Jendela

Sederhana, Antusias dan Jujur

Sudah maklum, ilmu tidak otomatis melahirkan amal. Orang perlu berjuang untuk mendapatkan ilmu, dan berjuang lagi untuk mengamalkannya.

Tayang:
Editor: Ratino Taufik
Foto Ist
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin 

Oleh: Mujiburrahman
Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - GERIMIS masih enggan berhenti, setelah hujan panjang sejak tadi malam. Seorang ibu, memakai jas hujan, mendorong gerobak yang ditutup plastik. Sebuah payung terbuka menancap di gerobak itu, turut melindungi si ibu dari tetesan hujan. Saya tak sengaja melihatnya, lewat di gang depan rumah kami. Di tengah dingin air dan angin, dia bersuara keras, “Jagung…jagung…jagung.” Tiba-tiba dia berhenti di depan rumah tetangga kami, yang mau membeli jagung rebus si ibu. Dia tampak lega.

Lain waktu, kala cuaca agak cerah di pagi hari, seorang Bapak lewat di gang kami, mengendarai sepeda motor yang dipenuhi kerupuk, yang sudah dikemas dalam bungkus plastik. Dia tersenyum dan menegur saya, “Mari pak,” katanya santun. Saya tersenyum, lalu sedikit menunduk memberi hormat. Dia adalah tetangga kami, yang bekerja menjual kerupuk. Dia membungkus kerupuk-kerupuk itu di rumah, kemudian membagikannya ke berbagai warung mitra dagangnya di seputar kota.

Diam-diam, saya terharu dan kagum pada orang-orang sederhana itu. Kemungkinan besar, mereka bukan orang yang berpendidikan tinggi dan hidup pas-pasan bahkan miskin. Namun, mereka tak pernah berputus asa. Hidup dijalani dengan penuh gairah dan antusias. Tak ada kata menyerah, apapun dilakukan demi mencari nafkah yang halal, meskipun harus keliling kampung bersama gerobak sambil diguyur hujan atau dibakar matahari. Tak ada kata berhenti, meskipun harus membawa kerupuk bergelantungan kesana-kemari, dalam hujan atau panas.

Saya jadi teringat pada dialog dengan para peserta pelatihan sertifikasi pembimbing ibadah haji pada Jumat lalu. Salah seorang peserta bertanya, “Bagaimanakah memahamkan kepada orang awam perihal hikmah dan filosofi haji?” Setelah berhenti sejenak, saya mencoba menanggapi. “Orang awam, yang pendidikannya tidak tinggi, belum tentu secara moral dan ruhani lebih rendah dari kaum terpelajar. Seringkali, justru karena kesederhanaannya, orang awam menerima agama dengan penuh keyakinan, dan berusaha sungguh-sungguh mengamalkannya dalam kehidupan,” kataku.

Sudah maklum, ilmu tidak otomatis melahirkan amal. Orang perlu berjuang untuk mendapatkan ilmu, dan berjuang lagi untuk mengamalkannya. Karena itu, pendidikan yang tinggi tidak menjamin moralitas yang tinggi. Bukankah para koruptor di negeri kita mayoritas berlatarbelakang pendidikan tinggi? Berbagai masalah serius seperti penyelewengan uang negara, kerusakan alam, layanan publik yang buruk, dan penegakan hukum yang lemah, seringkali bukan karena ulah orang awam, melainkan karena kaum elit terpelajar, yang berada di lapisan atas dalam struktur masyarakat kita.

Suatu pagi istri saya mengambil uang tunai di ATM, lalu belanja ke pasar tradisional, membeli sayur dan ikan. Dari pasar, dia berangkat menghadiri satu kegiatan hingga siang. Setelah balik ke rumah, dia sudah sangat lelah, lalu beristirahat. Sore harinya dia baru sadar bahwa dompet serta kartu ATM-nya tidak ada. Dia segera menelepon salah seorang pedagang pasar. Istri saya bertanya, “Apakah ibu ada melihat atau menemukan dompet saya tertinggal?”. “Tidak ada bu. Jangankan dompet, sayur saja kalau punya orang lain, kami akan amankan. Mungkin tertinggal di pedagang lain,” katanya.

Si pedagang berjanji akan menghubungi beberapa pedagang lain, yang tadi pagi juga bertransaksi dengan istri saya. Kami sempat berniat untuk memblokir kartu ATM itu. Namun, sekitar dua jam kemudian, dia menelepon. “Dompet ibu ada. Sebenarnya seorang tukang becak sudah berusaha mengembalikan ke rumah ibu, tetapi rumah ibu sepi tadi siang,” katanya. Kami tentu saja lega. Istri saya berjanji, besok pagi dia akan ke pasar mengambil dompet itu. Sesuai janji, pagi-pagi istri saya ke pasar, dan bertemu dengan para pedagang yang baik hati itu. Juga dengan tukang becak.

Istri saya kaget melihat dompetnya dibungkus dan diikat dalam kantong plastik. “Kami tak berani membuka dan melihat dompet ini,” kata mereka. Ungkapan mereka polos dan tulus. Terbukti, ketika istri saya memberikan sedikit imbalan kepada si tukang becak, dia bersikeras menolak. “Jangan bu, tidak perlu,” katanya. Dia baru menerima setelah uang itu diselipkan istri saya dengan sedikit memaksa. Ya Allah. Meskipun hidup pas-pasan, orang-orang sederhana ini sangat sadar, mana yang betul-betul hak mereka, dan mana yang bukan; mana yang halal, dan mana yang haram.

Dengan memaparkan berbagai kejadian nyata di atas, bukan berarti saya menganggap bahwa semua orang awam dan kurang berpendidikan itu jujur dan baik serta rajin bekerja. Dalam semua lapisan masyarakat, entah kelas bawah, tengah atau atas, di situ biasanya ada orang baik dan orang jahat, orang jujur dan orang culas. Namun, ada satu poin penting di balik berbagai peristiwa itu, yakni jika orang awam dan miskin bersedia dengan penuh antusias mencari nafkah yang halal, dan enggan mengambil yang bukan haknya, maka kaum elit terpelajar seharusnya lebih baik dari itu, bukan?

Apalagi jika kita tergolong kelas berpunya, mendapatkan gaji yang lumayan, dan ada jaminan pensiun di hari tua. Bukankah rakyat kecil seringkali hidup untuk hari ke hari saja? Mengapa orang yang hidupnya lebih nyaman dan terjamin justru tak pernah merasa cukup alias serakah, lalu mau melakukan apapun, tak peduli halal-haram, hak-batil, demi mendapatkan uang lebih banyak? “Rasa malu adalah sebagian dari iman,” kata Nabi. Iman adalah percaya pada yang baik dan benar. Lawan iman adalah kufur. “Jika kau tak punya malu, lakukan apapun yang kau mau,” kata Nabi.

Jika kita sudah tak punya rasa malu, berarti kita sudah tak lagi menjadi manusia! (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved