Segala Cara

Suasana kampanye Pilpres makin panas. Ibarat perang, sekarang sudah memasuki perang yang sesungguhnya.

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: Pramono BS

SEKRETARIS Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani di depan kadernya di Magelang, Jateng, 21/6/2014 malam mengatakan,” Dengan Cara apa pun Prabowo harus menang. Tidak ada cerita kita harus menunggu lima tahun lagi. Tidak ada cerita kita harus memulai lagi dari awal, tidak ada cerita kalah, kita harus menang.” Orang pun langsung berpikir itu serius.

Suasana kampanye Pilpres makin panas. Ibarat perang, sekarang sudah memasuki perang yang sesungguhnya. Segala senjata berat yang legal atau tidak, seperti senjata pemusnah dan nuklir dikerahkan untuk menumpas lawan. Mungkin ini yang dimaksud Amien Rais sebagai perang badar.

Sofyan Wanandi, seorang pengusaha nasional mengatakan, “Sejak saya jadi aktivis baru sekarang lihat kampanye Pilpres yang menghalalkan segala cara.”

Senjata berupa iklan RIP Jokowi (iklan Jokowi sebagai nasrani meninggal), transkrip palsu pembicaraan Megawati dan Jaksa Agung Basrief Arief, surat palsu Jokowi ke Jaksa Agung, Obor Rakyat yang provokatif, Hitler palsu, pasang baliho Gus Dur yang memuji-muji Prabowo, semua sudah diluncurkan.

Bahkan survei Gallup palsu (lembaga survey paling terpercaya di Amerika Serikat) dipalsu dengan pernyataan memenangkan Prabowo. Terakhir juga ada surat yang konon dari Prabowo untuk para guru. Jangan lupa semua itu sudah dilaporkan kepada yang berwajib, ada yang ke Bawaslu, ada pula yang ke polisi seperti kasus Obor Rakyat yang berisi fitnah terhadap Jokowi.

Begitu pula kasus HAM yang diulang-ulang untuk menyudutkan Prabowo juga sudah dilaporkan. Jenderal (Pur) Wiranto yang ikut mengungkap kasus itu sudah dipanggil Bawaslu tapi dinyatakan tidak bersalah karena itu bukan bentuk kampanye hitam.

Bukan itu saja. Laporan kasus transkrip palsu pembicaraan Mega-Jaksa Agung dan surat palsu Jokowi kepada Jaksa Agung tentang permohonan penundaan pemeriksaan dirinya dalam kasus bus berkarat, juga ditunggu hasil penanganannya. Tapi entah kapan selesainya.

Meski Dewan Pers sudah menegaskan bahwa isi Obor Rakyat bukan produk jurnalistik, tapi polisi tetap terkesan ragu bertindak. Celakanya ‘istana’ baru mau bertindak setelah ada tindakan polisi. Ya,sampai Pilpres selesai belum tentu urusan ini rampung.Seperti diketahui Obor Rakyat diterbitkan oleh salah seorang staf dari staf khusus presiden, Velix Wanggai.

Tapi semua orang istana menyatakan tidak tahu menahu. Kalau Obor Rakyat dibilang tidak ada kaitan dengan istana memang benar karena itu pekerjaan oknum. Tapi kalau istana tidak tahu itu aneh.

**

Kampanye yang santun sudah kita tinggalkan. Bahkan kata santun sudah menjadi bahan lelucon dalam banyak kampanye. Misalnya, korupsi tapi santun, berbohong tapi santun, ingkar janji tapi santun. Pokoknya kata santun sudah tidak tertolong lagi nasib dan derajatnya dalam dunia perkampanyean.

Ternyata memang benar, orang lebih memilih bertindak brutal dari pada santun. Di Yogya barisan pendukung Jokowi-JK bentrok fisik dengan pendukung Prabowo-Hatta.

Di Jakarta tukang parkir di Monas dibakar orang tak dikenalkarena tidak diberi uang. Tidak ada hubungannya dengan kampanye, tapi orang-orang sudah mulai memanfaatkan suasana yang semakin memanas dan cenderung ngawur untuk kepentingannya.

Saya yakin Prabowo dan Jokowi tidak memerintahkan tim suksesnya untuk berlaku di luar kewajaran dalam memenangkan dirinya.

Tapi namanya tim sukses, apapun dilakukan asal menang. Kebetulan baru kali ini hanya ada dua pasangan capres/cawapres, sehingga tidak ada contoh soal yang bisa dijadikan pegangan. Tapi sebenarnya pegangan itu ada, yaitu moral. Bagaimana Indonesia ke depan orang juga sudah bisa menggambarkan sesuai dengan sifat dan kepribadian selama berkampanye.

Sekarang ini rakyat telanjur termakan oleh semangat yang menggebu-gebu untuk mengalahkan lawan. Apalagi setelah Ahmad Muzani menyampaikan pernyataannya di Magelang seperti pada awal tulisan ini.

Secara diam-diam kini rakyat khususnya di Jateng, mulai saling mengingatkan. “Sehabis pilpres sebaiknya tak usah pergi jauh-jauh kalau tidak penting sekali, demi keamanan.”

Semoga Ramadan memberikan keteduhan hati.  Kita hanya berharap, betapa pun kerasnya persaingan, siapa pun yang terpilih, harus diterima secara legawa seperti janji kedua capres.

Kita jauhkan contoh-contoh yang buruk, seperti di Myanmar atau di Mesir, menang pemilu malah dihukum. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved