Sebuah Nasihat

ALLAH Maha Pencipta Alam Semesta, Rabb Al-’Alamin. Dia adalah Al-Jabbar yang menampakkan keperkasaan

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin

ALLAH Maha Pencipta Alam Semesta, Rabb Al-’Alamin. Dia adalah Al-Jabbar yang menampakkan keperkasaan dan kegagahan lewat fenomena alam semesta yang diciptakan-Nya. Debu, kabut, angin, air dan api adalah sebagian dari ciptaan-Nya itu.

Allah SWT Yang Mahaperkasa, bisa jadi menampakkan kemurkaan-Nya (ghadab) lewat benda-benda alam itu, sehingga ungkapan: “alam murka”, bagi orang beriman tidaklah tepat. Yang sebenarnya adalah “Allah SWT menampakkan kemurkaan-Nya lewat fenomena alam”.

Meletuslah gunung menyemburkan lahar panas dan belerang yang mematikan, debu dan kabutnya saja kita tidak mampu melawan, sehingga penerbangan pesawat bisa tertunda. Kita tidak sanggup melawan angin, sehingga ketika ia bertiup kencang bisa memporak-porandakan apa saja yang kita miliki dan bila ia mempermainkan ombak di laut, kapal-kapal pengangkut barang tidak berani berlayar.

Kita tidak berani melawan api, sehingga apabila ia bergejolak bisa membakar apa saja yang kita miliki, kita pun lari tunggang-langgang menyelamatkan diri takut terbakar. Kita tidak kuat melawan air, sehingga bila ia turun dengan lebat, banjir menerjang negeri dan kawasan kediaman kita, kita pun tidak mampu membendung apalagi mencegahnya. Dalam penyelamatan kehidupan ini, hanya satu kata: “Dekatkan diri kepada Allah SWT yang bersifat Al-Jabbar”.

Pendekatan diri kepada Allah SWT adalah melalui ibadah harian (sesuai petunjuk-Nya lewat Nabi Muhammad SAW) dan pembersihan diri (tazkiyatun nafs). Adapun program pendekatan diri melalui ibadah harian ialah:

1) Salat fardhu, upayakan di awal waktu, berjamaah di masjid, disempurnakan salat sunat qabliyah dan ba’diyah, plus dhuha, tahajjud dan witir.

2) Istigfar antara 70-100 kali dengan ucapan: Astagfirulllahal Adzim.

3) Selawat minimal 10 x di waktu pagi dan 10 x di waktu sore dengan ungkapan: Allahumma Shalli Ala’ Muhammad.

4) Bacaan Alquran dengan memahami maknanya, serta membaca surah-surah: Yasin (penangkal petaka), Al-Waqiah (pencegah kefakiran), dan Al-Mulk (pengaman di dalam kubur).

5) Doa kebaikan dunia akhirat dan mengamalkan doa-doa keseharian dari bangun tidur sampai kembali ke tempat tidur (ke kamar kecil, berpakaian, bercermin, bepergian, makan minum dan lain-lain).

Adapun pembersihan diri (tazkiyatun nafs) ialah dengan menghindarkan diri dari segala macam kemaksiatan (sekecil apapun) melalui :

1) Pembersihan aqidah dari motivasi selain Allah SWT.

2) Pembersihan hati dari penyakit hati, antara lain AIDS yaitu : (A) ngkuh, (I) ngkar, (D) engki dan (S) erakah.

3) Pembersihan pergaulan dari buruk sangka dan silang sengketa antarsesama.

4) Pembersihan harta dari sesuatu yang haram dan syubhat.

Betapa mirisnya hati membaca berita para caleg yang melakukan ritual untuk kemenangan tidak sesuai yang digariskan agama (Islam), seperti ritual doa dan mandi yang dilakukan di Sungai Tempuk Alas Ketonggo (Srigati), Paron, Ngawi, Jatim (BPost 14/3/2014, hal.1). (*)

Tags
Fikrah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved