Khutbah Jumat
SEJAK 1985-an, penulis menetap di Banjarmasin dan didaulat menyampaikan khutbah Jumat di berbagai masjid
Oleh: KH Husin Naparin
SEJAK 1985-an, penulis menetap di Banjarmasin dan didaulat menyampaikan khutbah Jumat di berbagai masjid; sepanjang tahun setiap Jumat tidak ada yang kosong. Aku termasuk orang yang tidak mempersoalkan teknis berkhutbah, apakah di masjid yang azannya dua kali, di atas mimbar, pakai tongkat dan sorban, ataukah masjid yang adzannya satu kali, di atas podium, tanpa tongkat dan tanpa sorban.
Menurut hemat penulis dalam berkhutbah yang terpenting khutbah dapat didengar dan diserap oleh jemaah, membawa kesejukan, kedamaian dan kesatuan umat; to the point, tidak bertele-tele dan membosankan.
Karena kesibukan dan kondisi fisik, dalam beberapa tahun terakhir ini aku tidak lagi berkhutbah, kecuali sekali setahun dalam khutbah Idul-Fitri di Masjid Jami, Banjarmasin, dan sekali khutbah Jumat di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin.
Kini aku dapat salat Jumat di masjid mana saja yang disukai sebagai jemaah biasa, kendati sering juga didaulat menjadi imam.
November 2013, aku pulang kampung dan salat Jumat di Masjid Syuhada, Hujan Mas/Kalahiang, ± 5 km dari ibu kota Kabupaten Balangan, Paringin. Masjid kecil mungil ini dibangun ± 1940-an, menurut versi BPost Group dalam Mozaik 42 Masjid, termasuk masjid terindah di Kalsel.
Berdiri kokoh di tepi kali Balangan, ditopang tiang guru dari kayu ulin tanpa sambungan, ± 1,5meter di atasnya berlukis lukisan khas Banjar; dindingnya terdiri dari jendela kaca kristal warna-warni sehingga di waktu malam nampak indah sekali bila lampu-lampu dinyalakan di dalamnya.
Di masjid ini aku dididik agama oleh orang tuaku, karena rumah kami berseberangan dengan masjid ini. Demikianlah Jumat itu aku sebagai jemaah menyimak khutbah (ustadz Ardiansyah), berisikan bahwa salat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (QS Al-Ankabut ayat 45). Tetapi berapa banyak orang yang mengerjakan salat, namun belum mampu mencegahnya dari keji dan munkar, karena salatnya dikerjakan tanpa ikhlas; jauh dari khusyuk dan minim zikir.
Beberapa waktu berikutnya aku salat di Masjid Jami Banjarmasin; sang khatib (ustadz H Nurdin Azhari Lc) memaparkan, bahwa banyak manusia sekarang lupa diri (sebagai makhluk ciptaan Allah SWT harus beribadah kepada-Nya), bahkan menempatkan diri sebagai Tuhan. (QS Al-Baqarah ayat 21).
Berikutnya lagi, aku salat Jumat di Masjid Nurul Anwar, Marabahan, Batola; hari itu merupakan peresmian masjid dan salat Jumat perdana.
Khatibnya juga muda (ustadz H Mubarak MAg, putra pertama KH.Muhammad Qasthalani Lc) mengingatkan umat beriman berkewajiban memakmurkan masjid dan memakmurkan masjid adalah pertanda orang beriman (QS At-Taubah ayat 18).
Dalam tulisan ini penulis ingin mengatakan, bahwa khutbah yang ringkas tapi jelas yang dapat diserap oleh jemaah dengan baik.
Sebagai jemaah, penulis juga pernah salat Jumat yang khatibnya berkhutbah panjang lebar, bertele-tele, luas namun dangkal, dan membosankan; ternyata sulit untuk diserap dan diambil kesimpulan.
Bahkan jamaah tidak fokus mendengarkan dan Salat Jumat dikerjakan dengan hati mendongkol.
Usai salat, sebagian besar jemaah langsung berdiri keluar masjid, wirid dan doa sudah tidak terpikirkan lagi, ada yang terburu-buru ke kamar kecil, ada yang langsung naik kendaran karena tugas sudah lama menanti. Hal ini terjadi di ibukota Jakarta tetapi juga di beberapa masjid di Banjarmasin.
Bukankah khairul kalami ma qalla wa dalla’, artinya sebaik-baik perkataan adalah ringkas jelas. (*)