Halawatul Ibadah

BEBERAPA hari lagi puasa Ramadan 1435 H berakhir. Alhamdulillah kita dapat melaksanakan ibadah puasa

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin

BEBERAPA hari lagi puasa Ramadan 1435 H berakhir. Alhamdulillah kita dapat melaksanakan ibadah puasa dan ibadah lainnya secara tenang dan nyaman; bahkan di antara kita dengan berpuasa dapat berpuas-puas; sewaktu berbuka dapat menyantap santapan lezat cita rasanya.

Ada Ramadhan Cake Fair, pasar wadai Ramadan yang menawarkan kue-kue langka, menggoda selera sehingga aksi borong bisa terjadi; yang namanya kue bingka (bika, bhs Indonesia) semua dibeli, ada bingka tapai, bingka  kentang, bingka nangka dan telur; kecuali satu yang tidak dibeli karena tidak ada yang menjualnya, yaitu “bingkarungan” (nama sejenis hewan dalam bahasa Banjar).

Berbeda dengan saudara-saudara kita di Palestina, mereka tidak bisa beribadah secara tenang dan nyaman, karena mendapat serangan gencar Zionis Israel yang membabi buta, aksi biadab tanpa perikemanusiaan dengan berbagai dalih pembenaran.

Umat Islam Palestina berbulan Ramadan dengan tetesan darah dan air mata; namun di sela-sela dentuman senjata, pekik takbir Allahu Akbar tetap terdengar di mana-mana sebagai tanda perlawanan yang membaja.

Dalam beribadah, ada satu hal yang perlu dicari, yaitu Halawatul-Ibadah, lezatnya ibadah. Tanpa itu ibadah terjebak pada rutinitas ritual, tanpa roh dan makna, sehingga dirasakan susah dan berat, bahkan menjemukan, lebih-lebih ibadah puasa. Fakta dan data bicara, inilah kebanyakan yang terjadi di antara kita.

Baginda Rasulullah SAW mensinyalir: Berapa banyak orang berpuasa, tidak ada yang didapatkannya kecuali lapar, haus dan rasa capek.

Seseorang dapat menemukan Halawatul Ibadah, antara lain dengan menanamkan rasa dedikasi (pengabdian) kepada Allah SWT dalam menunaikannya; karena dengannya ia telah menunaikan “ibadah fardhu” (kewajiban pokok). Pelaksanaan ibadah fardhu adalah ibadah yang paling utama di sisi Allah SWT; dengannya seseorang dapat merebut ridha-Nya.

Dia berfirman: wa ma taqarraba ilayya ‘abdi bisyai’in ahabbu ilayya mimmaftaradh-tuhu alaihi.” Artinya: Tidak ada taqarrub (pendekatan diri) seorang hamba kepada-Ku yang paling Aku cintai melebihi pelaksanaan apa yang Aku fardhukan kepadanya. (Hadist Qudsi riwayat Bukhari).

Diperlukan lagi adanya pemahaman akan esensi ibadah, seperti puasa umpamanya. Rasulullah SAW bersabda: man shama ramadhana imanan wahtisaban gufira lahu ma taqadama min dzambihi. Maksudnya: Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena iman kepada Allah dan meyakini ganjaran yang akan Dia berikan kepadanya niscaya diampunkan dosanya yang terdahulu (HR. Bukhari Muslim).

Puasa dilaksanakan bukan saja menahan diri dari hal-hal yang membatalkan fisik puasa, tetapi juga menahan diri dari ucapan dan tindakan jelek (maksiat), karena Allah SWT tidak memerlukan puasa seseorang yang tidak meninggalkan ucapan dan tindakan jelek (HR. Bukhari).

Karenanya, seorang yang berpuasa, memuasakan seluruh anggota badannya; mata dari memandang remeh akan nikmat Allah SWT, memandang hina terhadap seorang muslim dan memandang apa yang diharamkan; lidah dipuasakan dari omongan haram berupa ghibah, fitnah, bohong, dan cercaan lainnya; tangan dipuasakan dari berbuat haram, dan kaki dari melangkah kearah yang diharamkan.

Puasa seperti ini membuahkan dampak positif bagi seseorang, yaitu tumbuhnya akhlak mulia yang amat diperlukan dalam kehidupan manusia; ini satu contoh  esensi ibadah yang perlu dipahami.

Ditanamkan pula rasa sabar dalam melaksanakan ibadah. Kesabaran bisa tumbuh karena merasakan, bahwa  perintah berasal dari kekasih yang menyayanginya, itulah Allah SWT. Khusus puasa, ketika berbuka seseorang merasa lega dan syukur karena telah dapat melaksanakan perintah Allah SWT dengan baik, sehingga seteguk air pemuas dahaga begitu berarti baginya; lebih-lebih karena harapannya nanti akan mendapatkan kegembiraan lain ketika bertemu dengan Allah SWT di surga.

Di dalam surga, Allah SWT menyediakan pintu khusus bagi orang-orang yang berpuasa disebut rayyan, mereka dipanggil secara khusus, setelah semuanya masuk pintu pun ditutup. Ini bukan pintu surga, tetapi pintu di dalam surga.

Dia berfirman: inna fil jannati babban yuqalu lahu ar-rayyan. (HR Bukhari Muslim). Penanaman kesabaran dalam beribadah membuahkan kelezatan ibadah. Seorang ulama salaf berkata: Aku bersabar satu tahun dalam melaksanakan tahajud, buahnya aku merasakan lezatnya tahajud selama dua puluh tahun. (Koran Al-Madinah, Arab Saudi, Rabu 2-7-2014 M/4 Ramadan 1435 H). (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved