Pak Asy’ari dalam Kenangan
Pada zaman dahulu masyarakat memasak tidak menggunakan kompor seperti sekarang, apalagi kompor gas.
Oleh: KH Husin Naparin
PADA zaman dahulu masyarakat memasak tidak menggunakan kompor seperti sekarang, apalagi kompor gas. Untuk memasak dibuat atang (tempat yang agak tinggi seperti meja), di atasnya dibuat tungku atau ditaruh dapur yang terbuat dari tanah liat untuk mananggar (menempatkan) peralatan memasak seperti panci, kuali sesuai keperluan.
Di tungku atau dalam dapur itu selalu ada bara api menyala, tidak pernah dipadamkan; asapnya selalu mengepul untuk mengeringkan kayu bakar yang ditaruh di atas langit-langit atang, dinamai salayan. Di kolong atang ditaruh kayu bakar yang sudah kering atau peralatan dapur lainnya.
Demikianlah, suatu pagi di sebuah rumah sepasang suami istri membakar biji nangka lima butir yang ditaruh di dalam bara api. Setelah diperkirakan masak, biji nangka yang sudah menghitam itu diambil satu per satu, Sang istri ribut dan berteriak: ‘’Kak, kenapa biji nangka menjadi tujuh biji padahal tadi hanya lima’’.
Sang suami menjawab: Oh, itulah yang namanya Tuhan Mahakaya. Setelah semuanya dimasukkan ke dalam piring, diketahui dua biji berbeda dengan yang lain. Memang beda, karena yang dua itu adalah tahi kucing kering. Lalu sang suami melempar dan membantingnya sambil berkata gusar: Tuhan aniaya.
Inilah cerita pendek yang penulis dapatkan dari Pak Asy’ari. Penulis sudah lupa apa relevansi munculnya cerita ini. Kisah ini muncul dalam pertemuan santai dengan beberapa teman, termasuk almarhum Pak Asy’ari; ajang bercanda, baadu kisah. Anekdot ini berkali-kali penulis ungkapkan dalam pengajian untuk mendukung materi.
Manusia suka menyalahkan Tuhan, ketika mendapat musibah. Renungkan, mengapa pasangan suami istri itu hampir termakan tahi kucing? Bukan salah Tuhan, tetapi salah sendiri, akibat purici (jorok), dapur, menjadi tempat kucing kencing dan berak, itulah pentingnya kebersihan.
Pak Asy’ari telah tiada, sudah lebih dari 40 hari beliau meninggalkan kita. Beliau yang terlahir di Banjarmasin17 Oktober 1934, meninggal pada Kamis malam Jumat ± pukul 19.20, 5 Desember 2013 M/3 Muharram 1435 H, dalam usia + 79 tahun. Tidak saja keluarga beliau yang merasa kehilangan yaitu: Hj Rosdiana (istri), anak-anak: Sir Ahmad Rizhan, Nina Sofia Agustin, Erlina Sari Muslimah dan Muhammad Shahreza Canadia; tetapi juga dunia almamater.
IAIN Antasari Banjarmasin kehilangan seorang tokohnya. Pak Asy’ari adalah dekan pertama Fakultas Tarbiah. Berbagai jabatan lainnya di IAIN beliau jabat, tertinggi adalah sebagai Rektor menggantikan KH Mastur Jahri MA, (periode 1983-1987) dan jabatan kedua sebagai rektor periode 1988-1992. Pada 1 September 1999 beliau memasuki masa purnatugas setelah mengabdi lebih dari 39 tahun.
Sesudah itu beliau masih mengabdikan diri di IAIN, sebagai dosen pada Pascasarjana. Lembaga Pendidikan Islam SMIP 1946 Banjarmasin merasa kehilangan, karena beliau adalah seorang alumni (angkatan II, 1952). Teman-teman beliau seangkatan antara lain adalah (alm) DR H Alfani Daud, (alm) KH Irsyad Jahri (alm) dan H A Kusairi SH.
Pak Asy’ari pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Yayasan periode 1984-1989 dan periode 2000-2005; selanjutnya selalu aktif sebagai penasihat memberikan sumbangsih pemikiran untuk kemajuan pendidikan, khususnya di SMIP 1946 Banjarmasin ini. Dalam setiap acara beliau suka mengabadikan diri dengan foto bersama.
Pak Asy’ari berkesempatan studi S2 pada Mc Gill University Montreal Canada yang beliau selesaikan pada 1977. Waktu itu penulis sedang study di Al-Azhar University, Kairo, Mesir. Dalam perjalanan pulang Kanada-Indonesia, berkesempatan singgah di Kairo. Penulis mendapat kehormatan mendampingi beliau selama di Mesir.
Beliau menginap di rumah Bapak (alm) H Abdulmanan Bukhari Lc, seorang pegawai kedutaan besar RI. Istri Pak Manan, Hj Murni BA sebelumnya adalah murid pak Asy’ari di IAIN Antasari. Pak Asy’ari menuruskan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji; setelah menikmati udara segar di Kairo-Mesir, menyaksikan Piramida, mengunjungi Al-Azhar dan Cairo University, menziarahi Masjid Imam Hussein dan kubur Imam Syafi’i, menaiki Cairo Tower dan lain-lain pesona Negeri Fir’aun.
Allah Yarham Bapak Drs H Muhammad Asy’ari MA. (*)