Pembela Kebatilan
PAGI itu, seorang diplomat Kerajaan Yordania yang bertugas di New York sebagai wakil Kerajaan Yordania
Oleh: KH Husin Naparin
PAGI itu, seorang diplomat Kerajaan Yordania yang bertugas di New York sebagai wakil Kerajaan Yordania di PBB naik taksi menuju kantor tempat ia bekerja. Dalam perjalanan tersebut terjadi dialog antara sopir taksi dengannya.
Sopir taksi bertanya: Apakah tuan berasal dari Israel?
Sang diplomat menjawab: Tidak, saya berkebangsaan Arab dan berasal dari Palestina, Anda siapa?
Ia menjawab: Saya berkebangsaan Amerika dan mencintai Israel; kendati saya bukan orang Yahudi, namun setiap bulan saya sisihkan sebagian dari pendapatan saya untuk disumbangkan kepada dompet dana Yahudi. Tuan-tuan bangsa Arab mengapa bersikeras mengusir orang-orang Israel dari tanah air mereka, coba tuan terangkan sebabnya.”
Sang diplomat tadi menerangkan masalah Palestina yang sebenarnya, dan sopir taksi mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya apa yang diterangkan oleh sang diplomat. Taksi terus meluncur dan akhirnya sampai di depan kantor PBB di mana diplomat itu bekerja.
Sewaktu berpisah, sopir taksi berkata lagi: Tahukah tuan ke mana saya pergi sekarang? Sang diplomat menggeleng-gelengkan kepala tanpa menjawab pertanyaan itu. Sopir taksi menimpali lagi, katanya:
“Saya akan pergi ke kantor dompet dana Yahudi. Saya akan memberikan sumbangan dua kali lipat dari apa yang sudah saya berikan kepada mereka sebelumnya. Tuntutan tuan adalah tuntutan yang benar, dan kebenaran memilki kekuatan yang ampuh sekali bukti-bukti dalam keterangan yang tuan berikan adalah bukti yang benar. Cara tuan memberikan penjelasan menakjubkan saya dan meyakinkan sekali. Oleh karena itu tidak mudah mengalahkan tuan-tuan. Israel tidak akan menang kecuali dengan dana yang berlipat ganda, karenanya kami harus menyumbang berlipat ganda pula.”
Sang diplomat tertegun dan tercengang akan ucapan sopir taksi tadi. Sementara itu taksi meluncur dan menghilang dari pandangan mata. (Harian Asy-Syarq Al-Ausath, London, 4/12/1979)
Apakah yang dapat dipetik dari peristiwa ini? Sopir taksi itu hanyalah satu contoh seorang di antara sekian banyak “orang sana.” Apa sebenarnya yang mereka cari dan mereka bela? Mereka tidak tahu, kebenarankah ataukah kebatilan; tetapi mereka tidak peduli. Mereka merasa berbuat kebaikan.
Demikianlah, sekian banyak buruh dan pegawai di dunia Barat dengan sukarela gajinya dipotong beberapa persen pada setiap bulannya untuk kepentingan agama mereka, meskipun mereka sendiri tidak mengenal agamanya. Gaji mereka dipotong untuk kepentingan gereja padahal mereka sendiri hanya lewat di depan gereja dan tidak masuk ke dalamnya.
Pemotongan itu sudah merupakan tradisi mereka. Mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang benar dan membela kebenaran. Barangkali inilah orang-orang yang disinyalir oleh Alquran: Alladziina dhalla sa’yuhum fil-hayaatid-dunya, wahum yahsabuuna annahum yuhsinuuna shun’a.
Artinya: Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya (QS Al-Kahfi 103-104).
Namun mengherankan, setelah mereka mengetahui bahwa yang mereka bela bukan kebenaran tetapi kebatilan, mereka malah lebih bersemangat. Konon orang-orang nashara menyisihkan sepuluh persen dari pendapatannya, bukan dua setengah persen seperti halnya kita orang Islam membayar zakat.
Alangkah hebatnya mereka, alangkah hebatnya semangat mereka.