Literasi Media untuk Bangsa Berbudaya
INDONESIA adalah bangsa yang berbudaya. Meskipun definisi budaya itu terlalu luas untuk dijabarkan
Topik Minggu ini: Media Sosial Dijadikan Ajang Fitnah dan Caci Maki
Oleh: Nining Nadya Rukmana Sari SIkom
Mhs Pascasarjana Ilkom Fisipol UGM asal Tabalong
INDONESIA adalah bangsa yang berbudaya. Meskipun definisi budaya itu terlalu luas untuk dijabarkan, namun budaya di sini tercermin dalam sikap, tutur kata serta tingginya toleransi terhadap sesama, bahkan dalam dunia maya sekalipun.
Prihatin sekaligus kecewa rasanya akhir-akhir ini melihat imbas penggunaan media sosial yang tidak tepat guna. Ada yang sengaja mengumpat, menghina dan bahkan mengeluarkan sumpah serapah sekalipun. Lantas, di manakah saat ini wujud bangsa kita yang berbudaya tersebut?
Melihat fenomena ini, sepertinya program literasi media yang hampir mati suri harus segera disosialisasikan kembali. Literasi media merupakan program mendidik masyarakat agar mengonsumsi media tepat guna. Artinya, masyarakat dididik untuk menggunakan path, twitter, facebook dan media sosial lainnya untuk berbagi informasi yang mendidik. Bukan ajang caci maki.
Output yang dihasilkan dari literasi media ini juga telah dipaparkan oleh National leadership Conference on Media Literacy agar pengguna media dapat memiliki kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan pesan untuk lebih efektif dan efisien. Dengan begitu, pengguna media sosial tidak sembarangan menuliskan kata-kata apalagi sampai mengandung unsur SARA.
Oleh karena itu, diharapkan sekali kerja sama pemerintah serta forum komunitas masyarakat, yang peduli untuk saling bersinergi dan bekerja sama dalam mensyiarkan progaram literasi media ini demi mengembalikan wujud bangsa Indonesia yang berbudaya seutuhnya. (*)