Silaturahmi

SILATURAHMI atau silaturahim, keduanya sama berasal dari bahasa Arab, terdiri dari dua suku kata yaitu: shilah artinya hubungan, dan rahmi/rahim artinya kasih sayang.

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA

SILATURAHMI atau silaturahim, keduanya sama berasal dari bahasa Arab, terdiri dari dua suku kata yaitu: shilah artinya hubungan, dan rahmi/rahim artinya kasih sayang.

Bila dikatakan bersilaturahmi/bersilaturrahim maksudnya adalah mengikat tali persahabatan (persaudaraan). (WJS Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia).

Dalam Islam, silaturahmi adalah sebagai upaya untuk menyambung, mengikat dan menjalin kasih sayang. Kata rahmi/rahim berasal dari kata kerja rahima-yarhamu-rahmah dan marhamah artinya: Raqqa alaih (menaruh kasihan kepada seseorang) atau syafaqa alaih (menyayangi). (Kamus Al-Munawwir hal. 518).

Kata kerja ini muncul dari akar kata ar-rahmi atau ar-rahim, yaitu tempat tersimpannya janin, itulah rahim seorang ibu. Kata ini menjadi simbol (kinayah) kasih sayang; karena janin menjadi aman dalam perlindungan “rahim”.

Jika ini direlevansikan dengan kehidupan, maka seseorang menjadi aman karena adanya perlindungan yang dimotivasi oleh kasih sayang (B Arab, rahmah). Kasih sayang menjadikan adanya kedekatan (B Arab, qarabah). Mereka yang mempunyai hubungan dekat, diistilahkan sahabat karib.

Kehidupan antarmanusia akan berjarak jauh laksana jauhnya Timur dan Barat, kendati duduk berdampingan jika tidak ada kasih sayang. Sebaliknya jarak menjadi hapus kalau terdapat kasih sayang, pepatah mengatakan “jauh di mata dekat di hati.”

Dalam Islam, terjalinnya silaturahmi dapat melalui aktivitas bernilai dan diberi nilai ibadah di sisi Allah SWT, antara lain:

Pertama: Melalui salam. Salam adalah tegur sapa, bisa langsung ketika bertemu, lewat ucapan per telepon, lewat tulisan surat/SMS dan berbagai media internetan atau chatting kata orang sekarang.

Salam islami berbentuk doa: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Orang yang menerima salam, wajib menjawab dengan yang lebih baik atau sepadan.

Allah SWT berfirman: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan.” (QS An-Nisa 86).

Terhadap nonmuslim, salam cukup diucapkan yang umum, seperti selamat pagi umpamanya. Apabila ada seorang nonmuslim mendahului dengan salam islami, cukup dijawab wa’alaika atau assalamu ‘alamanittaba’al-huda (kesejahteraan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk). Orang yang mendahului salam, lebih utama dari yang menjawab. Nabi SAW sampai mendahului salam untuk anak-anak sekalipun.

Kedua: Memberikan makanan atau menjamu orang lain mempunyai nilai silaturahmi yang tinggi, bahkan merupakan pertanda kesempurnaan mengikuti Nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda: Laitsa minna man baata syab’aanan wa jaaruhu jaa’iun, artinya: “Bukanlah termasuk golongan kami (yang sempurna imannya) orang yang tidur dalam keadaan kenyang sedang tetangganya dalam keadaan lapar.” (HR Ahmad).

Ketiga: Ucapan-ucapan lembut ketika menegur, menyampaikan perintah atau instruksi, mengkritik dan bertanya. Allah SWT menasihati Nabi Musa AS dan Nabi Harun as untuk menemui Fir’aun yang garang dan mengaku Tuhan: Faqulaa lahu qaulan layyina ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang lembut (QS Thaha 44).

Keempat: Saling berkunjung, apalagi terhadap orang yang sakit. Tetapi Nabi SAW menganjurkan kunjungan dilakukan tidak terlalu sering, agar menambah kerinduan, zur niddan, tazdad hubban.

Kelima: Bertukar hadiah dan pemberian, apalagi terhadap orang yang kekurangan. Nabi SAW bersabda: Tahaadau tahaabbu artinya: “Saling memberi hadiahlah antarkalian niscaya menimbulkan rasa kasih sayang.”

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved