Pasca Ramadan
PESTA ibadah Ramadan telah usai, ditutup Idulfitri. Momentum seribu bulan telah hilang, yaitu malam Al-Qadar.
Oleh: KH Husin Naparin
PESTA ibadah Ramadan telah usai, ditutup Idulfitri. Momentum seribu bulan telah hilang, yaitu malam Al-Qadar. Apa sebenarnya Lailatul Qadar itu?
Ada yang berpendapat Al-Qadar adalah penetapan, pada malam itu Allah SWT menetapkan perjalanan hidup makhluk selama setahun. Ada yang berpendapat Al-Qadar adalah pengaturan, pada malam itu turun Alquran, Allah SWT mengatur strategi Nabi Muhammad SAW mengajak manusia kepada kebajikan.
Ada yang berpendapat Al-Qadar berarti kemuliaan, karena Allah SWT menurunkan Alquran pada malam yang mulia. Ada yang mengatakan Al-Qadar berarti sempit, pada malam itu banyak malaikat turun sehingga bumi menjadi sempit karenanya. (Al-Qur’an & Tafsirnya, Kemenag RI, Jilid X; hal 730). Terlepas dari perbedaan pendapat ini, yang jelas beramal pada malam Al-Qadar mendapat ganjaran lebih baik dari seribu bulan (QS Al-Qadar ayat 3).
Nabi SAW mencontohkan dan menganjurkan umat agar menyemarakkannya pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadan (Sayyid Sabiq, Fikh Sunnah, Juz 1 hal 398); dengan mendirikan salat, membaca Alquran dan berdoa; bisa jadi sepanjang malam, jika tidak mungkin cukup sebagian besar malam, atau minimal salat Isya berjemaah dan bertekad untuk salat Subuh berjemaah pula. (Hasan al-Kaaf, at-Taqrirat As-Sadidah fi al-Masa’il al-Mufidah, hal. 443).
Beberapa waktu pada zaman dahulu, usai Ramadan sering muncul berita bahwa di suatu tempat ada orang yang mendapat Lailatul Qadar, banyaklah orang mengunjunginya untuk meminta berkah dan “banyu tawar”.
Kita yakin bahwa siapa yang beramal saleh pada malam itu akan mendapatkan nilai lebih, baik dari nilai amal seribu bulan, tetapi tidak berarti harus menyaksikan tanda turunnya lailatul qadar, yang konon bila mendapatkannya menyaksikan keganjilan alam seperti belahnya langit, alam terang benderang, pepohonan sujud dan air membeku.
Sebenarnya yang terpenting, ibadah pada malam tersebut bukan mencari-cari tanda turunnya Lailatul Qadar, karena bila seseorang memang dapat menyaksikan, mungkin ia tidak akan mampu memikul nikmat lezatnya Lailatul Qadar.
Seorang ulama pernah bercerita, ada seseoarang di malam Ramadan keluar rumah untuk berwudhu di sungai, di depan rumahnya. Tiba-tiba saja ia menyaksikan langit belah dan cahaya terang-menderang memancar. Ia yakin, itu adalah Lailatul Qadar. Ia pun berdoa meminta sugih (kaya, bhs Indonesia) tetapi karena kaget keluarlah dari mulutnya kata upih, maka turunlah dari langit upih bertumpuk-tumpuk. (Upih adalah upung buah pinang yang dapat digunakan sebagai alat untuk menampi beras). Cerita ini tentu fiktif belaka, untuk menggambarkan seseorang yang tidak mampu melihat tanda turunnya Lailatul Qadar.
Syekh Abdul Qadir Jailani lain lagi. Di suatu malam di bulan Ramadan, ahli sufi ini keluar rumah. Tiba-tiba saja ia menyaksikan cahaya terang-benderang meliputi alam semesta, dan muncul suara: “Wahai Abdul Qadir, Aku Tuhan-mu, Aku halalkan kepadamu segala yang haram bagi orang lain.”
Syekh Abdul Qadir tertegun, kemudian dia berkata: “Enyahlah wahai laknat.” Seketika itu juga cahaya benderang lenyap dan berganti dengan kegelapan yang luar biasa. Muncul lagi suara: “Wahai Abdul Qadir, kau selamat dari godaanku dengan ketinggian makrifatmu kepada Allah SWT dan kemulian posisimu di sisi-Nya. Dengan cara seperti ini, aku telah mampu menyesatkan tujuh puluhan ahli tariqat.”
Seorang murid syekh bertanya: “Guruku, bagaimana kau tahu bahwa itu adalah iblis?” Syekh menjawab: “Dengan ucapannya Aku halalkan kepadamu segala yang haram bagi orang lain.” (At-Tabaqat Al-Kubra, hal 127)
Nah, siapa tahu mereka yang menyaksikan berupa keganjilan alam meyakini hal itu tanda Lailatul Qadar, padahal tipuan iblis belaka. Kalau memang anda merasa yakin mendapatkan Lailatul Qadar pujilah Allah SWT, selesai…
Selamat puasa enam hari di bulan Syawal. (*)