Bendera Merah Putih

Orang Inggris menyebutnya flag, sedangkan orang Arab menyebutnya alam atau rayah.

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin

APA itu bendera? Bendera adalah sepotong kain segi empat atau segi tiga (diikatkan pada puncak tiang) dipergunakan sebagai lambang negara, perkumpulan, organisasi, dan sebagainya sebagai tanda; bisa disebut panji-panji, demikian tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Depdikbud.

Orang Inggris menyebutnya flag, sedangkan orang Arab menyebutnya alam atau rayah. “Merah-Putih” adalah warna bendera bangsaku. Saat aku di sekolah dasar, kepadaku diajarkan bahwa merah itu berani dalam kebenaran dan mengingatkan bahwa kemerdekaan ini direbut dan dipertahankan dengan tetesan darah, dan putih melambangkan kesucian dan keinginan hidup damai dengan siapa pun.

Pada waktu itu aku merasa biasa-biasa saja, aku belum mengerti arti sebuah bendera. Berpuluh tahun kemudian, aku mendapat kesempatan belajar di Al-Azhar University, Kairo, Mesir. Terkumpullah di situ mahasiswa dari mancanegara. Ada suatu kenangan bagiku, setiap musim panas para mahasiswa dibawa berlibur ke kota Alexanderia di tepi Laut Tengah. Di kota itu ada asrama mahasiswa yang besar bertingkat tiga. Bangunannya menghadap  ke laut dan di puncaknya terpasang 45 buah bendera berbagai negara menandakan ada 45 anak bangsa yang belajar di universitas itu.

Waktu itu musim panas 1974 bertepatan Agustus. Pada suatu senja di kala matahari hampir tenggelam di ufuk Barat, tampak di kejauhan seperti bola raksasa akan jatuh ke dasar laut nan luas tak bertepi. Cahayanya sudah pudar tidak menyengat lagi seakan-akan kecapean karena telah melanglang buana sepanjang hari. Udara terasa sejuk. Angin laut bertiup begitu kencang di laut mempermainkan air hingga menjadi ombak dan gelombang; di udara mempermainkan bendera-bendera yang tiangnya berdiri tegak di puncak asrama tempat kami tinggal.

Bendera itu berkibar-kibar seakan-akan kegirangan. Seorang temanku asal Palestina bernama Arif duduk di tepi pantai membelakangi laut dan menatap asrama dari kejauhan. Ia duduk menyendiri. Aku datang mendekatinya. Kulihat air matanya tampak berkaca-kaca dan wajahnya kelihatan tidak ceria, entah apa yang ada di benaknya. Lalu aku ucapkan salam kepadanya: Assalamualaikum,  dan ia pun menjawab Wa’alaikumussalam.

Aku bertanya lagi: “Saudaraku Arif, mengapa anda duduk menyendiri dan bermuram durja, bukankah kini musim libur, kita bergembira saja.”

Ia menjawab: “Aku sedih melihat bendera-bendera itu,” katanya. “Kenapa gerangan? Bukankah bendera Palestina juga berkibar di antara bendera-bendera itu.” sahutku.

“Betul”, jawabnya ”Bendera Palestina berkibar bersama bendera-bendera dari berbagai bangsa, tetapi ia berkibar tanpa makna karena tanpa negara.

Lihat bendera Merah Putih itu! Itu bendera negaramu, ada negara yang namanya Indonesia. Setelah selesai studi kau akan pulang ke sebuah negara dan negeri yang bernama Indonesia; sedangkan aku, kemana aku akan pulang? katanya; air matanya terus membasahi pipinya.

Aku tidak bisa menjawab. Aku ikut tenggelam dalam kesedihannya. Dari situ barulah aku mengerti apa makna sebuah bendera dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian temanku Arif dari Palestina. Entah di mana ia sekarang? Tentu ia juga sudah tua seperti aku. Apakah ia sudah berketurunan? Aku juga tidak tahu lagi.

Saat ini, barangkali ia dan anak istrinya termasuk di antara para pengungsi Palestina yang terlunta-lunta di tenda-tenda penampungan, atau ia termasuk orang yang dikejar-kejar tentara Israel karena ia berjuang merebut kemerdekaan bangsanya, ataukah ia sudah syahid di antara para syuhada bangsanya.

Di layar televisi, ketika aku menyaksikan tembakan roket Zionis Israel ke wilayah Gaza, serasa-rasa aku menyaksikan sahabatku itu bersimbah darah dan anak-anaknya berurai air mata. Aku tidak bisa membantunya, hanya secuil doa: ”Ya Allah sabarkan mereka dan berikan jalan keluar dari musibah yang berkepanjang menimpa mereka, kami tidak bisa membantu apa-apabuat mereka”

Wahai anak bangsaku, pandanglah bendera Merah Putih itu, ia hanya selembar kain tapi sarat makna. Alhamdulillah, Merah Putih berkibar di alam kemerdekaan; sebelum ia berkibar di gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, jauh sebelumnya ia telah berkibar di padang Arafah, dikibarkan oleh jemaah haji Indonesia yang memberi semangat perjuangan merebut kemerdekaan. (*)

Tags
Fikrah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved