Rukun Islam

RUKUN Islam Dibolak-balik, demikian headline halaman depan Tabloid Jumat Serambi Ummah No.736

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin

RUKUN Islam Dibolak-balik, demikian headline halaman depan Tabloid Jumat Serambi Ummah No.736 (14-20 Rabi’ul Akhir 1435 H). Pada halaman berikutnya, terdapat ruangan “Ihwal” berjudul: Heboh Rukun Islam Dibolak-balik. Hal ini muncul karena dalam sebuah buku pelajaran madrasah di Kalimantan Selatan, susunan rukun Islam tidak lagi sesuai yang biasa dipahami.

Ketua umum MUI Kalsel, KH Ahmad Makkie BA, meminta masyarakat jangan bingung soal tata urutan rukun Islam. Bila kita merujuk kepada hadits-hadits baginda Rasulullah SAW, kita akan menemukan susunan yang berbeda, yaitu:

Susunan pertama yang sudah populer di masyarakat umat Islam: 1. Syahadatain, 2. Salat, 3. Puasa, 4. Zakat dan 5. Naik Haji. Susunan ini tersebut di dalam hadits Shahih Bukhari dari Ibnu Umar, Nabi SAW bersabda : buniyal-Islamu ala khamsin, imanin billahi warasulihi, wash-salatil-khamsi, washiyami ramadhana, wa ada-izzakati, wahajjil-baiti.

Susunan kedua: 1. Syahadatain, 2. Salat, 3. Zakat, 4. Puasa dan 5. Haji. Hal ini tersebut di dalam hadits riwayat Muslim, yang dinukil oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadh Ash-shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyah, dari Umar RA; bahwa Nabi SAW ditanya mal-Islam? beliau menjawab: Al-Islamu an tasyhada alla ilaha illallaha wa ana muhammadar-rasulullahi, wa tuqimash-shalata wa tu’tiyaz-zakata, wa tashuma ramadhana, wa tahujjal-baita inis-tatha’ta ilaihi sabila.

Susunan ketiga: 1. Syahadatain, 2. Salat, 3. Zakat, 4. Haji dan 5. Puasa. Susunan ini tersebut di dalam hadits muttafaq alaih riwayat dari Ibnu Umar: buniyal-Islamu ala khamsin, wash-salatil-khamsi, syahadati alla ilaha illallaha wa ana muhammadar-rasulullah, wa iqamish-shalati, wa ita’iz-zakati, wahajjil-baiti, washaumi ramadhana. Hadits ini dikutip oleh Anas Ismail Abu Daud dalam bukunya: Dalil As-Sa’ilin, hal.310.

Dalam ketiga hadits ini, rukun Islam pertama dan kedua tetap tidak berubah, namun tiga rukun berikutnya terdapat perbedaan letak atau urutannya.

Sebenarnya seperti yang dikatakan oleh Ketua Umum MUI Kalsel, yang terpenting rukun Islam itu lengkap lima dan dikerjakan.

Bila kita perhatikan ketiga hadits tersebut, barang kali pada hadits pertama urutan-urutan tersebut melihat kepada kemampuan umum umat, sehingga puasa didahulukan dari zakat dan haji.

Pada susunan kedua, zakat didahulukan dari puasa dan haji, menunjukkan pentingnya zakat sehingga tidak terpisahkan salat seperti yang terdapat pada sejumlah ayat suci Alquran, perintah salat selalu bergandengan dengan zakat.

Pada susunan yang ketiga bahkan haji didahulukan dari puasa, hal ini bukan berarti puasa lebih rendah daripada rukun-rukun Islam yang lain. Ungkapan rukun Islam dibolak-balik, barang kali sebuah ungkapan yang tidak perlu diperpanjang, apalagi kalau diberi image negatif.

Demikian, semoga Anda menjadi maklum. (*)

Tags
Fikrah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved