Indonesiaku Kini

Di usia kemerdekaan 68 tahun, meskipun kaya raya dengan sumber daya alam, namun hingga kini masih banyak didaulat

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin

INILAH Indonesiaku (kita) masa kini.

“Di usia kemerdekaan 68 tahun, meskipun kaya raya dengan sumber daya alam, namun hingga kini masih banyak didaulat oleh perusahaan negara asing”, tulis Media Umat edisi 116 hal 5. Demikianlah, Rektor Universitas Gajah Mada, Prof Pratikto, dalam seminar nasional menyambut pra Munas Kagama XII 2014 di Kendari (Sabtu 9/11).

Ia mengungkapkan bahwa kondisi Indonesia sudah mengkhawatirkan, dilihat dari kepemilikan aset nasional hingga saat ini sekitar 70-80 % aset negara telah dikuasai bangsa asing; dicontohkan antara lain bidang perbankan lebih dari 50 %, migas dan batu bara antara 70-75 %, telekomunikasi sekitar 70 %, pertambangan hasil emas dan tembaga mencapai 80-85 %. Kecuali sektor perkebunan dan pertanian, baru dikuasai sekitar 40 %.

Masih tulis Media Umat, cengkeraman asing ini kian hari kian kuat. Sekretaris Indonesian Islamic Business Forum, Aswandi As’an mengungkapkan data penguasaan asing: pasar tekstil 80 %, pasar farmasi juga 80 %, produk teknologi 92 %.

Di pasar induk Cipinang tidak ada lagi beras lokal. Ekonomi Indonesia dinilai sudah tidak mempunyai daya saing, terbukti pada 2005 saja ada 429 perusahaan tekstil yang kolaps, 200 industri gulung tikar dan di 2010 devesit perdagangan dengan China mencapai 53 triliun rupiah. Juga dikuasai asing pasar minuman ringan 40 % pasar, air minum dalam kemasan 93 %, dan susu 50 %.

Sementara rezim asing perlahan tapi nyata merenggut kekayaan bangsa dan negara ini, seiring itu pula produk asing membanjiri kehidupan masyarakat Indonesia; air minum aqua 75 % sahamnya milik Danone perusahaan Perancis; Teh Sariwangi 100 % saham milik Uniliver Inggris; susu SGM milik Sari Husada 80 % sahamnya dikuasai Numico Belanda; sabun Lux dan Pepsodent milik Uniliver Inggris; dari Thailand diimpor beras, gulanya juga impor (Gulaku), rokok Sampoerna 97 % saham milik Morres Amerika.

Mobil dan kendaraan bermotor buatan Jepang, Cina, India dan Eropa. AC buatan Jepang dan Cina. Komputer, Handphone (operator Indosat, XL, Telkomsel semuanya milik asing: Qatar, Singapura dan Malaysia). ATM BCA, Danamon, BLL, Bank Niaga milik asing nama Indonesia. Semen Tiga Roda, Indosement, 61,70 % milik Heidelberg Jerman; semen Gresek milik Cemex Meksiko, Semen Cibinong milik Holcim Swiss. Black Berry atau HP merek lainnya bautan Cina, Korea, Jepang, Taiwan, Eropa dan Kanada. (Media Umat, No. 116)

Akar rumput bertanya, kalau begini apa yang dilakukan oleh penguasa selama ini dan kini? Adakah upaya penyelamatan bangsa dan negara ini? Atau kah para penguasa hanya menikmati kursi empuk kekuasaan sementara berkuasa dan agar tetap empuk setelah tidak berkuasa?

Indonesia memerlukan pemimpin, seperti yang dikatakan oleh KH Hasyim Muzadi; jujur dan amanah, kerja keras dan bukan agen asing.

Ya Allah, berilah kami pemimpin seperti yang Engkau firmankan: “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar... “(QS Al Hajj : 41)

Tags
Fikrah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved