanding dengan ketersediaan pangan. Rentan pangan harus segera ditangani agar tidak masuk menjadi rawan pangan yang memang tidak ada lagi ketersediaan pangan.

Baca: Slank dan Inka Cristie Bakal Meriahkan Deklarasi Geopark Meratus Kalsel di Desa Kiram

Baca: Perhitungan Nilai Seleksi Calon Anggota Komisi Informasi Kalsel Direncanakan Secara Terbuka

Ir H Khairin menambahkan lima desa yang masuk dalam kategori rentan pangan adalah Desa Salikung dan Binjai Kecamatan Muara Uya, Desa Kumap dan Pampanan Kecamatan Pugaan dan Hapalah Kecamatan Benua Lawas.

"Rentan pangan bukan berarti tidak ada makanan yang bisa dimakan oleh warga, bisa juga karena selain luas lahan pertanian kurang juga akses distribusi makanan pangan yang terhambat, karenanya ada sembilan indikator dalam penentuan daerah rentan pangan ini," ungkapnya.

Indikator masuknya daerah dalam kategori rentan pangan di antaranya adalah jumlah warung atau toko yang menjual bahan makanan, persentase warga miskin dan  jalan utama desa yang dapat dilalui kendaraan roda empat atau lebih.

Persentase penduduk tanpa akses listrik juga mempengaruhi, selain itu juga jumlah kematian balita dan ibu saat melahirkan, jumlah penderita gizi buruk, jumlah sarana kesehatan dan rumah tangga tanpa akses air bersih.

"Untuk mengentaskan kelima desa tersebut dari kategori rawan pangan, harus ada penguatan dari seluruh indikator yang memang menjadi tanggung jawab dari seluruh pihak di Pemerintah Daerah," ungkapnya. (Banjarmasinpost.co.id/Reni Kurnia wati)

Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved