Sujud Syukur

KAMUS Besar Bahasa Indonesia mengartikan sujud syukur sebagai sujud ketika memperoleh kenikmatan,

Editor: Dheny Irwan Saputra

KAMUS Besar Bahasa Indonesia mengartikan sujud syukur sebagai sujud ketika memperoleh kenikmatan, keberhasilan, kegembiraan, atau terlepas dari kesulitan atau musibah. Sebuah literatur juga mendefinisikan sujud syukur adalah perilaku sujud sebanyak satu kali yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dan dilakukan saat mendapat nikmat/anugerah baru atau terhindari dari musibah.

Jadi, sujud syukur dilakukan dalam dua kondisi. Pertama, ketika adanya anugerah atau nikmat yang baru seperti seseorang mendapat hidayah, masuk Islam, atau umat Islam mendapat pertolongan atau kelahiran anak, dan lain-lain. Kedua, ketika tercegah atau terhindar dari musibah, seperti selamat dari kecelakaan tenggelamnya kapal, jatuhnya pesawat atau selamat dari pembunuhan, dan lain-lain.

Para pemain Tim Nasional U-19 hampir selalu melakukan sujud syukur setelah mencetak gol dan setelah pertandingan usai dengan meraih kemenangan. Pelatih Indra Sjafri dan ofisial tim pun melakukan hal yang sama. Kita bisa menyimpulkan bahwa mereka melakukan sujud syukur sebagai ekspresi keberhasilan dan kegembiraan.

Rabu sore, 9 Juli lalu, calon presiden Prabowo Subianto memberikan pidato kemenangan versi hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei. Ditemani Hatta Rajasa, Aburizal Bakrie, dan Akbar Tandjung, Prabowo kemudian bersujud syukur di depan pendukungnya, di kediaman ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikusumo, di Jalan Kertanegara Nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setelah itu, Prabowo dan anggota koalisi merah putih menyanyikan lagu Prabowo Presidenku.

Hatta Rajasa pun melakukan sujud syukur setelah menunaikan salat Tarawih di Masjid Al-Riyadh, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (11/7) malam, diikuti oleh semua rekan koalisi serta jemaah masjid.

Para caleg dan cakada terpilih itu tampaknya memaknai lolosnya mereka sebagai sebagai sebuah keberhasilan, kenikmatan, anugerah, atau apa pun, yang perlu diungkapkan dalam bentuk sujud syukur dan wajah semringah. Mungkin pula diikuti dengan pesta kemenangan.

Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan para khalifah dan orang-orang setaraf wali. Ketika diangkat menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz menangis terisak-isak. Ia memasukkan kepalanya ke dua lututnya dan menangis sesenggukan. Di dalam tangisnya, Umar mengucapkan kalimat: “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”, lalu berujar, “Demi Allah, sungguh aku tidak meminta urusan ini sedikit pun, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan.”

Terlepas dari apakah kemenangan dalam sebuah pemilihan calon legislatif dan pemilihan presiden perlu ditandai dengan sujud syukur, kita mungkin akan memafhumi jika sujud syukur itu dilakukan setelah KPU mengumumkan hasil penghitungannya secara resmi. Bagaimana kalau belum? Dan bagaimana kalau hasil penghitungan KPU berkebalikan dengan hasil hitung cepat? (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved