Bung Karno Siapa yang Punya?
SAYA tidak pandai membaca wajah orang. Tetapi kalau saya lihat dari samping, Pak Prabowo ini mirip Bung Karno.
Oleh: Mujiburrahman
“SAYA tidak pandai membaca wajah orang. Tetapi kalau saya lihat dari samping, Pak Prabowo ini mirip Bung Karno. Dilihat dari depan, juga mirip Bung Karno,” kata Amien Rais, saat deklarasi capres-cawapres Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa, 19 Mei 2014 lalu. Amien kemudian menyebut pasangan ini ‘Bung Bowo dan Bung Hatta’, mirip ‘Bung Karno dan Bung Hatta’.
Minggu lalu, saya menerima tautan satu artikel di facebook yang diberi catatan ‘great essay, a must read’ (tulisan hebat, harus dibaca). Artikel ini ditulis oleh John Roosa berjudul Soekarno’s Two Bodies (dua tubuh Soekarno).
Roosa berpendapat, dua capres kita, Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi), sama-sama mencoba menampilkan diri sebagai pewaris Soekarno, tetapi dengan cara dan sisi yang berbeda.
Roosa melihat, Prabowo yang berbaju putih, berpeci, dan berpidato berapi-api, menggunakan mikrofon ‘tempo doeloe’, semua ini tiada lain daripada usaha mencitrakan dirinya laksana Bung Karno.
Begitu pula, pusat kampanye Prabowo-Hatta adalah Rumah Polonia, yang disebut rumah Bung Karno. Sebenarnya, rumah ini dulu ditempati salah satu istrinya, Yurike Sanger, yang tentu sering disinggahi Bung Karno.
Prabowo, lanjut Roosa, memandang Bung Karno dalam citra seorang pemimpin kharismatik yang kuat, citra yang ingin dijelmakan dalam dirinya. Ia mengagumi Demokrasi Terpimpin (1959-1966), yang dicanangkan Bung Karno, dan ingin mewujudkannya kembali dalam versi yang baru.
Demokrasi kita saat ini, dinilai Prabowo sebagai demokrasi liberal yang tidak sesuai kebudayaan nasional.
Di sisi lain, bagi Jokowi, identifikasi dengan Bung Karno seolah alamiah, karena ia dicalonkan PDIP, partai yang dipimpin puteri kandung Soekarno, Megawati Soekarnoputri.
Iklan yang menampilkan foto Jokowi dan Soekarno pun ditampilkan. Selain itu, Jokowi menggunakan slogan-slogan politik Bung Karno seperti Trisakti (tiga sakti) dan Nawacita (sembilan cita-cita), yang mengingatkan kita pada pidato Nawaksara Bung Karno.
Roosa benar, pengaruh Soekarno masih sangat kuat di negeri ini. Pada 1966-1978, Orde Baru berusaha mengikis pengaruhnya di masyarakat. Soekarno tidak dikubur di Bogor seperti wasiatnya, tetapi di Blitar, agar jauh dari pusat politik, Jakarta.
Peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni, diganti 1 Oktober sebagai hari kesaktian Pancasila, sementara tulisan-tulisan politik Bung Karno dilarang beredar.
Namun sejak 1978, Soekarno hidup kembali, catat Pierre Labrousse (1993) dalam artikelnya ‘The Second Life of Bung Karno, Analysis of the Myth’ (1978-1981). Pada 1978 pemerintah Orde Baru merenovasi bangunan kuburnya. Puluhan buku tentang Soekarno pun muncul, pameran-pameran juga digelar. Para peziarah kuburnya berlimpah ruah. Namun, beberapa buku tentang Soekarno masih dilarang beredar.
Setelah Orde Baru jatuh, tulisan-tulisan tentang Bung Karno semakin mengalir deras di ruang publik. Apalagi, menjelang akhirkekuasaan Soeharto, Megawati, mulai muncul di panggung politik. Ia seolah jelmaan sang ayah, pemimpin yang dizalimi Orde Baru. Pada Pemilu 1999, PDIP menang. Meski diselingi oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati akhirnya bisa menjadi presiden.
Soekarno ternyata tak pernah mati. Indonesia seolah tak bisa lepas dari genggamannya, meski ia sudah berada di alam baka. Perannya sebagai penggali dasar negara, Pancasila dan proklamator kemerdekaan, memang sangat penting.
Apalagi, ingatan ini terus ditanamkan melalui pelajaran sejarah. Film Soekarno yang dirilis 11 Desember 2013 lalu, tentu semakin mengokohkan ingatan itu di kepala kita.
Namun, apakah Soekarno yang masih hidup itu, adalah Soekarno yang sesungguhnya? Saya kira tidak. Soekarno yang ditampilkan para politisi kita bukanlah Soekarno dalam kenyataan sejarah, melainkan angan dan impian kita tentang seorang pemimpin ideal belaka. Ketika politisi yang hidup tak bisa meyakinkan kita, maka kita pun membangkitkan orang mati dari kuburnya untuk membantu kita.
Mungkin, ini menunjukkan bahwa kita masih kurang percaya diri. Kita masih menengok ke belakang ketimbang benar-benar menatap masa depan dengan berani.
Tetapi, mungkin inilah keadaan kita yang sebenarnya. Jika iklan politik Prabowo mengatakan, ‘Indonesia Bangkit’ dan iklan Jokowi menyatakan, ‘Jokowi adalah kita’, maka kita juga bisa katakan: Soekarno bangkit. Soekarno adalah kita!
Jadi, Bung Karno siapa yang punya? Yang punya kita semua. (*)