Tajuk

Merayakan Pemikiran di Hari Kartini

peringatan Hari Kartini bukan sekadar dengan menggelar fashion show belaka. Namun bagaimana perempuan merayakan pemikirannya untuk didengar

Editor: Ratino Taufik
Tribunnews.com vi net
HARI KARTINI - Dalam sejarah, Kartini menulis, dia ingin perempuan pribumi bebas dari kungkungan tradisi, tapi tak tercerabut dari akar lingkungannya yang ditempati. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - TIAP tanggal 21 April, kita memperingati Hari Kartini. Kini, perjuangan Kartini nyaris sudah terealisasi. Setidaknya dari aspek kesetaraan dari pendidikan, pekerjaan bahkan jabatan. Lihat saja sekarang, tak sulit mencari perempuan yang bertitel tinggi hingga menduduki level tinggi di swasta dan pemerintahan.

Semestinya, memperingati Hari Kartini bukan lagi sekadar simbol dengan menggunakan kebaya. Hal yang diingat, perjuangan Kartini sebenarnya adalah tentang menulis dan pemikiran. Ini jadi simbol bagaimana wanita dikenang dengan tulisan dan pemikirannya, bukan sekadar kecantikan dan busananya.

Jadi, sudah sepatutnya, peringatan Hari Kartini bukan sekadar dengan menggelar fashion show belaka. Namun bagaimana perempuan merayakan pemikirannya untuk didengar, menunjukkan eksistensinya dengan pendidikan dan berkarya lewat tulisan.

Dalam sejarah, Kartini menulis, dia ingin perempuan pribumi bebas dari kungkungan tradisi, tapi tak tercerabut dari akar lingkungannya yang ditempati. Dia tidak ingin berbenturan, melainkan dialog antara adat dan kemajuan, antara iman dan kebebasan melalui pemikiran yang dituangkan dalam tulisan.

Kartini adalah ibu rumah tangga yang bergerak dalam penanya. Dia adalah wanita yang bergerak melalui pemikirannya. Ini menjadi gambaran, emansipasi tak hanya penyetaraan pekerjaan antara perempuan dan laki-laki. Tak mesti ‘Kartini’ itu serbabisa melakukan hal serupa bahkan mengalahkan laki-laki.

Tidak mesti ‘Kartini’ yang berhasil itu digambarkan dengan wanita yang memiliki pekerjaan mentereng, prestasi fantastis atau lainnya. Bahkan, menjadi ibu rumah tangga pun bisa disebut sebagai Kartini jika bisa memberikan terbaik untuk keluarganya dan anak-anaknya. Dia bisa menciptakan masa depan bangsa dengan menghasilkan anak-anak yang mumpuni berkat didikannya di rumah.

Kartini tidak mengajarkan kita untuk lepas dari kodrat dan aturan yang telah ditakdirkan bagi perempuan. Dia mengajarkan untuk terus berkarya meski dalam senyap dan keterbatasan. Dia memberikan makna jika pendidikan dan kemerdekaan pemikiran adalah kunci peradaban.

Bahkan, dalam perspektif Islam, perempuan menjadi sosok penting dalam menjaga ilmu. Islam mengangkat derajat perempuan lewat ilmu atau pemikiran. Lihat saja Aisyah istri Rasulullah SAW, dia dikenal sebagai salah satu perawi hadis terbanyak dan rujukan ilmu fiqih serta sejarah Islam. Ya, sudah bukan waktunya memperingati hari Kartini dengan lenggak-lenggok memakai kebaya di panggung saja, tapi meresapi makna dari pemikirannya. Selamat Hari Kartini. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Iyyaka Na’budu

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved