Tasbih
MENURUT kalender, Jumat ini kita memasuki Rajab, bulan pernah terjadi peristiwa besar terhadap
Oleh: KH Husin Naparin
MENURUT kalender, Jumat ini kita memasuki Rajab, bulan pernah terjadi peristiwa besar terhadap Nabi Muhammad SAW; yaitu Isra dan Mikraj. Isra adalah diperjalankan Nabi SAW di waktu malam dari Masjid al-Haram Makkah ke Masjid al-Aqsha di Palestina, dan Mikraj adalah dinaikkan beliau dari Masjid al-Aqsha ke langit yang tinggi mencapai Sidrah Al-Muntaha bertemu hadrat Allah SWT untuk menerima perintah salat fardu lima waktu dan diperlihatkan ragam tanda kebesaran Allah SWT.
Kedua peristiwa ini terjadi pada roh dan jasad Nabi SAW, dalam tempo yang relatif singkat, kurang dari sepertiga malam. Isra dan Mikraj terjadi pada tahun duka cita (‘Am al-Huzn), diperkirakan dua atau tiga tahun sebelum hijrahnya beliau ke Yatsrif (Al-Madinah al-Munawarah); pada saat tantangan Quraisy Makkah mencapai puncaknya dan dua orang pembela Nabi SAW meninggal dunia, yaitu Khadijah istri beliau dan Abu Thalib paman beliau.
Menarik, begitu dahsyatnya peristiwa Isra dan Mikraj, terjadi jauh diluar kebiasaan, karenanya Allah SWT mengabadikan di dalam Alquran dengan tasbih yaitu ungkapan subhana, artinya Maha suci Allah.
Selengkapnya terjemahan ayat berbunyi: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjid al-Haram ke Al-Masjidil al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Isra ayat 1).
Bila seseorang bertasbih mengatakan: subhanallah, berarti ia mensucikan dan mengagungkan Allah SWT. Imam Al-Fakhrurrazi mengatakan: “Tasbih adalah suatu ungkapan pengakuan akan kesucian Allah SWT dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.”
Ternyata tasbih adalah pekerjaan alam semesta. Allah SWT berfirman yang artinya: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”(QS al-Isra ayat 44).
Kita disuruh bertasbih di sepanjang waktu untuk mendapatkan kenyamanan hidup. Allah SWT berfirman yang artinya: “… dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang” (QS Thaha 130).
Kita yakin, kondisi sebagian masyarakat kita dewasa ini tidak nyaman, mereka menghadapi kegalauan hidup, terutama saudara-saudara kita yang tidak mendapatkan kursi dalam pemilu legislatif yang lalu. Salah satu cara menghalau kegalauan hidup ialah banyak bertasbih. Mari bertasbih di bulan Rajab ini. Nabi SAW bersabda:
“Barang siapa yang membaca tasbih pada bulan Rajab setiap hari seratus kali, yaitu: sepuluh hari pertama: subahanal-hayyil-qayyum (Maha Suci Dia Yang Maha Hidup Maha Berdiri Sendiri);sepuluh hari kedua: subahanallahil-ahadish-shamad (Maha Suci Allah Maha Esa Maha Tempat Bergantung); sepuluh hari ketiga: subahanallahir-ra’uf ( Maha Suci Allah Yang Maha Pengasih),” akan diberikan ganjaran yang tidak bisa disebutkan berapa banyaknya. (Syeikh Abdurrahman Ash-Shafuri Asy-Syafi’i, Nuzhah Al-Majalis, jilid I hal 152). (*)