Hidayah Islam

UMAR bin Khattab, bergelar Abu Hafsh, mendapat gelar Al-Faruq dari Rasulullah SAW, termasuk satu dari

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin

UMAR bin Khattab, bergelar Abu Hafsh, mendapat gelar Al-Faruq dari Rasulullah SAW, termasuk satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan masuk surga. Umar adalah khalifah kedua, setelah Abu Bakar dan mendapat gelar Amirul Mukminin. Pada masa Jahiliah, ia disegani tetapi juga disenangi.

Umar mengira bahwa Rasulullah SAW hendak menghabisi dan mengusir kaum Quraisy, sehingga ia pergi membawa pedang untuk membunuhnya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah, yang menyembunyikan ke Islamannya; ia bertanya: “Wahai Umar, hendak kemanakah kamu?”

Umar menjawab: “Akan menemui Muhammad SAW dan membunuhnya, karena ia telah membuat keonaran di kota Makkah, menghinakan Tuhan, memisahkan persuami-istrian dan memecahkan persaudaraan”.

Nu’aim berkata lagi: “Sebaiknya kamu kembali ke keluargamu dan luruskan mereka, adikmu Fatimah dan suaminya Sa’id bin Zaid, telah memeluk Islam.” Mendengar hal itu, Umar segera menuju rumah adiknya.

Sesampainya di sana Fatimah dan suaminya sedang mempelajari Alquran dari Khabbab, seorang sahabat. Umar langsung masuk dan memukul adik iparnya dan Fatimah sendiri sampai berdarah. Lembaran Alquran yang dipegang Fatimah terlempar.

Umar mencoba mengambilnya, tetapi dicegah oleh adiknya. Umar marah dan merampas naskah itu, di situ tertulis awal-awal surah Thaaha. Tetapi mengherankan, ketika ia membacanya hatinya berubah lunak dan lembut:

“Thaahaa, Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy, kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al-Asmaa Al-Husna”. (QS Thaaha 1-8).

Setelah membacanya, wajahnya menjadi cerah dan tanda-tanda kemarahan sirna, bahkan ia minta dibawa untuk bertemu Nabi Muhammad SAW. Di depan baginda Rasul, disarungkannya pedang terhunus yang dibawanya, ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku datang menghadapmu untuk beriman kepada Allah SWT dan utusan-Nya.” Pekik takbir menyambut ke-Islaman Umar. (Ensiklopedi Sirah Nabi Muhammad SAW, Kalam Publika, 6 hal 107 dan seterusnya).

Akan halnya Arnoud van Doorn lain lagi. Ia tidak berdiri di depan Rasulullah SAW, tetapi berdiri di depan pusara beliau sambil berurai air mata, katanya: “Saya merasa malu berdiri di depan makam Nabi. Saya pikir kesalahan besar yang telah saya buat dengan memproduksi film tercela itu. Saya berharap Allah SWT akan mengampuni saya dan menerima taubat saya.”

Apa pasal? Masih ingatkah anda, awal 2008, seseorang yang bernama Arnoud van Doorn, politisi Partai Kebebasan Belanda, membuat gempar dunia. Bersama Geert Wilders, ia membuat film berjudul “Fitna” yang menghina umat Islam dan Alquran.

Lima tahun kemudian, tepatnya 27 Februari 2013, van Doorn kembali mengejutkan dunia, lewat twitter ia menyatakan dirinya telah memeluk Islam dan bahkan menunaikan ibadah haji ke Arab Saudi dimana ia berziarah ke makam Rasulullah SAW. Ia mengakui, selama ini ia hanya tahu Islam dari perkataan orang-orang yang membencinya.

Ia habiskan waktu hampir setahun mengkaji Alquran, hadis dan sejumlah referensi tentang Islam, berdialog dengan mereka yang mengerti tentang Islam.

Akhirnya van Doorn  menemukan Islam sebagai sesuatu yang spesial, kendati ia memiliki fondasi agama lain yang dipeluk sejak kecil.

Anggapan selama ini Islam itu fanatik, menindas perempuan, tidak toleren, dan membabibuta memusuhi barat, perlahan sirna. Ia menemukan bahwa Islam cinta damai, 99 persen umat Islam adalah pekerja keras dan pecinta damai. Jika lebih banyak orang mempelajari Islam yang benar, makin banyak orang yang akan melihat keindahan itu. Saya akan memproduksi film baru yang menunjukkan esensi sejati Islam dan kepribadian yang benar tentang Nabi Muhammad SAW. (BPost, 21 Oktober 2013).

Antara Umar dan van Doorn terdapat kemiripan yaitu; menerima informasi yang salah tentang Islam, sehingga Umar hendak membunuh Nabi SAW dan van Doorn menghina Islam dan umatnya, tetapi setelah mendapat hidayah Islam persoalan berbalik seratus delapan puluh derajat.

Allahuma, bukakan hati pembenci Islam dan umatnya untuk mendapatkan hidayah-Mu. (*)

Tags
Fikrah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved