Membuka Topeng Terorisme Indonesia
Dalam Agustus dan September kita kembali menyaksikan aksi terorisme di Solo, disusul di Bogor Jabar. Mengapa aksi terorisme tidak
Dalam Agustus dan September kita kembali menyaksikan aksi terorisme di Solo, disusul di Bogor Jabar. Mengapa aksi terorisme tidak pernah berakhir di Indonesia?
Pertanyaan berikutnya adalah siapakah kelompok-kelompok ini? Apakah benar kelompok ini hendak menerapkan Syariat Islam dalam bentuk daulah khilafah islamiyah? atau barangkali ada permainan intelijen Asing di Indonesia?
Kita tidak bisa melihatnya secara parsial kasus terorisme di Indonesia saja, melainkan saling berkaitan dari peristiwa WTC Pentagon 2001.
Kita akui ada orang Indonesia yang menjadi pelaku terorisme, tetapi benarkah mereka berdiri sendiri? Pertama, boleh jadi mereka melakukan sendiri dan untuk kepentingan sendiri, tetapi kemudian ditunggangi. Kedua, boleh jadi mereka diprovokasi dan diperalat untuk kepentingan orang lain. Ketiga, mereka tidak tahu, kemudian dimanfaatkan.
Peristiwa 11 September 2001 yang meluluhlantakkan Gedung WTC di Pentagon Amerika Serikat berbagai pakar dan ahli melihat ada kejanggalan yang tidak terungkap atau bahkan menyimpang dari realitas peristiwa sebenarnya.
Kejanggalan setelah peristiwa tersebut adalah mengapa seluruh warga negara AS keturunan Yahudi sekitar delapan ribu orang dua jam sebelum serangan dipulangkan, kejanggalan lainnya menurut ahli arsitek, kalau hanya diserang melalui atas gedung, mengapa yang hancur justru dari bawah dan meratakan gedung, tidak bagian atasnya saja.
Ini berarti kemungkinan ada bom dipasang di setiap lantai di gedung tersebut. Namun setelah serangan itu langsung disimpulkan dilakukan oleh Teroris Al Qaeda, tanpa lebih dahulu melakukan penyelidikan dan penyidikan. Di sinilah propaganda itu dimulai.
Kejanggalan-kejanggalan mengenai fakta-fakta tersebut baru delapan tahun terungkap setelah kejadian. New York Time disusul oleh American Free Press dan Press TV mengungkapkan serangan 11 September 2001 dilakukan Agen Mossad Negara Zionis Israel, salah satunya pelakunya dalah Ziad Al Jarrah yang mendapat Order dari Ali Al Jarrah mata-mata Israel yang bekerja selama 25 tahun di Mossad.
Setelah peristiwa 11 September, AS mengajak negeri-negeri muslim ikut dalam propaganda War on Terrorizm (WOT) ini, bahkan penguasa negeri muslim hanya dibuat dua pilihan. Kata Walker Bush “Either you are with us, or you are with terrorist” (Anda ikut bersama kami, atau menjadi bagian dari teroris).
Artinya yang tidak sejalan dengan AS adalah teroris, akhirnya ada ketakutan negeri muslim kalau tidak mau mengikuti keinginan AS, mereka digolongkan negara teroris. Propaganda WOT ini juga menerpa Indonesia dengan menuduh Indonesia sebagai sarang teroris, meskipun pada waktu itu selalu disangkal oleh berbagai pihak termasuk Wakil Presiden Hamzah Haz.
Bukti tuduhan-pun direalisasikan dengan peristiwa Bom Bali 12 Oktober 2002. WOT yang menjadi propaganda AS ini akhirnya diterima pemerintah. Ada kejanggalan dan beberapa fakta yang tidak terungkap dalam serangan Bom Bali I ini.
Pertama, pemerintah AS dua hari sebelum ledakan mengeluarkan peringatan kepada warga untuk waspada akan ada serangan teroris, jangan ada di kerumunan ramai. Menurut AC. Manullang (mantan BAKIN), dalam dunia intelejen “waspada” adalah perintah meninggalkan tempat, jadi tanda-tanda akan adanya aksi sudah diketahui AS dan sudah dapat dipastikan.
Artinya AS sudah mengetahui Bom Bali akan terjadi dan ini ada dua kemungkinan intelijen AS sangat bagus dan Indonesia tidak, atau ini sebuah “rekayasa”.
Kedua, dalam peristiwa Bom Bali I ada dua ledaka yang pertama dalam skala kecil, dan ledakan kedua berkekuatan tinggi. Menurut mantan Ketua BIN waktu itu ZA Maulani (Alm), realita bom yang dipakai (Cn4) hanya dimiliki empat negara yaitu Amerika, Inggris, Rusia, Israel.
Fakta hukum yang terungkap di persidangan hanya ledakan pertama yang diakui Amrozi Cs di Persidangan. Ini menunjukan aksi mereka telah ditunggangi. Di sinilah permainan pihak lain, ada kemungkinan intelijen asing bermain.
Demikian pula dalam beberapa peristiwa ledakan bom di Indonesia selalu diikuti sejumlah kejanggalan.
Kekeliruan Penanganan
Selama ini penanggulangan terorisme dilakukan dengan dua cara yaitu pencegahan yang dilakukan BNPT dan pemberantasan oleh Densus 88.
Dalam kajian empirik dan investigasi penanggulangan terorisme yang dilakukan Densus 88 selalu mengedepankan kekerasan dan tembak di tempat tidak hanya pada pelaku juga keluarga korban yang tidak bersalah. Oleh karena itu perlu evaluasi dalam perlakuan pemberantasan terorisme.
Begitu juga tindakan pencegahan yang dilakukan BNPT justru salah sasaran, bukannya membuat program penyadaran terhadap pelaku teroris yang dipenjara ataupun menyadarkan keluarga pelaku teroris yang jumlahnya sudah bisa dipetakan BNPT.
Dengan anggaran ratusan miliar rupiah, BNPT justru menggarap ormas, pesantren, sekolah dan masjid. Mereka mensosialisasikan interpretasi pemahaham Islam BNPT, kepada orang ataupun komunitas yang bukan merupakan komunitas yang melakukan aksi terorisme.
Karena logika BNPT radikalisme keagamaan menjadi hulu dari terorisme, berbagai forum digelar dengan beragam titel, yang intinya langkah sosialisasi dan revisi pemikiran keagamaan dengan substansi Islam ala BNPT, yang hakikatnya sebuah penghalusan dari narasi tipis Islam liberal dan moderat.
Dilihat dari sasaran proyek deradikalisasi BNPT justru menjangkau semua segmen masyarakat. Upaya indoktrinasi untuk membangun imunitas agar tidak terkontaminasi oleh kelompok radikal atau teroris yang selama ini dikalkulasikan dalam jumlah yang sedikit.
Kalau ini sudah terjadi, bukan hanya masyarakat yang dirugikan, tetapi juga negara. Kecuali, jika pemerintah yang berkuasa ingin memerintah dengan model manajemen konflik seperti untuk menghilangkan kegagalannya dalam mensejahterakan, memberikan keadilan pada rakyat. Seperti ingin, menenggelamkan kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat dan petinggi negeri ini, sehingga kasus terorisme jadi kominitas politik. Semoga tidak. (*)
Dosen Kriminologi Fakultas Hukum UNLAM