Pelajar Mabuk Tuak

KUMPULAN pelajar berseragam putih abu-abu kedapatan hendak mengonsumsi tuak adalah kabar yang memilukan

Pelajar Mabuk Tuak
Tribun Jabar

KUMPULAN pelajar berseragam putih abu-abu kedapatan hendak mengonsumsi tuak adalah kabar yang memilukan bagi para orangtua dan dunia pendidikan. Betapa tidak, ketangguhan kumpulan generasi penerus bangsa itu mulai runtuh jauh sebelum menerima tongkat estafet kepemimpinan negeri ini. Tuak bukanlah minuman yang menjadikan mereka sehat secara fisik maupun mental. Tapi sebaliknya, tuak yang mengandung alkohol itu akan merusak keduanya.

Kebiasaan pelajar nenggak minuman keras (miras) jenis tuak ini diketahui ketika Polres Cimahi, TNI, Dinas Pendidikan, dan Satpol PP Kota Cimahi menggelar Operasi Kasih Sayang, untuk menjaring semua pelajar yang berada di luar sekolah saat jam pelajaran. Operasi yang dilakukan Selasa (7/10), di wilayah Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat itu, menjaring puluhan pelajar membolos sekolah.

Dalam razia itu, polisi melihat ada siswa yang membuang bungkusan plastik hitam berisi air. Niatnya hendak menghilangkan bukti. Sayangnya, aroma miras bebas mengudara, sehingga tercium oleh polisi. Setelah diintrogasi, polisi akhirnya mendapati mereka kerap minum tuak. Penelusuran polisi menemukan sebuah kios yang biasa dikunjungi pelajar untuk membeli tuak. Kios yang berdiri di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, menyimpan puluhan liter tuak yang tersimpan dalam 5 galon minuman mineral.

Pelajar mengaku membeli tuak seharga Rp 5.000 per liter. Sebelum mengonsumsi, mereka mencampurnya dengan serbuk suplemen. Amankah mengonsumsi miras dengan cara demikian?

Sejumlah catatan kesehatan menyebutkan efek buruk mengonsumsi minuman beralkohol, termasuk tuak. Di antaranya menyebabkan gangguan mental organik. Maksudnya, orang yang biasa mengonsumsi alkohol akan mengalami perubahan perilaku, seperti bertindak kasar, gampang marah, susah konsentrasi, sering ngelantur, dan gampang tersinggung. Fisik pun bisa rusak. Mata juling, muka merah, dan jalan sempoyongan adalah contohnya. Efek buruk lain yang sangat mengkhawatirkan adalah rusaknya daya ingat karena minuman keras dapat menghambat perkembangan memori dan sel-sel otak.

Kebiasaan mengonsumsi miras bisa saja dilakukan para pelajar di tempat lain di Jabar. Dan operasi penyelamatan generasi bangsa ini hanyalah berlangsung sesaat, tak akan memenjarakan pelajar agar berhenti mengonsumsi miras. Lalu bagaimana caranya mengembalikan fitrah pelajar ke bangku sekolah, betah di sana, dan memiliki mimpi untuk membangun bangsa, bukan menjadi sampah masyarakat? Razia diperlukan, tapi yang paling utama adalah keteladanan pada orangtua, guru-guru di sekolah, dan para pemimpin negeri ini.

Bagaimana mungkin mengharapkan pelajar rajin ke sekolah kalau gurunya kerap keluyuran ke mal atau ke pasar. Atau, sibuk mencari pekerjaan sampingan sehingga meninggalkan kelas dan membiarkan anak-anak tanpa bimbingan. Atau berperilaku yang tidak sama seperti yang ditunjukkan di lingkungan sekolah. Beberapa hari sebelumnya, sejumlah guru ditangkap karena diduga terlibat aksi penggelapan mobil rental. Maka, peribahasa guru kencing berdiri murid kencing berlari adalah benar.

Memang hanya sedikit guru demikian. Masih banyak guru teladan yang memberi inspirasi bagi para pelajar. Hanya, perilaku guru-guru menyimpang, seperti pungutan sekolah yang banyak dikeluhkan masyarakat, akan menjadi noda yang merusak susu sebelanga.

Keteladanan para pemimpin tak kalah penting. Kisruh rebutan kekuasaan yang kerap muncul di layar televisi, secara tidak langsung menghancurkan harapan dan semangat pelajar. Keributan itu menguatkan argumen bahwa manusia berpendidikan ternyata tidak ada bedanya dengan preman jalanan yang tak pernah sekolah. (*)

Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved