Berdamai dengan Bencana

Sejak awal 2014, sekujur negeri ini tak henti didera bencana. Kejadian juga merata, hampir semua provinsi di Indonesia.

Editor: Dheny Irwan Saputra

SEJAK awal 2014, sekujur negeri ini tak henti didera bencana. Kejadian juga merata, hampir semua provinsi di Indonesia. Banjir di Manado, dan sejumlah kota besar di Pulau Jawa. begitu juga dengan tanah longsor. Puluhan orang menjadi korban jiwa, dan ratusan lainnya terluka, dan mengungsi.

Ancaman banjir dan longsor hingga sekarang juga belum menunjukkan tanda mereda. Di belahan lain, persisnya di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, ribuan orang mengungsi dan merenggut belasan korban jiwa akibat amukan Gunung Sinabung. Gunung yang tak menampakkan gejala vulkanologis sejak 200 tahun, itu belakangan mengumbar erupsinya.

Pekan lalu, belasan orang menjadi korban semburan awan panas. Kita berduka dengan bencana beruntun itu, apalagi jatuh korban jiwa tidak sedikit. Namun berduka, dan ikut menyatakan bela sungkawa saja tak cukup, terutama para pemangku kepentingan. Mereka harus berbuat lebih dari itu, apalagi menjadi kewajiban pertama dan utama mereka mengantisipasi bencana.

Lewat BPBD di masing-masing daerah, selayaknya mulai membiasakan hidup dengan bencana. Tapi, tentunya hidup dengan cerdas, yakni berdamai dengan bencana. Caranya, tentu melalui edukasi, sosialisasi dan fungsi mitigasi di setiap BPBD. Bukan hanya menggenjot fungsi kesiagaan dan ketanggapdaruratan.

Sejatinya, berdamai dengan bencana, meniscayakan kuat dan berperannya fungsi mitigasi. Sekalipun dengan bekerjanya fungsi mitigasi tidak berarti aman kehidupan kita dari bencana. Pasalnya, bencana hanya kuasa Illahi, dan mitigasi hanyalah ikhtiar meminimalisasi dengan mengedukasi publik apa dan bagaimana seharusnya hidup dengan lingkungan berpotensi bencana.

Hanya mitigasi memerlukan dan mensyaratkan adanya sebuah perencanaan dan rencana kontingensi yang terpadu dan terukur, sejak hulu hingga hilir.

Khusus Provinsi Jambi, prioritas pertama tentu pada ancaman bencana banjir, tanah longsor dan erupsi gunung di Kabupaten Kerinci. Ancaman banjir paling nyata. Lokasi geografis di tepi laut memungkinkan siklus cuaca dinamis pemicu ancaman bencana alam.

Langkah mitigasi perlu dilakukan segera, terutama di kawasan hulu sungai. Bentuknya, bagaimana daerah serapan air agar selalu terjaga. Selanjutnya memastikan sepanjang areal DAS Batanghari juga terjaga dan selalu dalam kondisi mampu menampung limpasan air di kala banjir di hulu. Khusus di hilir, sosialisasi harus perlu dikencangkan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved